
Nindi malanjutkan pekerjaannya dengan sangat profesional, ia tidak menyadari desas-desus yang beredar tentang ditinya setelah perlakuan Arga tadi.
"Ssst...ternyata dia pacar bos...kamu sih...nyuruh mlonco dia...kapok lu di aduin sama bos..." terdengar bisik-bisik nggak jelas di seberang bangkunya yang tidak begitu jauh.
Tiba-tiba...."tok, tok, tok," seseorang sedang mengetok mejanya dengan punggung jari telunjuk dan terlihat beberapa orang turut mengerubuti meja kerjanya saat itu.
"Hey...salam kenal...maafkan kami ya...kami tidak tahu kalau kamu adalah pacar si Bos...maaf ya...Nindi." Ucap salah seorang perwakilan yang berkerumun mengerumuni bangku Nindi.
"Eeeeh....pacar apaan sih? kalian salah paham..." ucap Nindi.
"Walau begitu...maafkan kami ya..." ucap bersamaan semua orang.
"Iya...iya...apanya yang di maafkan sih...kalian nggak salah kok..." ucap jujur Nindi.
"Cuma si cowok belel aja tuh...dapat kekuatan dari Bosnya jadi rada songong." Ucap Nindi dalam hatinya. Yang masih belum menyadari bahwa lelaki yang dipanggilnya si cowok belel yang ia maksud adalah Bos mereka. Lalu semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang...seorang staf dari Divisi yang sama datang setelah keluar membawakan Nindi es kopi late.
Ada juga yang semgaja memberikan snack dan masih banyak lagi camilan yang di berikanya hingga meja kerjanya penuh sesak.
"Papa...mama...Nindi pulang-pulang jadi kucing gimbul ntar..." jerit campur tangis haru Nindi dalam hati.
Nindi terlihat meregangkan tubuhnya tat kala ia meras pinggangnya ia rasa kaku, maklum saat itu adalah hari pertamanya masuk kerja.
"Uuuh...kerja ternyata tidak seenak yang di bayangkan." Dengus Nindi.
Rendi datang lebih awal ke kantor dimana tempat kerja putrinya. Namun Rendi tidak tahu...di Divisi mana putrinya di tempatkan. Jadi Rendi memutuskan untuk langsung datang ke ruang kantor Arga, atau langsung menemui Arga,
Didepan pintu kantor ia langsung di sambut oleh kedua penjaga pintu yang berseragam hitam kehijauan dan ber jas. Bukan dengan pakaian atasan putih dan bawahan biru tua layaknya satpam pada umumnya.
"Silahkan pak..." ucap penjaga pintu itu mempersilakan Rendi untuk masuk ke dalam kantor. Lalu penjaga pintu itu pun mengantar Rendi untuk naik ke lift khusus yang langsung menuju kantor Arga di puncak paling atas.
Sesampainya di lantai paling atas kantor Arga, Rendi keluar dari dalam lift tersebut, terlihat di sana berjajar dua wanita cantik yang hanya berdua saja. Rupanya keduanya senhaja tengah menyambut Rendi disana.
"Bisakah saya bertemu dengan pimpinan perusahaan?" ucap Rendi dengan penuh wibawa.
"Oh...mari...mari Pak...anda pasti pimpinan perusahaan Wijaya...Pak Arga sudah menanti kedatangan anda Pak..."
__ADS_1
ucap Sekretaris senior pada Rendi, lalu mempersilakanya untuk mengikuti.
Wanita itu berjalan menuju pintu besar dengan dua daun pintu terbuka di sana.
"Tok, tok, tok." Wanita itu mengetuk pintu yang terbuka setelah sampai di depan pintu tersebut.
"Masuk." Suara Arga yang mempersilakan untuk masuk.
"Om Rendi...kenapa tidak telephone dulu...biar Arga jemput ke kantor...kalau begini Om jadi sendiri yang datang ke kantor kecil Arga...Arga jadi tidak enak Om...maafkan Arga ya..." ucap Arga sambil beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kearah Rendi,
Arga terlebih dahulu mengulurkan tangan menjabat tangan Rendi, lalu di sambut Rendi dengan salaman dan pelukannya.
"Kamu ini seperti dengan siapa saja...Om kesini kan sebagai papa yang mau ngajak putrinya makan siang nak..." ucap berbasa-basi Rendi.
"Jadi hanya sama putrinya saja...Arga nggak di ajak ni om ceritanya?" tanya Arga dengan memasang tampang memelasnya.
"Iya...iya...kamu juga ikut dong...kan kamu yang ngajak kita makan bareng tadi?" ucap Rendi pada lelaki muda itu.
"Baiklah Om...sekarang Om tunggu ya...Arga panggilkan putri Om dulu." ucap Arga yang hampir berlalu pergi.
"Tidak Om...kesannya tidak sopanlah Om...memanggil putri pemilik perusahaan Wijaya yang ternama gitu lo...ia mau bekerja disini saja sudah sangat luar biasa Om...sebentar ya Om...Arga panggilkan dulu." ucap Arga.
"Iya, iya nak...terserah kamu saja lah gimana baiknya nak..." ucap Rendi dan kemudian Arga pun bergegas berjalan menuju pintu keluar dan melewati kedua sekretarisnya itu begitu saja tanpa menoleh kearah mereka meski keduanya menyapa atasannya itu. Cuma lirikan sekilas saja yang Arga berikan untuk jawaban sapaan mereka.
Arga bergegas menaiki lift menuju lantai di mana putri Om Rendi berada.
Setelah sampai pada lantai yang di tuju...Arga berlalu keluar dari dalam liftnya dan berjalan melewati lorong panjang antar Divisi satu menuju Divisi Nindi berada.
Setelah sampai pintu Divisi ruang kerja Nindi, Arga melihat semua orang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena memang saat itu masih setengah dua belas lebih sedikit dan belum waktunya untuk istirahat makan siang.
Arga melihat dimana tempat duduk Nindi berada, tanpa sadar staf yang lainpun melihatnya. Mereka langsung berdiri dan hampir bersuara. Namun seketika dengan isyaratnya tangannya Arga meminta mereka untuk duduk kembali.
Arga berjalan perlahan menuju tempat duduk Nindi dari belakang. Karena memang pintu Divisi keuangan yang menjadi tempat Nindi bekerja itu ada di belakang, dan tempat mereka duduk membelakangi pintu masuk Divisi, jadi saat ada orang yang lalu lalang di luar Divisi, mereka tidak akan terganggu dan fokus pada kerjaan mereka.
Tibalah Arga di belakang Nindi yang sedang fokus menatap layar komputernya itu. Arga membungkukkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga gadis itu.
"Fhuuu..." tiupan ringan itu keluar dari bibir Arga dan meniup daun telinga Nindi, sontak membuat Nindi yang merasakan angin sepoi yang tidak biasa itu pun langsung menoleh. Dan..."cup," Nindi tanpa sadar mengecup pipi mulus Arga disana.
__ADS_1
"Kita impas honey..." bisik lirih Arga disana.
"Hhhhuuuuuuaaaaaaa dasar cowok belel...sekarang alih profesi jadi cowok mesum!" sontak teriakan Nindi yang memekakkan telinga satu ruangan.
Lalu seketika Arga membekap mulut Nindi dengan telapak tangannya dan menarik tengkuk gadis itu dengan tangan satunya lagi.
"Kamu ingin menghebohkan satu Divisi dengan kehebohanmu honey? kamu mau semua yang ada disini tahu apa yang baru saja kamu lakukan?" bisik Arga yang membuat rontaan Nindi mereda.
"Honey...honey...honey pale lu..." dengus Nindi dengan kesal. Lalu Arga pun berjongkok dengan satu kaki menempel ke lantai serta menghadapkan kursi yang Nindi tempati tepat didepannya. Kedua tangan lelaki itu mengurung tubuh Nindi dikedua sisinya.
"Honey...bukankah itu lebih indah di dengar dari pada cewek seratus lima puluh?" tanya Arga pada gadis didepannya.
"Sudah deh...nggak usah sok-sokan SKSD denganku!" dengus Nindi lagi.
"Honey...SKSD apa sih?" tanya Arga yang memang tidak tahu.
"Sok kenal....sok dekat!" ucap singkat dan jelas dari bibir Nindi.
"Apaan sih...berdiri dong...ngapain jongkok di situ? nyari koin jatoh huh?" ucap kesal Nindi. Lalu Arga pun berdiri dan dengan kedua tangan yang masih mengurung, serta jemari yang mencengkeram kuat kedua sisi kursi yang Nindi tempati.
"Apaan sih cowok belel yang mesum...ngapain juga kamu jadi nyebelin gini...tuh semua orang pada liatin kita tahu..." dengus Nindi lagi-lagi.
"Membuat jantungku seperti mau meledak." Ucap hati Nindi sambil menekan dadanya. Perasaan itu muncul tiba-tiba saat wajah tampan itu tepat berada didepnnya.
"Honey...kamu yang minta aku berdiri...setelah aku berdiri kamu kesal begini..." ucap Arga dengan wajah yang tepat berada di depan Nindi dan Nindi sontak menolehkan wajahnya ke arah lain.
"Ayo ikut aku honey...papa kamu sedang menunggu di kantor aku." ucap Arga begitu saja.
Sontak Nindi menoleh dan hampir saja kejadian yang tadi terulang kembali.
"Yang bener kamu...sono dikit napa ni wajah." Ucap Nindi sambil mendorong dada Arga agar sedikit menjauh.
"Honey...kamu lebih agresif ya dari yang aku bayangkan." Ucap canda Arga.
"Agresif....agresif nenek moyang lo apa...!" gumam Nindi dengan ketusnya, namun malah membuat Arga tertawa.
"Ayo...keburu papa kamu mengakar di ruang kantorku ntar honey..." ucap Arga lagi dan sambil menarik pergelangan tangan Nindi. Sontak staf yang berada di belakang meja Nindi yang bersekat itu berhamburan bubar karena gelagapan ketahuan sedang menguping. Keduanya tidak tahu jika rupanya banyak telinga yang tengah mendengarkan percakapnnya.
__ADS_1