Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
KILAS KENANGAN YANG MENYENANGKAN


__ADS_3

Tanpa terasa sudah satu minggu Nindi keluar dari kantor Arga...sehari setelah kejadian itu...Rendi menyuruh orang untuk mengirim surat pengunduran diri Nindi yang tidak harus gadis itu berikan sendiri.


Tanpa terasa Arga hampir setiap jamnya selalu melewati Divisi dimana Nindi selalu membuat masalah, entah Arga sedang ingin mengenangnya...atau Arga tiba-tiba saja menuju Divisi itu begitu saja tanpa ia sadari.


Sore itu...Arga begitu merindukan Nindi...ia menyempatkan waktu untuk datang ke bukit cinta seorang diri...dimana ia ingin mengenang saat-saat bersama dengan Nindi.


Arga tidak bisa menembus pertahanan Rendi di rumah, Arga tidak mampu membuat Nindi keluar atau hanya untuk menatapnya dari jendela rumahnya.


Arga hanya bisa mengenang saat-saat indah itu. Karena Arga sudah berjanji, maka bagaimanapun luka hati Arga karena merindukan gadis itu...ia tidak mampu berbuat apa-apa lagi...hanya bisa mengenang.


Dibangku kosong pinggir bukit itu...dimana keduanya duduk berdua malam itu...ia duduk termenung sendiri,


sesekali ia menatap layar ponselnya yang ada foto Nindi tertidur dalam dekapannya dan Nindi dengan rambut acak+acakannya ketika keduanya menginap di villa. Ia tersenyum lalu terisak, tersenyum namun air matanya tak bisa di bendung, sesekali tangannya menyekanya. Kedua tangannya menyangga, menopang kening dan dahinya, ia terdiam disana dengan mata terpejam.


"Dddddrrrrttt....ddddrrrttt...." ponsel Arga bergetar, terdapat panggilan masuk di sana.


"Halo Jo...ada apa?" tanya Arga dengan suara paraunya.

__ADS_1


"Halo Ga...kamu nggak kenapa-napa kan?kenapa kamu akhir-akhir ini susah di hubungi? ngilang begitu saja sih?"


tanya Johan dengan penasarannya.


"Aku sedang sibuk Jo...kalau nggak ada yang penting...aku tutup dulu." Ucap Arga dengan nada serius.


"Eeeeh....kamu tu ya...mau aku ajak diskusi nggak ada...eh...sekarang mau ngilang lagi...akhir minggu nanti ke hotel Galaxi...aku nikahan Ga...kamu harus hadir ya..." ucap Johan pada Arga.


"Iya aku akan hadir Jo...maap aku nggak ada saat kamu butuh teman." Ucap Arga lalu mematikan sambungan telephonenya.


"Nek...sini..." ucap Arga sambil melambaikan tangannya kearah nenek.


Lalu nenek itu pun datang menemui Arga.


"Iya nak...ada apa? mau bunga mawar...tapi...pasanganmu mana?" tanya nenek itu.


"Ada kok nek...aku beli dua puluh ya nek...bunga mawarnya..." ucap Arga sambil menyerahkan uang limaratus ribu pada nenek itu.

__ADS_1


"Nak ini ke banyakan nak...dua puluh tangkai mawar hanya tiga ratus ribu saja nak..." ucap nenek tersebut.


"Nggak apa nek...buat nenek saja ya...kembaliannya." Ucap Arga dengan senyum ramahnya. Lalu Arga menerima dua puluh tangkai bunga mawar itu dan memeluknya. Mencium aromanya...aroma yang Nindi suka.


Gara-gara bunga mawar itu...Nindi menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba Arga tersenyum mengenang hal konyol itu.


"Baiklah Arga...mari pulang...Nindi bukan untukmu, tepati janjimu sebagai laki-laki."


Ucap Arga dalam hatinya lalu meletakkan dua puluh tangkai mawar itu di tempat duduknya, dan ia pergi meninggalkannya begitu saja. Arga selalu mengingat janjinya pada Rendi jika ia tidak akan mengganggu Nindi lagi.


Dirumah Nindi. Setiap hari ia hanya meratapi kebodohannya, ia menyesali setiap ucapan kasar dari bibirnya yang ia tujukan untuk Arga, dan betapa bodohnya ia saat bisa bersamanya namun ia menyia-nyiakannya, membuatnya lelucon yang ia banggakan setiap harinya, yang ia lakukan tanpa kenal lelah.


Rendi sudah membebaskannya dari hukuman...namun kemana-mana ia selalu di kawal...jadi Nindi lebih memilih untuk diam di rumah sambil mengusap kaos Arga yang terakhir kali ia pakai, ia memeluknya mencium aromanya.


"Bagai mana kabarnya? apakah ia juga merindukanku? seperti aku yang sangat merindukannya? rindu kejahilannya...rindu selalu bertengkar dengannya, dan rindu ciumannya, aku janji aku nggak akan menyakitinya jika kita di persatukan lagi." Ucap Nindi dalam hatinya, namun itu sudah mustahil...sekuat apapun Nindi mencoba...papanya selalu melarangnya, hingga hatinya benar-benar tersiksa.


Semua itu adalah kesalahannya...sepenuhnya...ia juga yang membuat Arga terpaksa berucap janji di depan papanya, karena Rendi benar-benar kecewa pada sikap keduanya, membuat Nindi hanya bisa melamun tiap hari harinya.

__ADS_1


__ADS_2