Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
cerita lalu


__ADS_3

setelah pemeriksaan usai...dokter memberinya resep vitamin dan susu yang terbaik untuk ibu hamil,


lalu anin dan rendi berpamitan pada dokter dan perawatnya,


di eskalator turun anin melihat ada seorang nenek yang kesulitan menaiki eskalator rumah sakit.


tanpa sungkan, anin menghampiri nenek tersebut,


"nek...apa nenek perlu bantuan??"tanya anin lembut pada nenek tersebut.


"bisakah bantu nenek naik tangga nak??nenek hendak mengunjungi cucu nenek yang sakit, tapi nenek kesulitan menaikinya,"


"nenek bisa naik tangga??"tanya anin dengan menunjukkan tangga pada nenek tersebut.


"oh...tangga nya ada disana...kemarin nenek juga di ajak lewat sana oleh anak nenek,tapi sekarang lupa..."


kata nenek sambil tertawa terkekeh,


"terimakasi nak...nenek bisa sendiri,"


ucap nenek sambil berlalu.


rendi yang memandangi istrinya dari kejauhan pun semakin sayang pada istrinya karena sikapnya yang suka menolong.


rendi teringat dulu...waktu pertama kali rendi bisa sampai terpesona saat istrinya menolong nenek-nenek pengemis dan yang tertabrak lari,


"istri bodohku,sudah tahu dia sendiri dalam kesulitan...nekat jadi pahlawan..."ucap rendi tanpa sadar,lalu senyumnya mengembang.


tatapan anin dan rendi bertemu sesaat,dengan senyum tipis menghiasinya,


rendi datang menghampiri istrinya,mencubit gemas pipi nya,


"mungkin...saat itu...perasaanku sudah tumbuh untukmu,namun aku terlambat menyadarinya,"


ucap rendi tiba-tiba,


anin yang mendengar ucapan suaminya hanya mengkerutkan dahinya,


mencoba mengerti yang di ucapkan suaminya,


"tuk," lalu terdengar anin mengaduh karena sentilan ringan di keningnya,


"dulu...kau menolong nenek-nenek yang kena tabrak lari kan..."ucap rendi.

__ADS_1


lalu anin memicingkan matanya,mencoba mengingat,


"ooohhh...jadi yang membayar tagihan pengobatan itu kak rendi ya??"tanya anin seketika.


"tentu saja...kamu kira siapa yang rela membayar untuk sesuatu kejahatan yang tidak di lakukannya,"


ucap rendi yang penuh wibawanya.


anin hanya tersenyum bersyukur,


rendi tidak tahu, mungkin saat itu pula anin tiba-tiba menyukai orang yang rela menolongnya,


disamping orang yang sudah rela melunasi semua hutang-hutang keluarganya.


"ayo...aku lapar kak..."


kata anin sambil tangannya melingkari lengan suaminya,menggandeng nya keluar rumah sakit.


sesampainya di parkiran,


"aku mau makan sate kak...yang di tempat pak mad,"


ucap anin,sejenak rendi mengkerutkan alisnya yang tebal,


"itukan tempat gilang,jangan kesana...ke tempat lain aja,,!"


"aku maunya makan disana kak...."


rengek anin pada suaminya,


"belum buka."ucap rendi.


rendi mencoba masih mencegah istrinya untuk kesana.


anin terdiam lalu masuk ke dalam mobil,memakai sabuk pengamannya,duduk terdiam dengan seribu bahasanya.


rendi yang melihat sikap istrinya itu lalu mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.


"sial",katanya yang tidak di dengar anin.


"istri ngidam minta ke warung musuh bebuyutan uuugh...."


keluhnya yang hanya ia yang tahu.

__ADS_1


rendi masuk ke dalam mobilnya,


"baiklah kita makan sate disana...aku juga kangen ati gorengnya...sama gule nya,"


kata rendi yang sedikit di tekannya.


anin yang mendengarnya pun langsung tersenyum ceria,berbalik seratus delapan puluh derajat dari yang tadi.


"uuuggghhh....selamat,"yang ada di pikiran rendi.


mobil melaju menuju tempat yang di inginkan anin.


sesaat mobil berhenti si samping warung...


dari luar warungnya terlihat sangat ramai...


"kak...cepat kesana...ngantri...aku tunggu disini...disana panas,kalau sudah dapat tempat...nanti aku akan ikut kesana,kakak semangat ngantrinya ya.."ucap anin menyemangati suaminya.


"seumur umur baru kali ini nih di kerjain istri."


gumamnya dalam hati.


rendi memasang senyum palsunya yang mengembang.


"untung cantik,"lagi-lagi rendi ucapkan.


"oke...mari kita bertempur dengan panas..."


sambil berjalan ikut berjejal mengantri.


"di ajak ke restoran tinggal duduk manis,mau sate juga ada...eh...malah nguji kesabaran suami sampai begini banget,Rendi wijaya ngantri...apa kata anak buah jika kepergok.. pasti turun pamor ku,"


desah rendi yang penuh dilema,namun akhirnya tetap ngantri juga.


di warung sate pak mad memang begitu laris...pembelinya banyak dari penjuru kota,


disana banyak aneka sate...satenya macam macam,sate ayam,kambing,sapi,bahkan sate kuda,sate jerohan,gajihan,


dan pelengkapnya gorengan usus,gorengan ati,paru,


semua lengkap...tinggal pilih...dan harganya pun merakyat...sangat murah menurut rendi.


anin yang terbiasa hidup pas pasan bahkan cenderung kekurangan,

__ADS_1


dulu bahkan tempat ini tergolong mewah untuk anin,karena tidak setiap minggu ia bisa membelinya.


hingga sekarangpun anin terbiasa tidak menghambur-hamburkan uang yang di beri oleh suaminya.


__ADS_2