Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
bisikan jahil


__ADS_3

rendi memeluk hangat tubuh istrinya itu dan mengelus rambut nya,


matanya ikut sembab...namun tidak se berair mata istrinya.


"apa kau suka tempat kakek?"


tiba-tiba tanya rendi.


"tentu aku suka kak rend...kenapa?"


tanya anin keheranan.


"aku senang....jika kau menyukainya...kita akan membesarkan anak kita disini jika kau mau...dekat dengan kakek...meski kantorku sangat jauh dari sini."


ucap rendi.


lalu anin melepas pelukan suaminya yang ada di hadapannya itu,menatap lekat pada mata suaminya.


"sayang..."


ucapnya lirih.


"kemanapun dan dimanapun kami berada...pastilah lebih bahagia jika bisa terus bersamamu bukan?


kita bisa ajak kakek tinggal bersama kita...dan kamu...tidak akan kejauhan berangkat dan pulang dari kantor kak rend..."


ucap anin lagi.


lalu rendi mengelus pipi istrinya dan mencium keningnya,menyesapnya sebentar,lalu menyudahinya.


"kita pikir nanti saja masalah itu,mari kita masuk...malam ini akan jadi malam yang panjang untuk kita",


ucap rendi.


lalu anin terperanjat mendengar kata-kata suaminya.


pikir anin,pastilah begadang yang di maksud suaminya itu sama seperti yang ada di otak anin.

__ADS_1


seperti biasa yang hampir setiap malam mereka lakukan.


"kak rend...kau menggunakan waktu terlemahku untuk memikirkan hal-hal seperti itu sih kak!"


gerutu anin dengan sewot nya.


namun berbeda dengan rendi,ia merasa tak mengerti dengan apa yang di katakan istrinya itu.


dan....


"heiii sayaaang...apa yang kau pikirkan?aku bilang malam ini adalah malam yang panjang...untuk kita menemani kakek,


karena besok kita sudah harus ke villa...atau...jangan-jangan...kau memikirkan hal lain?"


kata rendi dengan tangan yang sudah mengurung istrinya tepat di daun pintu yang masih tertutup sebelah saja dan itu tepat berada di teras luar.


rendi menatap lekat wajah istrinya itu,


namun anin membuang muka,menatap ke arah lain dengan salah tingkahnya.


"bodoh anin...kamu sangat bodoh...kenapa bodoh saja kamu pelihara",


lalu rendi mulai mengangkat tangan kanannya.


dan sedetik saja jari telunjuknya sudah berada di bawah dagu istrinya dengan ibu jari di bawah bibir anin.


mengusap lembut di sana.


"ayo...apa yang kamu pikirkan tadi sayang?"


tanya rendi yang ke sekian kali,


namun lagi-lagi anin hanya menelan ludahnya saja.


anin masih tak mengerti...sudah sekian lama ini ia berada di sisi suaminya,namun...dag dig dug di hatinya tetap tidak bisa di aturnya.


mau tidak mau anin pun menatap mata suaminya.

__ADS_1


"apa...memangnya apa yang tadi aku pikirkan...apa aku salah jika memikirkan hal lain?"


tanya anin lebih berani pada suaminya.


karena itu jalan satu-satunya agar ia tidak terlihat bodoh di depan suaminya itu.


sambil menepis jemari yang ada di dagunya.


"minggir...aku akan menemani kakek...kalau kau masih mau berlama-lama di sini...jangan ajak aku!"


ucap sewot anin sambil berlalu berpaling meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung,


karena sikap istrinya yang rendi pikir makin membuatnya tertantang itu.


tiba-tiba...


sebelum anin beranjak pergi lebih jauh,


rendi menarik satu tangan istrinya dengan lembut.


lalu memeluk tubuh anin dari belakang.


pelukannya sangatlah erat.


hingga anin terdiam tidak berontak.


"sayang...kau tau...saat ini aku tidak ingin melepaskanmu...jadi jaga sikapmu...jangan selalu menggodaku...kalau tidak...aku tidak tahu harus membiarkan kekhilafanku bertindak."


bisik rendi dengan segumpal rasa yang benar-benar sudah ia tahan.


anin yang mendengar bisikan suaminya di telinganya itu dengan nada tajam,


hanya bisa mendelik menelan ludahnya.


hingga....


"apa yang kalian lakukan...cepatlah kemari...temani kakek main catur lagi...",

__ADS_1


kata kakek yang seketika membuat rendi melepas dekapan nya.


lalu tangannya menggenggam jemari anin di ajaknya menuju ke tempat dimana kakek sudah menunggunya.


__ADS_2