
anin dan rendi dengan senang menaiki mobil nya membelah jalan yang macet kadang lengang.
macetnya ya gara-gara lampu menyala merah...
"huuufh....kak aku lapar...ayuk kita beli apa gitu buat makan siang...di mobil aja...kamu yang nyetir...aku yang suapi...gimana?"
tanya anin pada suaminya.
"hemmmz...mau makan apa si yank?jangan makan di mobil...tidak nyaman sayang...makan ya langsung di tempatnya dong..."
ucap suaminya.
"lalu...kita makan apa dong kak?"
tanya anin lagi...
"kamu pingin apa si?"
tanya balik rendi.
"apa aja deh yang ada di pinggir jalan juga boleh...malah lebih enak dan puwas kak...bukan di restoran mahal dan cuma puwas di lidah tapi kurang di kunyah kak..."
kata istrinya yang membuat rendi manggut-manggut.
sejak rendi punya istri...dia jadi keranjingan untuk beli makanan pinggir jalan...karena rasanya enak juga puwas...irit di kantong...
"baiklah...kayaknya di depan ada rest area deh yank...nanti kamu pilih sendiri makanannya...sambil lihat pemandangan yang indah..."
ucap rendi...
"kak rendi yang bener?hapal banget si sama tempat nya...udah pernah kesini sama cewek ya?"
tanya anin penasaran.
__ADS_1
"udah sering lah kesini sama cewek...nginep bermalam...beberapa hari...aku cukup bahagia...bahkan merindukannya lagi."
ucapan rendi yang membuat wajah istrinya itu menjadi sangat sedih...sediih hingga membuang muka menatap ke jendela luwar,
dan tanpa ia sadari lelehan hangat sudah menetes yang sesekali di sekanya.
rendi hanya melongo menatap istrinya yang akhir-akhir ini tidak bisa di ajaknya bercanda itu.
"hey sayank...kamu kenapa nangis lagi...melow lagi...galaw...lagi...ihhh...aku pingi banget memakanmu..."
ucap rendi.
namun tidak di hiraukan istrinya itu.
"aku kesini dengan almarhum ibu...dan almarhum nenek...
aku bahagia...tidak boleh kah aku merindukan saat-saat itu sayang?harusnya aku yang menangis karena aku yang punya kenangan indah itu yang tak mungkin aku lupakan,kenapa malah kamu yang mewakili tangisku sayang?"
ucap rendi.
anin meraih lengan suaminya...lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
mengusap-usapnya...
"yank aduh...kemejaku kotor kan kena ingus ni pastinya,"
ucap rendi yang membuat senyum di bibir istrinya itu.
"kamu si....aku kira cewek siapa yang sering kamu ajak nginep di sini."
ucap anin pada suaminya.
"harusnya kamu itu tau...suamimu ini megang cewek juga baru kamu...kok ya bisa-bisanya mewek saat aku bilang rindu tempat ini."
__ADS_1
ucap rendi.
"maafkan aku suamiku...."
dengan nada yang aduhai...
rendi masih bisa menahan perasaan nya...
"istriku....kamu mau mencoba di dalam mobil mungkin?"
tanya rendi dengan lirikan mautnya.
"baiklah-baiklah...lanjut kak rend...aku benar-benar lapar saat ini..."
ucap anin.
rendi hanya menatap istrinya itu dengan menelan ludah,
"godaan dunia untung saja kamu sayang...karena aku tidak bernafsu dengan siapapun kecuali kamu,"
ucap rendi dalam hatinya.
jalanan menuju villa di puncak cukup lengang...rendi berhenti tapat di rest area pinggir danau...anin dan rendi pun turun dari mobilnya menuju danau yang di tujunya...seketika mata anin terbelalak menatap saung-saung cantik untuk para pengunjung yang hanya sepasang itu.
tanpa sadar anin langsung duduk lesehan di saung tersebut...ia menatap indahnya danau dari atas ia duduk...sejauh mata memandang anin takjub...sangat indah...mempesona..saung bambu yang tersusun tertata rapi.dengan sekat bambu sebatas lutut orang dewasa yang di anyam rapat...sedangkan atasnya di beri sekat lagi setinggi pinggang orang dewasa.hingga aman saat membawa anak kecil sekalipun.
dengan mata yang bebas memandang menikmati pemandangan.
"kak...indah nya...disana ada danau dan perahu nelayan kak...lihatlah..."
ucap anin dengan girangnya.
"kamu senang sayang...aku juga sama..."
__ADS_1
ucap rendi yang baru duduk setelah memesan makanan,karena dari tadi istrinya sudah terlena dengan pemandangan dan lupa lapar perutnya yang di keluhkan sepanjang jalan.