Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
duaaaaarr.....


__ADS_3

"permisi pak..."ucap ifa setelah selesai tugasnya sebagai bembawa kopi untuk bos nya itu.


"tunggu...kamu kapan kerja disini?baju yang kamu pakai...persis seragam Ob?"ucap aditya ingin tahu.


"benar pak...saya kerja sebagai Ob di sini karena butik sedang sepi,saya...di berhentikan kerja sepihak pak..."ucap ifa dengan jujurnya.


"kenapa aku sampai nggak tahu soal ini?"ucap dalam hati aditya.


"lalu...ibumu?"tanya aditya lagi yang membuat ifa menaikkan kepalanya yang mula menunduk itu,matanya menatap aditya dengan keheranannya.


"ibu mu?"tanya aditya yang ke dua kalinya,karena ifa hanya mematung sambil menatapnya.


"ibu...baik baik saja pak..."ucap ifa sambil terbata bata.


"kau...mau menjadi sekretarisku?"tanya aditya yang membuat ifa sedikit tidak mengerti.ifa memang kuliah di bidang desain mode,namun saat ini ia masih mencari pekerjaan di butik lain,dan belum di panggil untuk interview,sambil menunggu ia di panggil,ifa memilih untuk menjalani pekerjaan yang ada,ya itu sebagai Ob.


meski gaji sebagai Ob tidaklah banyak,ifa mau menerimanya,tabungannya sudah terkuras habis untuk berobat ibunya yang berada di rumah sakit.untungnya kemarin waktu ibunya operasi pemasangan ring jantung,


ada seorang dermawan yang mau membayar dan melunasi biaya operasinya.kini ia harus mengumpulkan uang untuk pemulihan ibunya yang masih ada di rumah sakit.


"terima kasih pak...tapi saya tidak bisa menjadi sekretaris bapak...jadi...maafkan saya mengecewakan anda pak..."ucap ifa yang menolak permintaan bosnya.


"terserah kau saja...ingat...hutangmu padaku masih belum kamu bayar..."ucap aditya lagi.


"nasip...nasip...udah tercekik...disini malah di cekik pula,"


gerutu ifa yang sedikit samar dan hampir aditya dengarkan.


"kamu mau membayar hutangmu dengan menjadi kekasihku bukan?kamu yang bilang iya kemarin...nggak bisa menolak sekarang."ucap aditya mengingatkan ifa pada janjinya.


lima puluh juta adalah uang yang tidak sedikit...jangankan lima puluh juta...satu juta pun saat ini ifa tidak memilikinya.


"iya pak...tapi kekasih itu saya tidak paham...saya juga tidak ingin seperti artis pacar bapak yang tadi,saya tidak bisa dengan mudah menempel pada anda apa lagi orang yang bukan suami saya pak..."ucap ifa yang membuat aditya mengernyitkan alisnya dan mengkerutkan dahinya.

__ADS_1


"lalu pacaran yang seperti apa yang kamu tahu?kalau setahuku...pacaran itu sudah tidur bersama layaknya suami istri."ucap goda aditya yang menerapkan budaya luar di perkataannya barusan.


"jedeeeer....."seketika petir menyambar di kepala ifa.


"maaf pak...maaf...tidak tidak seperti itu arti pacaran itu pak..."ucapnya lagi dengan nada sedikit terbata.


"lalu?"ucap aditya terus mencercar pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan ifa.


"mungkin...seperti ini bisa di artikan pacaran pak...melayani anda membuat kopi...menyiapkan makanan...seperti itu..."


ucap ifa menerangkan.karena sejujurnya ifa tidak tahu arti pacaran itu seperti apa.dan jujur ifa tidak ingin pacaran seperti anak anak muda pada umumnya.


"pacar rasa pelayan apa pelayan rasa pacar?"


gerutu aditya.


"baiklah pergi lah...aku ingin marah saat kau bilang seperti itu."ucap aditya membiarkan ifa pergi.


ia sedang duduk dengan malas nya di depan tv ruang keluarga,ia sedang menonton dvd drama romantis kesukaanya.hatinya masih sakit...ia galau...arga mengacuhkannya selama ini.dan nindi pun dengan gengsinya yang setinggi langit itu pun tidak mau meminta maaf duluan.


"ddddrrrt....dddrrrt...."tiba tiba ponselnya bergetar lalu berbunyi.di lihatinya ponsel yang ada di sofa samping tempat duduknya.


"satria."ucap dari bibir nindi seketika.


"halo sat...kamu ini...katanya mau pulang ke kampung halaman....sampai hampir seminggu kamu tidak ada batang hidungnya yang nongol..."seketika ucap nindi dengan nada nerocosnya.


"heh...comel...nafas ingat...nerocos aja tanpa ambil napas pingsan kamu ntar!"ucap satria yang membuat nindi terdiam.


"nindi...kamu tahu...aku akan pulang kemarin niatnya...tapi tiba tiba semua tiket di penerbangan apapun yang menuju negara A semua habis tidak ada nindi...di semua penerbangan namaku sepertinya telah di tandai,sampai hari ini...aku nggak tahu ada apa sebenarnya..."ucap satria dengan jujur nya.


"aku berniat ke ne gara lain transit ke negara A,semua juga sama...habis semua yang menuju negara A nindi...sepertinya mereka tidak mau menjual tiketnya untukku.alhasil aku balik lagi sekarang."ucap satria dengan jujur nya.


"pasti arga.aku yakin ini ulah arga,"ucap nindi dengan wajah merah padam marah nya pada arga kekasihnya.bahkan mungkin saat ini nama cinta itu sesaat lenyap dari benaknya.

__ADS_1


"tunggu sat..."ucap nindi lalu mematikan panggilannya.dan secepat kilat ia menekan nomor ponsel arga,ia memanggilnya.


"nindi,"ucap senang arga saat melihat kekasihnya itu menelephone nya.


"halo sayang...ada ap..."ucap arga yang belum tuntas.


"kenapa kamu tega sekali ga...kenapa kamu mencekal penerbangan satria...lama lama kamu seperti monster...aku bukan tawananmu ga...kamu nggak bisa se enaknya begini membuat orang lain tidak bisa bergerak dengan leluasa."


ucap nindi dengan nada marahnya dan dengan ketidak sukaannya atas perlakuan arga.


"ya...aku yang melakukan semua tuduhanmu itu...oke baiklah...aku monster...aku juga brengsek...sialan....kamu puas...nikmati hari harimu dengan satria...aku tidak akan campur tangan lagi...silahkan."ucap arga seketika dengan mata merah hampir menangisnya,dan hati yang terluka.


lalu ia pun memutuskan panggilan telephone nya.


seketika arga meninggalkan ruang rapat itu di saksikan semua yang menghadiri rapat saat itu.arga menerima panggilan nindi meski di sela rapatnya,karena ia begitu rindu suara kekasihnya itu,namun malah sebaliknya yang ia dapat caci makian dari gadis itu.apa lagi perkataan monster dari wanita yang di cintainya.


"cinta?Bullshit!"ucap arga memantapkan dalam hatinya.


lalu ia pun meminta seseorang untuk mencabut semua perintah larangan satria menuju kota A.


"drrrrrt....drrrrt....."getaran di ponsel nindi lagi,nindi mengira itu panggilan dari arga,ia malas mengambil ponselnya dan malas meladeni arga lagi.


beberapa kali ponsel itu bergetar lalu berbunyi,lalu ia pun melihat ponselnya itu.


"satria,"ucap bibir nindi dan langsung mengangkat panggilannya itu.


"nindi...aku bisa pulang besok...aku sudah membeli tiket nya nindi....tunggu aku pulang ya..."ucap satria dengan senang nya.namun entah mengapa di hati nindi yang juga senang itu terdapat sedikit getir yang samar.sangat samar hingga membuatnya terganti dengan rasa senangnya.


"iya sat...selamat berjumpa besok ya....aku jemput di bandara ya?"ucap nindi pula dengan senangnya.


"baiklah comel...nanti aku kabari lagi ya...aku masih repot sekarang,"ucap satria lalu mematikan panggilannya.


entah mengapa nindi merasa sedikit bersalah sudah berkata kasar pada arga se ingat nindi yang membuat hatinya pun sakit.

__ADS_1


__ADS_2