Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Gelisah di malam sebelum pernikahan


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk Nindi, Namun pagi yang lumayan banyak kegiatan untuk Arga, Dimana hari itu Arga harus memastikan sendiri tempat gedung yang akan keduanya gunakan melangsungkan pernikahan, Karena Nindi di pingit...jadi Arga di temani oleh bunda dan juga kakak serta kakak iparnya saja saat menuju ke lokasi. Memastikan tanpa kendala dan sudah terlihat lancar semua.


"Bund hari ini ada janji lihat makanan dan kue bund..." Ucap Arga yang mendapat anggukan oleh bundanya, Sengaja bunda memilih makanan makanan yang lumayan mewah, Dan tentu saja itu atas persetujuan dari kedua mempelai. Hingga sampailah ke tempat yang di tuju.


"Bund...Arga serahin semua sama bunda ya...Arga mau telephone Nindi dulu bund...sebentar ya..." Ucap Arga, Lalu memohon diri keluar sebentar dari tempatnya.


"Halo sayang..." Ucap Arga, Karena panggilanya langsung di angkat oleh Nindi, Arga tidak tahu, Bahwa Nindi selalu membawa kemanapun ponselnya, Ia khawatir jika Arga menelephonenya dan ia tidak tahu.


"Iya sayang...ada apa? sudah lihat ceteringanya? gimana? udah nggak ada kendala kan sayang?" Tanya Nindi dengan antusiasnya. Namun Arga malah memanyunkan bibirnya dan mengernyitkan alisnya.


"Sayang...bisa nggak yang di tanyain itu kabar aku dulu? apa aku kangen kamu, Atau...apa aku merindukanmu?" Ucap protes Arga dengan gerutunya.


"Akh...kalau itu...pastilah sama sayang...jangan di tanya lagi...toh aku lebih khawatir dengan kelancaran hari pernikahan kita...bisakah sedikit saja hilangkan ego kita sayang?" Ucap Nindi tumben dengan bijaknya.

__ADS_1


"Iya...iya sayang...sudah beres semua...kamu nggak usah mikir macam macam...seminggu lagi pasti kita nikah kok...kau akan jadi istri aku!" Ucap Arga yang membuat Nindi tersenyum.


"Akh...aku telephone cuma ingin dengar suara kamu...lah...malah ngajak bahas acara...kan...jadi bad mood nih," Ucap Arga yang merengek protes disana.


"Iya sayang...aku tahu...aku pun sama...merindukanmu...apa lagi...kemarin cuma ketemu sebentar kan? aku jelas merindukanmu," Ucap Nindi yang membuat Arga tersenyum senang.


"Yasudah...nanti aku kasih kabar lagi...sekarang aku tutup dulu ya panggilanya, Bunda dan kakak udah manggil tuh...kamu baik baik ya sayang...jangan sampai berat badanya turun..." Ucap arga yang langsung mematikan panggilan telephonenya. Dimana memang benar kenyataanya bahwa ia mendengar bunda dan kakaknya bergantian memanggilnya. Hingga siang itu sampai sore Arga serta keluarga terlihat sibuk, Bahkan sangat sibuk...melihat satu persatu tempat yang akan mereka gunakan, Namun Arga hanya melihat dan mengecek gedung yang akan mereka pakai, Cateringan yang akan melayani semua tamu tamu undangan yang datang,


Akhirnya, Keduanya pun bisa melewati enam hari sebelum hari H, Dan memang keduanya tidak bisa bertemu satu sama lainya, Hanya bisa telephone dan video call saja, Atau berkirim pesan saja. Namun Arga dan Nindi pun dengan senang menjalaninya, Karena memang konon katanya untuk kebaikan berdua.


Hingga malam menjelang pernikahan mereka, Nindi terlihat gelisah, Dan Arga pun sama, Meski ia sudah memastikan sendiri keseluruhan tempat tempat yang akan keduanya pakai dalam acara pernikahan, Esok adalah acara pertama, Sengaja keduanya memilih untuk melangsungkanya di gedung, Dimana Arga dan Nindi mengundang semua staf dan karyawan dan seluruh kolega untuk menghadirinya, Dan malam itu...entah mengapa Nindi begitu merindukan Arga, Ia begitu gelisah, Dan Arga pula merasakanya.


Terlihat Arga berguling guling di tempat tidurnya, Dan Nindi pun sama, Namun esok subuh ia sudah bisa bertemu dengan calon pengantinya, Karena harus berdandan satu sama lain sebelum ijab di laksakan.

__ADS_1


"Akh...kenapa akan menikah saja bisa se gelisah ini sih? aku pikir...akan sangat menyenangkan? aku terlalu meremehkanya!" Ucap Arga dengan gerutunya, Ia pun bangkit dari tidurnya, Berjalan keluar kamarnya dan menuju lemari pendingin yang ada di dekat dapurnya.


Nampak bunda pun terduduk di kursi dapur, Dan sepertinya bunda pun tidak bisa tidur pula, Sedangkan malam itu sudah cukup larut.


"Lhoh...calon pengantin kok belum tidur? besok harus bangun subuh lo sayang..." Ucap Bunda yang melihat Arga berjalan mendekat ke arahnya,


"Haus bund...mau ambil minum...bunda sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Arga sembari mengambil satu botol kemasan air mineral di dalam lemari pendinginya.


"Bunda lagi teringat akan ayahmu sayang...andai dia masih ada sampai saat ini...pastilah akan sangat bahagia melihatmu esok akan melangsungkan pernikahan.


"Kanapa bunda nggak cari calon ayah baru aja? Arga bisa menerimanya kok bund...Aditya juga pasti bisa," Ucap Arga yang merasa kasihan pada bundanya, Selama ini bunda sendirian dan pasti kesepian tanpa peehatian, Apa lagi jauh dari Arga dan Aditya. Namun Arga tidak tahu, Selama bundanya dekat dengan laki laki, Pastilah ada niat tersembunyi disana, Dan tidak tulus sama sekali, Bundanya sudah muak dengan senyum manis namun palsu itu, Hanya berniat memanfaatkan nama besar puteranya, Hingga bunda memilih untuk sendiri dan merawat anak anaknya yang sudah mandiri, Menikmati hidup dan hanya bisa membayangkan sang suami yang selalu mengawasinya saja.


"Kamu kira cari calon ayah itu semudah sulap sayang? Nggak mudah nak...dan bunda terlalu menikmati kesendirian bunda...jadi kamu jangan khawatir...gini gini juga bunda setia tahu!" Dengus bunda yang membuat Arga bangga memilikinya. Hingga malam itu seakan panjang bagi bunda dan Arga, Setelah capek ngobrol berdua, Akhirnya kantuk pun melanda ibu dan anak tersebut. Hingga Arga pamit untuk istirahat ke kamarnya dan bunda pun turut masuk ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2