
dua jam kemudian kakek sampai di tempat anin dan rendi,
"nak bagaimana keadaanmu?cicitku??"tanya kakek.
"kami baik-baik saja kek...kami selamat..."
ucap anin lalu menatap ke arah rendi yang sedang menimang puteri kecilnya itu.
seketika rendi pun menghampiri kakeknya dengan cicit di gendongannya itu.
"cicitku,"
ucap kakek dengan elusan di pipi lembut puteri kecil cucunya.
"rend...sudah kamu tetapkan siapa namanya?"
tanya kakek ingin tahu.
"belum kek...kami masih mencari nama yang tepat untuk puteri kami kek..."ucap rendi.
"kak...bagaimana jika nindi kak?singkatan anin dan rendi...itu pun kalau kak rendi setuju,"ucap anin seketika.
"tentu sayang...aku setuju,"langsung sahut rendi.
"baiklah...nindi wijaya..."ucap kakek mantap.
"sayangku...puteri kecilku...sekarang namamu nindi wijaya ya sayang..."ucap rendi dengan bahagianya.
sudah seminggu anin di rumah sakit,kini ia benar-benar sudah pulih benar,dan sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang menangani persalinannya itu.
dan dua hari yang lalu...kakek mengadakan syukuran besar-besaran,namun seperti biasa...hanya melibatkan ratusan anak-anak yatim...orang panti jompo...dan orang duafa atau tidak mampu,
dan rendi pun sama...ia menyumbangkan banyak pada masjid dan badan amal di berbagai daerah,
serta acara aqikahan yang langsung di sebarkan untuk anak-anak yatim dan tetangga.
begitulah acara lima hari setelah nindi keluar ke dunia,
di sambut suka cita seluruh keluarga.bahkan anin dan rendi turut membagikan kebahagiaan mereka bagi mereka yang membutuhkannya.
kini waktunya anin dan nindi puterinya untuk pulang ke rumah pertama kalinya,
anin yang menggendong nindi,rendi serta bi ani ikut masuk ke dalam mobil.
"sayang...kamu tidak ambil pengasuh buat nindi kecil kita?"
__ADS_1
tanya rendi pada istrinya yang sedang berada di sampingnya dengan menggendong buah hati mereka.
"kenapa kak?aku ingin ia selalu mendapatkan perhatianku kak...jadi aku tidak butuh pengasuh kak...jika waktu aku tinggal makan atau ke kamar mandi kan ada bibi yang bisa jagain sebentar kak..."ucap anin.
"baiklah sayang jika itu maumu...aku tidak bisa memaksamu...tapi jika kau kewalahan...bilang ya...jangan jadikan aku suami terjahat di muka bumi ini,"
ucap rendi,yang tanpa sadar bibi pun ikut tersenyum malu mendengar nya.
mobil melaju dengan lengang nya sore itu,
sesaat saja sudah memasuki halaman rumah rendi,
di depan pintu kakek sudah menunggu dengan bi ana pak totok dan mang ujang,
neta dan suami tidak bisa ikut menyambut karena neta sedang hamil muda dan malah tidak bisa bangun.
setelah semua masuk ke dalam rumah...seketika pula hujan turun dengan deras nya,
nindi kecil menangis di gendongan mamanya,
lalu anin mendekap hangat nya dan sesekali mengayun-ayun...dan nindi kecilpun berhenti menangis lalu tidur dengan pulas nya lagi.
semua yang melihat pun terpana,apa lagi si rendi,ia takjub melihat istrinya yang begitu tenang dan cekatan menenangkan buah hati mereka.
"sayang kamu capek?mau aku gantikan gendong nindi kecil sayang?"ucap rendi sembari mendekat ke arah istrinya
ucap anin lalu di balas senyum rendi,
anin memasuki kamarnya dengan menggendong puterinya,terlihat dari jendela besar hujan turun dengan deras nya.
tiba-tiba rendi datang membawa sepiring nasi dengan ayam bakar serta sambal goreng hati ayam,
tidak ada sambal di sana.
"sayang...aku ke meja makan adanya lauk ini sama urap-urap pedas,jadi ya...aku ambil ini saja ya...kamu kan tidak boleh makan pedas sayang...nanti biar di masakkan daging dan ikan laut sama bibi,"ucap rendi menerangkan.
lalu rendi pun mengajak istrinya duduk di sofa,tidak lupa rendi mengganjal bawah gendongan puterinya itu.
jadi membuat anin begitu terbantu.
"aku suapi ya sayang..."
ucap rendi dengan sesuapan yang menempelkan ke bibir istrinya.
dan anin pun langsung menerima suapan suaminya itu dan mengunyah nya.
__ADS_1
lima belas menit kemudian,piring yang berisi itu tadi langsung habis isinya tidak tersisa,
"nah...habis makan...minum obat dan vitamin nya ya sayang...nanti satu jam lagi...baru minum susu untuk ibu menyusui,"ucap rendi di depan wajah istrinya itu,
rendi mengambil obat dan segelas air untuk istrinya dan membantu meminum kannya,
"kak...bantu aku berdiri...aku akan tidurkan nindi di box bayi,"ucap anin pada suaminya,
lalu perlahan-lahan rendi membantu istrinya itu untuk berdiri dan berjalan menuju box bayi di sebelah ranjang nya,pelan-pelan anin meletakkan nindi di sana,lalu tirai kelambu itu di tutupnya.kini ia aman dari nyamuk,
"sayang...kamu capek ya?buat istirahat ya..."ucap rendi.
"kak rendi juga selalu begadang nunggui kami...pasti letih capek,mari tidur sama-sama kak..."pinta anin.
"cup,"kecupan mendarat di pipi isterinya,
lalu rendi mengangkat dagu istrinya perlahan dan "cup,"
sekali lagi kini ciuman mendarat di bibir nya.
"ayo sayang kita istirahat,"ucap rendi lalu memapah istrinya menuju ke ranjangnya dan menidurkannya di sana,tidak lupa ia pun menyelimutinya,
"mari kita istirahat sayang...sebelum nindi kecil terbangun lagi,"ucap rendi yang langsung bergegas nenuju ranjang kosong samping anin.
hujan masih deras mengguyur dan sesekali angin kencang membuat pepohonan di luar meliuk seakan menari.
rendi memeluk tubuh istrinya dan tertidur lelap.
tanpa terasa tangisan nindi kecil itu melengkin dan memekakkan telinga,dan dengan sigap rendi terbangun lebih dahulu mengambil puterinya dari box bayi lalu menggendongnya ke arah anin.
anin yang terduduk di pinggir ranjang itu pun menerima nindi kecil lalu mulai me yusuinya,dan seketika pula nindi kecil langsung terdiam dan meminum asi dengan khidmat nya.rendi pun hanya menatap keduanya dari samping dan tanpa terasa saat anin melirik suaminya,
ia tertidur meringkuk disana.
"apa aku egois jika aku mau merawat putriku sendiri tanpa pengasuh?namun sepertinya suamiku lebih berperan,ia malah yang begitu khawatir pada kami,kasihan nya kamu sayang..."ucap anin saat melihat suaminya lagi.
"aku makin sayang padamu suamiku..."
ucap anin dalam hatinya,
dan sebentar saja nindi kecil pun terlelap lagi,
anin menidurkannya dekat suaminya,lalu ia pun turut berbaring di sampingnya, dengan menggenggam tangan suaminya dan puteri kecilnya di tengah keduanya,
di luar jendela kamar,masih deras air hujan yang mengguyur,
__ADS_1
ketiganya terlelap dengan suasana hangat yang menyatu antara sepasang suami isteri dan di tambah lagi buah hati mereka yang baru menghirup udara nyaman saat turun hujan yang pertama kali baginya itu.