
waktu menunjukkan pukul dua siang saat anin terbangun dari tidurnya,
di cari-cari lah suaminya namun tidak di temukannya,
lalu anin keluar dari kamarnya,menuju dapur,
dimana bi ani dan bi ana bertempur dengan pekerjaannya,
"bi....apa kalian melihat kak rendi??"
tanya ani pada ke dua bibi.
"tidak nyonya..."
jawab bi ani dengan mendekat ke arah anin.
"anu nyonya....tuan berpesan...kalau akan ke kampus nyonya,"
kata bi ana yang di pesani tuannya sebelum pergi.
"baik bi...terimakasih..."
sahut anin yang lalu pergi menuju kamarnya,karena jam tiga nanti ia harus kuliah.
di ruang kuliah rendi.
ponsel rendi bergetar,di ambilnya dan di lihatinya ada pesan dari istrinya.
"sayang aku nanti masuk kuliah ya...aku baik-baik saja sudah tidak apa-apa kok kak,"isi pesan anin yang rendi baca.
lalu rendi mengernyitkan dahinya yang membuatnya terkesan semakin galak,
siswa siswinya pun semua pada melirik ke arahnya,
lalu mereka menunduk dengan pertanyaan pertanyaan yang belum tentu ada jawabannya.
rendi hanya membuka pesan istrinya dan membacanya saja,tidak membalasnya.karena rendi ingin anin tinggal di rumah saja.
cukup lama anin menunggu balasan suaminya namun tidak di balas juga,
lalu di lemparkannya ponsel itu ke sofa sampingnya.
ia merasa ingin marah karena yang di tunggu tidak kunjung datang,yang di harapkan tidak muncul.
anin mandi dan bersiap-siap akan ke kampus,
__ADS_1
tiba-tiba pusingnya muncul lagi,membuatnya terhuyung hingga bersandar tembok.
"oooh mungkin aku kelelahan..."
ucap anin seraya mengambil vitamin di laci samping tempat tidurnya,mengambil satu lalu meminumnya,
"semoga nanti tidak apa-apa,"doa anin dalam hatinya.
anin keluar dari kamarnya,anin tidak tahu kalau ponsel nya tertinggal di sofa tanpa ia mengeceknya terlebih dahulu,
padahal pada saat itu...suaminya baru saja membalas pesannya.
rendi berpesan supaya anin di rumah saja untuk istirahat,
di tempat ruang kuliah rendi.
waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore,
rendi terus menatap layar ponsel nya,
hatinya tidak karuan.
istrinya pun tidak kunjung membalas pesannya.lalu ia menelephone nya,empat panggilan tidak di jawabnya,
rendi bergegas mengakhiri kelas nya,ia buru-buru keluar ruang kuliah,menuju dimana mobilnya terparkir,
"anin mencuci otakku,"gumamnya di sepanjang jalan.
anin tiba di kampus tepat pukul tiga sore,di lihatnya neta sudah duduk di bawah pohon besar di padang rumput samping kampus.
lalu anin menghampiri neta,
"net..."
sapa anin pada neta,namun tidak di gubrisnya,
malah neta mengacuhkannya,
"kau masih marah padaku?"
tanya anin sambil duduk di samping neta,namun neta malah memunggungi anin,sambil terus acuh dan membaca bukunya,
"maaf neta..."
sambil beralih di depan neta,
__ADS_1
namun neta terus menghindar lagi lagi dan lagi.
"net....neta,"teriak anin dengan air matanya mulai mengalir di pipinya.akhirnya neta pun melirik ke arahnya.
"sana...hampiri suamimu yang idola kampus itu,"ucap ketus neta.
"maaf....neta....maaf..."
hanya kata maaf yang terucap dari bibir anin.
"haiiisss....sudah-sudah aku maafkan..."
kata neta sambil memeluk tubuh anin.
"hei...kenapa tangisanmu malah kencang...?"
teriak neta ketika tangis anin mulai pecah.
"aku sedih...saat kau marah net...kau tahu orang yang tidak mencemooh ku hanya kamu...aku takut kehilanganmu neta..."
ucap anin dan sesekali neta menenangkan temannya.
"ceritalah...kenapa pak rendi bisa kecantol padamu??
jangan bilang kamu pelet ya...."
canda neta yang membuat anin tertawa dan terhenti dari tangisannya seketika.
"ceritanya panjang net...tapi ya...intinya jodoh sudah ada yang ngatur gitu saja net..."ucap anin.
neta hanya cengar cengir mendengar pengakuan anin.
"pasti seneng dong tiap bangun tidur selalu cuci mata,"
sambil membayangkan jika itu adalah suami neta.
"tiap bangun tidur aku selalu cuci muka sambi gosok gigi...tidak cuma cuci mata saja net,"
ucap anin menggoda.
"ye...ni bocah...cuci mata ya bukan itu maksudnya nin,ah sudah lah...,"ucap neta.
lau neta pun melanjutkan lamunannya tadi yang sempat tertunda,
"jangan nglamun...ntar kesambet,"
__ADS_1
kata anin yang membuat neta takut.
karena neta takut dengan hal-hal yang ber bau horor.