Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
LAGI-LAGI KESEMPATAN


__ADS_3

Pagi itu begitu cerah...setelah semalaman hujan lebat, Nindi sudah siap ke kantor dengan dress se lutut beserta outer lengan panjangnya, ia sudah terlebih dahulu menunggu mama dan papanya di meja makan, tidak begitu lama...kedua orang yang di tunggu Nindi pun akhirnya tiba di meja makan juga.


"Pah...mah..." sapa Nindi saat mama dan papanya sampai di dekatnya, dan duduk bersama-sama.


"Sayang...nanti papa anter ya...? ada yang ingin papa lakukan di dekat kantormu soalnya...sekalian saja ya..."


ucap papa, dan Nindi pun langsung mengiyakannya.


"Oh ya nak...nanti mama nitip ya...buat bos kamu...pasti Arga nggak ada yang buatin sarapan." Ucap mama lagi. Namun saat itu Nindi terlihat malas.


Sedangkan di rumah Arga...selesai ia joging...Arga pulang dengan membawa bubur ayam se mangkuk, sandwich isi daging dengan sebotol susu sapi segar.


"Baiklah mama sayang...siap..." jawab Nindi begitu saja karena tidak ingin mamanya marah.


"Kalau Nindi ngelawan bisa-bisa nggak dapat uang saku nanti." Ucap dalam hati gadis itu. Tepat pukul delapan, mobil yang di tumpangi Nindi sudah sampai di kantor tempat ia bekerja.


"Papah...Nindi makan siangnya di kantor aja ya...tolong kasih tahu mama ya pah..."


ucap Nindi saat ia turun dari mobil papanya. Lalu dengan senyum dan anggukan Rendi pun mengerti. Terlihat Nindi melambaikan tangannya mengantar mobil papanya pergi berlalu sampai tidak terlihat lagi.


"Hey Nindi..." sapa seorang laki-laki yang entah dari mana asalnya, Nindi pun langsung menoleh mencari sumber suara, dan ternyata dari arah parkiran mobil suara itu berasal.


"Pagi bos...ini dapat titipan dari mama bos...Nindi masuk dulu ya bos..." ucap gadis itu yang mencoba menghindar.


"Hey...disini aku bos nya...aku belum ijinkan kamu pergi loh...bawakan itu sampai ruang kantor ku...tanganku mendadak sedikit keram..." ucap Arga dengan santainya dan ngeloyor masuk begitu saja.


"Haiiis...sialnya! sampai kapan ia akan menyiksaku? mama...lihat ni cowok songong makin songong ma..." gerutu hati Nindi dan Nindi tidak punya pilihan lain selain menuruti bos nya.


"Dug." Kepala Nindi kejedot punggung Arga yang tiba-tiba berhenti mendadak dengan tiba-tiba.


"Hey...ini di kantor Nindi...jangan se agresif itu.." ucap Arga dengan jahilnya.


"Bos...anda halu ya? anda yang berhenti mendadak..." ucap sinis Nindi.


"Kamu yang nggak tahu aku berhenti...? Nindi...kamu memikirkan sesuatu? ngelamun ya?" tanya Arga pura-pura.

__ADS_1


"Silahkan bos...jalan lagi...pekerjaan saya sudah menumpuk bos..." ucap Nindi.


"Jangan ditumpuk Nindi, dijajar...eh! siapa yang berani memberimu pekerjaan sampai menumpuk? mereka tidak tahu kamu pacarku ya? padahal aku sudah pernah bilang..." ucap Arga serius.


"Pacar-pacar pale lu apa...! gerutu Nindi samar, saat masuk dalam lift yang menuju ruang kantor Arga.


"Sayangnya ini di kantor...aku nggak bisa balas dia...awas saja kalau sampai di luar...aku habisin lu." Kata Nindi dalam hati dengan perasaan kesalnya.


"ting...." tibalah lift di depan ruangan sekretaris Arga. Disana sudah berdiri dua orang wanita cantik.


"miss Susi dan miss Meri." Nama keduanya.


"Bos...sudah sampai...saya mohon pamit..." ucap Nindi sambil menyerahkan kotak bekal sarapan pada Arga.


"Honey...aku merindukanmu..." bisik Arga di telinga Nindi sebelum gadis itu beranjak pergi.


"Ya...mulai songongnya..." dengus kesal Nindi karena kejahilan Arga, yang Nindi kira itu hanya sebuah lelucon, permainan...karena Nindi tidak pernah sekalipun di gombali lawan jenisnya.


"Bos...saya permisi...saya benar-benar banyak kerjaan bos..." ucap Nindi dan langsung pergi. Meski Arga benar-benar merindukannya. Nindi sedikit berlari menuju lift untuk turun menuju Divisinya, dan Arga kembali ke ruangannya.


Di Dividi Nindi. Terlihat gadis itu tengah fokus pada layar komputernya, tanpa terasa ia pun tidak melihat bahwa di meja sebelah tangannya ada teh susu kesukaannya itu, lalu ia tanpa sengaja menyenggolnya dan tumpah mengenai bajunya.


"Oh tidak....! aku kenapa ceroboh sekali sih..." gumam Nindi. Dan ia melirik jam di pergelangan tangannya yang masih pukul sepuluh siang saat itu, masih terlalu lama jam makan siangnya.


Ia bergegas lari keluar dengan baju yang banyak noda teh itu.


"Bruuuuk....akh...apa lagi sih ini...?! jalan tuh pake mata...jangan pakai deng..." ucap refleks Nindi saat ia menubruk seseorang dan hampir memakinya, tanpa ia tahu siapa yang tengah akan maki maki.


"Bos kok nggak hati-hati sih...? nggak lihat aku apa bos?" gerutu Nindi.


"Aku? nggak lihat-lihat?" ucap Arga sambil jari telunjuknya menunjuk tepat di hidungnya sendiri.


"Maksud mu? hey! jelas-jelas kamu yang menubruk ku!" sergah Arga dengan nada sedikit meninggi yang membuat mata semua orang Divisi menatap kearah keduanya.


"Bos...maaf bos...aku tidak lihat..." ucap Nindi.

__ADS_1


"Kau kenapa buru-buru begitu? ada apa?"


tanya Arga dengan herannya.


"Ini bos...bajuku ketumpahan minumanku tadi...aku mau ganti pakaian bos..." ucap Nindi dengan memelasnya.


"Ayo biar aku antar kamu...sekalian aku mau ambil file." Ucap Arga yang langsung di angguki Nindi, padahal saat itu Arga bisa menyuruh orang untuk mengambilnya, tapi ia tidak mau kesempatan berdua dengan Nindi hilang begitu saja. Lima belas menit perjalanan, tibalah keduanya di apartemen ber tingkat menjulang.


"Ini dimana bos?" tanya Nindi dengan heran.


"Ini apartemen aku lah...kamu bisa mencuci dan mengeringkan pakaianmu...disini lebih dekat dari kantor, dari pada kamu pulang ke rumah, tapi kalau kamu mau sih...kalau nggak juga nggak apa...kamu boleh pergi." Ucap Arga sambil ngeloyor pergi begitu saja.


Nindi yang masih disana mematung seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah bos...aku ikut deh..." jawab Nindi dangan seketika. Dan tersemburat senyum di bibir lelaki itu. Keduanya masuk kedalam lift dan naik ke lantai apartemen Arga yang terletak cukup tinggi, sampai di depan apartemen...Arga membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam, dan Nindi pun ikut masuk memgikuti.


"Bos pinjam baju nya..." ucap Nindi seketika.


"Ambil di lemari pakaian mana saja yang kamu suka." Ucap Arga sambil memperlihatkan lemari pakaiannya.


Seketika Nindi melihat-lihat pakaian mana yang pas untuknya.


"Bos...yang agak kecil gitu nggak ada apa?" tanya Nindi.


"Ya...adanya di situ semua...kamu cari sendiri saja...aku mau ngerjakan pekerjaan dulu." Ucap Arga yang lalu duduk di kursi meja kerjanya.


"Oh ya...mesin pengeringnya di sebelah mesin cuci...itu bisa sepuluh menit langsung kering." Ucap Arga lagi.


Akhirnya Nindi memutuskan memakai kaos oblong Arga yang lumayan kedodoran karena Nindi saar itu memakai dalaman celana pendeknya, ia hanya meminjam kaos saja sembari menunggui dressnya kering.


"Bos...ini gimana cara makainya bos?" tanya Nindi sambil menatap tombol-tombol yang ada di mesin pengering.


"Dug..." tiba-tiba terasa dada Arga menempel punggung Nindi, dengan wajah yang sangat dekat di bagian sisi wajah Nindi tepat. Membuat Nindi refleks menoleh dan tanpa sengaja ia mengecup pipi lelaki itu. Sedangkan kedua tangan Arga tengah mengurung tubuhnya dikedua sisi. Dentumam jantung Nindi kian terpacu, membuat wajahnya merona merah.


"Kan kamu ngambil kesempatan lagi!" ucap Arga seketika tanpa menoleh ke arah Nindi yang terkejut, Arga masih menatap ke depan sambil menekan tombol-tombol mesin pengering, dan seolah tidak menghiraukan kecupan itu.

__ADS_1


"Nih sudah..." ucap Arga dan, "cup, aku kembalikan." Kecupan balasan Arga mendarat di pipi Nindi. Dengan songong Arga lalu pergi begitu saja, lelaki itu berjalan menuju meja kerjanya lagi dan di sana Nindi masih melongo mematung tidak percaya jika dirinya selalu kena jebakan lelaki itu.


__ADS_2