
Nindi berlari kecil sambil melihat sekeliling, ia masih mencari keberadaan papa mamanya. Lalu ia merogoh ponselnya di dalam tas.
"Tuuuuut....tuuuuut....tuuuuut...." terdengar suara tersambung tapi tidak di angkat. Lalu ia mencobanya lagi.
"Tuuuuut....tuuuut.....tuuuuut....halo sayang...kamu dimana?" tanya mama terdengar dari seberang telephone,
"Mama...kalian dimana sih? kok Nindi nggak lihat ya ma?" tanya Nindi sembari celingukan menatap kesana kemari.
"Kami ada di lantai paling atas sayang...di butik rose, kamu cepat kemari ya nak..." ucap mama.
"Baiklah ma...tunggu disana dan jangan kemana-mana ya..." ucap Nindi dan bergegas menaiki lift menuju mama dan papanya berada. Meskipun ada tangga berjalan, namun Nindi memilih lift agar cepat bisa sampai. Setelah keluar dari dalam lift, Nindi mencoba mencari butik rose yang disebutkan mamanya tadi di telephone, ia menatap ke semua penjuru, dan akhirnya terlihat mama sedang duduk di sofa di dalam butik.
"Mama...papa..." sapa Nindi saat sudah berada di dekat keduanya.
"Sayang...sini...ayo pilih...kamu mau pakaian yang seperti apa untuk bekerja besok?" tanya mama pada anak gadisnya. Kebetulam saat itu papa Rendi datang dengan membawa setumpuk pakaian untuk putrinya. Lelaki itu memilihkannya sendiri disana.
"Sayang coba semua gih...kalau kamu suka...ambil semua." Ucap Rendi saat itu.
"Pah...dulu kayaknya aku juga nggak kamu perlakukan kaya gini deh..." ucap Anin yang terlihat sedikit cemburu.
"Helleh sayang...cemburu sama anak sendiri..." canda Rendi yang mampu membuat sang istri tersenyum.
"Sudah-sudah....ayo sayang coba semua." Pinta mama. Lalu membuat Nindi segera melihat semua pakaian yang papanya bawa tadi.
"Kayaknya...papa nggak ngambilin buat aku deh ma...ini ni lebih ke selera mama kayaknya sih...bener nggak sih pah? ini kan pantasnya seusia mama pah." ucap Nindi begitu saja, karena memang papanya selalu ingat selera istrinya itu saja.
"Helleh...sama saja bohong dong pah...gimana sih...kirain beneran mau ngambilin baju untukku!" gerutu Nindi.
"Oh...maaf sayang...papa nggak tahu seleramu...yang papa tahu cuma selera mamamu..." ucap papa jujur. Lalu Nindi pun berlalu pergi mencari-cari pakaian yang ia sukai dan yang menurutnya pas di tubuhnya. Satu jam sudah...mama dan papa menunggu duduk di sofa dalam butik. Nindi keluar dari kamar ganti dengan tiga stel pakaian yang di rasa pas untu selera dan untuk kerjanya. Nindi melongo seketika sambil melotot tidak percaya...saat menatap mamanya yang sudah siap dengan tujuh tas pakaian ditangannya.
"Ya kali ma...katanya ngantar belanja aku...aku cuma dapat tiga mama dapat tujuh, gimana sih, aaakkkh...." gerutu Nindi saat itu.
__ADS_1
"ayo kalau kamu mau tujuh, sepuluh, semua juga nggak apa-apa sayang...kan mamamu ada yang nyarikan tadi...makanya...cari pacar sono..." canda mamanya lagi.
"Nyari pacar? kok enteng banget mama bilangnya, emang di kolong meja ada?" gerutu Nindi dalam hatinya.
"Nindi nggak mau cari pacar...Nindi suka sama mama dan papa saja begini di manjain kalian berdua." Ucap Nindi sambil nyelonong membelah duduk di tengah-tengah papa dan mamanya saat itu.
"Oke...oke...sudah selesai...mari kita keluar cari restoran yang enak..." ucap papa Rendi. Lalu papa beranjak dari duduknya untuk membayar pakaian anak dan istrinya.
"Ayo sayang..." ajak papa Rendi saat papa sudah menyelesaikan pembayaran di kasir butik. Ketiganya berlalu pergi menuju lantai paling bawah mall. Rendi sedikit celingukan saat sudah turun dari tangga berjalan.
"Ada apa pah? nyari siapa? anak ganteng tadi ya?" tanya mama pada suaminya.
"Iya...dia kemana ya? akh sudah lah...mari kita lanjutkan sayang..." ucap Rendi pada sang istri. Dan ketiganyapun berlalu pergi menuju ke mobil yang di tuju di parkiran mall tersebut.
Setelah setuju dan sepemikiran dengan Restoran yang di tuju. Rendi mengendarai mobil berlalu pergi keluar dari parkiran dan area mall menuju jalan besar berdesakan dengan kemacetan. Untung tadi mama sudah sempat belanja camilan...keripik kentang kesukaan papanya itu.
Nindi menikmati camilannya, tanpa sadar matanya menatap ke luar jendela. Ia melihat sosok yang mungkin ia kenali saat itu.
"Ah...nggak mungkin lah itu dia...masak iya naik mobil bagus gitu." Guman Nindi.
"Ada apa sayang? kamu ngomong sendiri nak?" tanya mama pada anak gadisnya.
"Mama...nggak ada apa-apa kok ma..." balas Nindi. Mobil akhirnya sampai di Restoran Jepang ternama di Kota tersebut. Rendi berhenti tepat di depan Restoran, karena Nindi suka makan hot pot ala Korea itu. Ketiganya turun dari mobil tersebut dan berjalan memasuki Restoran. Terlihat sepi dari luar, namun begitu ramai ternyata di dalam. Apa lagi pas musim hujan seperti saat itu yang begitu dingin, karena saat masuk kedalam Restoran langsung udara berganti begitu hangat.
Rendi beserta istri dan anaknya duduk di bangku paling pojok. Hanya sebentar saja memesan dengan cepat pesanan sudah datang, namun masih dalam keadaan mentah, semua benar-benar mentah...satu tungku dengan isi kuah dua macam warna dan rasa, satu keruh satunya lagi bening. Dimeja terhidang berbagai macam rempah-rempah bumbu hot pot, beberapa macam jamur, pakcoy, beberapa macam daging sapi, dan sayuran lainnya, bakso, ikan, udang dan masih banyak lagi.
Lalu semuanya di rebus di masukkan ke dalam tungku yang sudah mendidih kuahnya itu. Saat itu adalah bagian yang paling Nindi suka. Setelah di rasa semua sudah matang...lalu perlahan ketiganya menikmati makanannya tersebut.
Satu jam kemudian makanan di depannya sudah habis, terlihat semua puas dan kenyang saat itu.
"Ayo...sayang-sayangnya papa mau makan apa lagi?" ucap papa menawari.
__ADS_1
"Sudah pah...ayo pulang...Nindi kenyang ni..." ucap putri cantik Anin dan Rendi itu.
"Kamu ini terlalu kami manja...sampai tergantung sama kami begini sayang..." ucap mama. Memang sejak bayi...Nindi hanya mengenal tangan mama dan papanya saja, tanpa bantuan pengasuh atau siapapun, bi Ani dan bi Ana hanya sesekali saja menunggui saat Anin sedang ke kamar mandi atau makan. Jadi benar-benar putrinya sangat kolokan.
Rendi berdiri terlebih dahulu menuju kasir, ia membayarnya lalu memberi isyarat tangan yang melambai pada istri dan putrinya itu. Dengan segera keduanya beranjak berdiri dan berjalan menuju ke arah Rendi, mengekor di belakang Rendi.
Ketiganya berjalan menuju tempat parkir mobil. Semua sudah masuk dan Rendi mulai menyalakan mesin mobilnya,
"Pah...tunggu...tas aku ketinggalan...aku ambil dulu ya pah..." ucap Nindi yang baru menyadari jika ia lupa membawa serta tasnya tadi. Ia lalu turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju pintu Restoran kembali.
Saat ia masuk...terlihat sosok yang ia kenal dari belakang punggungnya, tapi segera gadis itu menepisnya, karena menurut Nindi tidak mungkin...masak ia kenalannya itu berada di Restoran mahal seperti itu. Lalu Nindi hanya melewatinya begitu saja, melewati sambil menyalip orang yang kelihatannya baru masuk itu.
"Hey...si seratus lima puluh!" ucap Arga seketika. Dan dengan cepat Nindi berbalik menoleh ke arah sumber suara. Karena ia merasa kenal dengan suara tersebut.
"Kau! kenpa kau bisa di sini?" tanya Nindi segera.
"Nah kau juga kenapa disini?" tanya Anrga balik yang lagi-lagi mengulangi kata-kata Nindi.
"Makanlah...!" balas Nindi.
"Samalah...!" balas Arga. Yang mampu membuat Nindi memanyunkan bibirnya.
"Dan lagi...aku bukan si seratus lima puluh yang kau sebutkan itu ya!" ucap sewot Nindi segera. Ia pun berlalu menuju bangku yang tadi ia tempati dan mengambil tasnya yang ketinggalan di sana.
"Hey...kau kenapa jadi ketus padaku?" tanya Arga pada gadis itu. Karena se umur-umur tidak ada wanita yang mampu menolak pesonanya tersebut.
"Suka-suka lah...kepo banget sih." Ucap Nindi yang masih dengan nada sewotnya disana.
"Sepertinya dunia ini milikmu...hingga dimana tempat yang aku datangi selalu ketemu sama kamu ya si belel." Ucap Nindi dan berlalu pergi begitu saja.
"Woe...aku bukan si belel ya...dasar cewek seratus lima puluh!" dengus kesal Arga yang lagi-lagi baru menyadari oanggilan baru dirinya yang gadis itu sebutkan.
__ADS_1
"Kalau kita ketemu lagi, berarti jodoh. Kita bakal impas cewek seratus lima puluh ribu." Ucap dalam hati Arga saat itu sembari menyunggingkan senyum tipis diujung bibirnya.