
Apartemen Yura seakan sepi tak berpenghuni pagi itu, saat Satria datang kesana, dimana saat itu ternyata Yura masih tertidur dengan lelapnya. Satria pun yang hari itu sengaja libur kerja karena permintaan kekasihnya itu hanya bisa menurut saja, dimana Yura ingin di temani belanja gaun malam untuk acara pesta nanti malam di klub. Pesta ulang tahun sahabatnya akan di adakan di sana, sebenarnya Satria tidak suka gadis itu pergi ke tempat seperti itu, namun karena Yura ngotot, dan karena Satria tidak menginginkan cekcok atau pertengkaran karena hal sepele, akhirnya Satria menyerah dan mengizinkannya.
"Sayang...ayo bangun, kenapa masih tidur? sudah hampir pukul sembilan pagi..." Ucap Satria sembari naik keatas ranjang yang Yura tempati dan mulai membuka selimut yang gadis itu pakai.
"Astaga!" Ucap Satria yang begitu terkejut melihat Yura hanya memakai bra dan celana dalam saja. Satria pun hanya bisa menutupkannya lagi tanpa mencuri pandang apa lagi menikmatinya, saat itu Satria masih sangat taat dan belum tergoda, ia memang sabar menunggu sampai waktu gadis itu benar benar menjadi miliknya.
"Sayang...aku buatkan sarapan ya kalau begitu..." Ucap Satria pada gadisnya dan akan beringsut turun dari samping Yura dari atas tempat tidur yang Yura tempati, namun satu tangan Yura sudah menarik tangannya sampai Satria terjerembab jatuh kedalam pelukan gadisnya.
"Kenapa kamu terburu buru begini sih sayang? apa yang kamu takutkan? aku sengaja seperti ini hanya untuk menggodamu calon suamiku. Akh sudah sudah...maaf...kaget ya? aku tadi pagi sudah bangun sayang...sudah minum segelas susu dan juga sepotong roti, akh aku masih ingin bermalas malasan untuk hari ini, aku benar benar sibuk dengan kerjaan setiap harinya sayang." Ucap Yura sembari melepaskan pelukannya dari leher Satria, dan beranjak menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya, ia akan turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Namun tidak sampai sana, apa yang Yura inginkan tidaklah mulus, Satria dengan wajah merahnya sudah tidak bisa melepas Yura dengan mudah.
"Hei sayang...tadi kamu yang bilang kan kalau jangan terburu buru, sini...temani aku." Ucap Satria dari belakang punggung Yura dan menarik kedua lengan gadis itu ke belakang hingga membentur dadanya, kedua tangan kekar Satria mengalung memeluk seakan meringkus kedua tangan sampai pinggang Yura disana, sampai gadis itu tidak bisa bergerak dan hanya diam saja. Saat itu Yura hanya bisa membelalakan kedua matanya dan sedikit cemas, biasanya Satria tidak seperti itu tiap ia menggodanya.
__ADS_1
"Kenapa tubuhmu sekarang menjadi dingin seperti ini? apa sekarang yang kau cemaskan sayang?" Ucap Satria sembari mengecup beberapa kali pundak mulus Yura, dan Yura hanya bisa meneguk ludahnya dengan perasaan campur aduk disana. Yura hanya diam seribu bahasa, membuat Satria mengerti bahwa sebenarnya kekasihnya itu sedang khawatir.
"Kalau kamu takut...kenapa kamu menggodaku sih! akh yasudah...cepat mandi, kita sarapan sama sama, aku yang buatkan." Ucap Satria yang mengendurkan pelukanya dan melepas Yura dari pelukannya.
"Terima kasih sayang..." Ucap Yura dengan dada yang berdegup kencang, dan seketika Satria menarik tengkuk Yura lalu menciumnya lembut beberapa kali, hingga gadis itu memejamkan kedua matanya, dan tanpa sadar Satria sudah pergi dari hadapanya.
Usai dengan mandinya, Yura bergegas menuju ke meja makan, disana sudah terlihat Satria yang ternyata sudah membawa sarapan jadi yang ia siapkan dari rumah. Keduanya menikmati sarapan pagi itu, dan menuju ke sebuah mall besar untuk membeli gaun untuk pesta nanti malam. Tepat pukul delapan malam kedunya sampai di rumah, saat itu Yura pun langsung bergegas masuk ke kamar untuk bersiap siap.
"Astaga sayang ini pakaian apa yang kamu kenakan?" Ucap Satria dengan protesnya.
"Ya pakaian untuk ke klub sayang...apa lagi...hemmmz..." Ucap Yura dengan entengnya. Dan Satria tidak bisa menolak lagi, ia akhirnya mengizinkan dan mengantar Yura ke sebuah klub malam dengan jas nya yang menutupi bagian tubuh atas Yura.
"Sayang aku masuk dulu ya, nanti jemput aku disini pukul sebelas malam ya..." Ucap Yura yang mendapat anggukan dari Satria.
__ADS_1
Sampai waktu yang di tentukan tiba, bahkan sebelum pukul sebelas malam, Satria sudah ada di depan Klub dan tidak masuk, ia hanya menungguinya di dalam mobil. Hingga pukul sepuluh lewat namun gadisnya juga belum keluar, khirnya Satria memutuskan untuk masuk kedalam, betapa kagetnya ia saat mendapati Yura tengah di cekoki beberapa kali minuman oleh teman laki lakinya, dan terlihat semua teman wanitanya yang lain pun sudah pada teler semuanya. Saat itu Satria ingin marah dan memukul kedua lelaki tersebut, namun ia urungkan, karena ia tidak mungkin untuk membuat keributan, dengan kedua tangan yang mengepal, Satria hanya bisa menahan amarahnya saja, ia mendekati Yura dan menarik tubuh gadis itu sampai di papahnya menuju ke mobil. Satria menggerutu selama perjalanan mengantar Yura, dan Yura yang tidak henti hentinya menggodanya hanya bisa Satria tahan. Seluruh tangan Yura yang menyentuhnya semaunya, dan bisikan bisikan yang tidak jelas yang Yura bisikan di telinga Satria, hanya bisa membuat Satria menelan ludahnya saja. Bagaimanapun ia adalah seorang lelaki tulen yang juga bisa tergoda layaknya lelaki yang lain, namun saat itu masih dalam batasan wajar saja.
Hingga sampai di apartemen Yura, saat itu Satria dengan susah payah memapah gadis itu kedalam apartemenya, Satria meletakan tubuh Yura di atas pembaringan.
Namun gadis itu malah menarik kemejanya hingga beberapa kancing Satria terlepas, Satria terjerembab keatas tubuh gadis itu, dengan kedua tangan yang mengekang di kedua sisi Yura, saat itu Satria bisa menahannya, namun dalam hatinya berkata, jika terjadi lebih parah lagi, mungkin Satria tidak bisa menolaknya lagi.
"Sayang...jangan pergi aku mohon...panas...sangat panas..." Ucap Yura sembari melepas satu persatu pakaiannya dari atas sampai bawah bahkan sesuatu yang harusnya tidak Satria lihat pun mengintip dengan sendirinya.
"Sayang panas..." Ucap Yura sembari masih menarik narik leher Satria agar mendekat ke arahnya. Dan saat itu lah, Satria sudah tidak bisa menahannya lagi, Yura seakan seperti cacing kepanansan yang menginginkan air pendingin untuk tubuhnya, dan Satria tahu benar apa yang harus ia lakukan. Tanpa pikir panjang, Satria langsung melepas pakaiannya, Satrinya melahap habis semua yang ada di hadapannya tanpa terkecuali, seperti sedang kesetanan, tanpa Ampun Satria tidak melewatkan satu incipun dari sana. Hingga ia tersadar saat lenguhan yang bercampur teriakan Yura dan suaranya seakan sedikit tercekik, membuat Satria sadar, namun saat itu sudah benar benar terlewat dari batas dan sampai puncaknya. Namun Satria tidak menyesalinya, ia bersyukur gadis yang ia cintai ternyata masih menjaga miliknya yang berharga sampai padanya.
***
Baiklah semua...semoga bisa mengobati kerinduan kalian ya...dan maaf jika ada salah kata dan pengucapan Qolbie, sampai jumpa di karya Qolbie yang lainnya...jangan lupa ikuti pula instagram Qolbie ya...@Qolbie90. Bye bye semua...🙏🙏🙏
__ADS_1