
Pagi itu...Aditya masih belum bangun, Meski matahari sudah muncul dan pancaran sinarnya yang mampu menghangatkan tubuh sudah menyebar ke segala penjuru arah, Terlihat sarapan sudah terhidang lengkap di meja makan dengan segelas penuh susu murni di atas meja makan, Kesukaan Aditya saat pagi dan sudah menjadi kebiasaan paginya untuk selalu minum itu.
Ifa terlihat masih sibuk dengan urusanya di dapur, Bayanganya masih terbayang saat ia tiba di rumah mewah nan megah yang kemarin ia kunjungi bersama calon suaminya. Bisa bisanya ia mengeluh dengan keadaan, Sedangkan keadaan itu begitu di dambakan banyak gadis di luaran sana.
"Pagi sayang...kamu udah repot repot nyiapain sarapan?" Tanya Aditya saat ia baru menuju ke meja makanya. Dengan senyum ifa menyapanya. lalu mengangguk.
"Nggak apa apa bby...aku nggak merasa repot atau gimana gimana kok..." Balas ucap ifa. Sambil duduk di seberang meja depan Aditya.
"Bby...kenapa semalam nggak bangunkan aku? apa yang terjadi dengan rumah aku bby?" Tanya ifa dengan penasaranya.
"Semalam...saat aku mau kasih tahu kamu...terlihat kamu sangat pulas tidurnya, Dan aku nggak mau ganggu kamu sayang...emmmb...itu...rumah kamu banyak yang bocor...dan lagi...sepertinya tidak bisa kamu tinggali...atau...gini aja...daripada nggak bisa di tempati...kita bangun aja lagi...kita jadiin villa disana...kan indah tuh pemandanganya...sawah pohon pohon...pegunungan...apa lagi kalau malam sepi...banget..." Ucap Aditya yang mencoba menghibur ifa sebisa mungkin, Agar ifa tidak bersedih karena rumah peninggalan ibunya terbengkalai.
"Bby...bisakah seperti itu? apa kamu tidak keberatan bby? aku akan sangat berterimakasih...jika kamu mau membangunya kembali...aku bisa kesana saat aku merindukan ibu bby..." Ucap tulus ifa, Dan Aditya pun mengangguk sambil meminum susu murninya.
"Aku nggak minta mas kawin apa apa bby...cukup kamu aja aku udah bahagia." Ucap ifa yang benar benar merasa senang saat itu. Hingga tanpa sadar...membuat Aditya tersedak minumanya karena mendengar ucapan ifa yang terlalu masnis ia dengar pagi itu.
__ADS_1
"Mas kawin itu wajib sayang...kamu ini ngomong apaan sih...! udah kewajiban aku kan itu..." Ucap Aditya dengan tangan yang mengambil tisu di depan mejanya dan menyeka mulutnya yang terlihat belepotan karena minumanya.
"Dua hari ini aku sengaja nggak kerja sayang...aku mau nyiapin pernikahan kita...dan aku mau nyiapin lahir batin aku...aku takut syock saat bisa menyentuhmu." Ucap Aditya dengan candanya, Namun memang benar kenyataanya, Aditya khawatir saat ia sudah halal untuk istrinya, Ia bingung saat akan memulainya. Perasaan seperti itu saja saat ia bayangkan sudah membuatnya frustasi. Belum saat saat yang lainya.
Seharian sudah Saat Arga tanpa kabar, Nindi merasa sangat merindukanya, Biasanya setiap pagi siang malam selalu bersama sama, Namun...karena hari ini Arga benar benar sibuk lari sana lari sini...dimana ia harus menghadiri serta menandatangani sebuat pembukaan mall dan juga datang ke tempat perhiasan yang khusus ia pesan. Sepasang cincin dengan batu permata putih besar menyilaukan, Serta sepasang cincin polos yang berukiran batik sepanjang lingkaranya. Begitu mewah dan elegan.
"Nindi hanya mendengus dan mencoba mengerti keadaan, Situasi dan kondisi kekasihnya, Toh malam nanti Arga pasti pulang. Hingga ia lewatkan waktunya begitu saja, Selesai pulang kantor ia pun langsung pulang bersama papanya dan tidak mampir kemana mana...mungkin mampir untuk membeli titipan mamanya,
Rendi begitu tidak percayanya, Dahulu saat istrinya itu hamil Nindi, Ia sering ngidam yang aneh aneh...bahkan sampai manjat pohon mangga tetangga. Dan Rendi ingat betul...ngidamnya...sampai Nindi akan lahir kedunia, Istrinya masih memintanya untuk mencari manisan buah cermai. Namun berbeda dengan ngidam Nindi dahulu...saat ini istrinya malah suka makanan berkelas dan seporsinya bisa sampai jutaan harganya. Rendi hanya ingin terus selalu berusaha untuk mewujudkan keinginan calon putera keduanya tersebut.
Seperti saat ini, Rendi membelikan pesanan istrinya, Anin meminta di belikan Sirlion Steak...serta sashimi tuna dan salmon. Rendi ingat betul...Makanan makan tersebut...sebelum istrinya hamil...jangankan untuk makan...baru melihat irisan daging ikanya saja...Anin sudah mual mual...namun setelah ia hamil...hampir seminggu bisa tiga sampai empat kali Anin memakanya. Dan Rendi tidak masalah akan hal itu, Selama yang di inginkan istrinya itu ada di muka bumi ini...apa lagi...semua yang ia mau...adalah bergizi.
"Sayang mau sashimi juga?" Tanya Rendi pada puterinya, Dan Nindi hanya menggeleng serta tersenyum kecut, Karena harusnya Rendi tahu...jika Nindi tidak suka bahkan tidak doyan ikan mentah jenis apapun meskipun banyak gizinya. Ia lebih suka olahan daging, Itupun yang matang sempurna. Lalu Rendi mulai menjalankan mobilnya lagi, Membelah kemacetan dan berusaha segera sampai ke rumah. Agar suhu ikan sashiminya masih tetap sama.
Itu menurut Rendi.
__ADS_1
"Pah...jagoanya papah itu...suka makan mahal mahal ya pah...pasti ntar cakep deh perpaduan mama dan papa...tapi...kalau seleranya aja bertolak belakang sama Nindi...ntar papa harus sewa koki loh buat masakin di rumah...tuh...masakin yang ala ala luar Negeri." Canda Nindi yang mendapat sambutan papanya lebih serius.
"Waaah...bisa jadi tuh sayang...hemmmz...apa papa kursusin kamu masak di Restoran Steak ama Restoran Sashimi ya? daripada papa mama nyewa koki...kan enak...puteri papa dan mama yang jadi kokinya..." Canda Rendi yang membuat Nindi nyungir seketika.
"Masak sambal goreng aja pakai bumbu jadi pah...boro boro Nindi bisa tlaten ngikutin kelas masaknya...!" Dengus kesal Nindi yang membuat papanya tertawa renyah.
"Nasip mama sama papa lah sayang...punya anak cewek satu...udah mau di ambil orang pula...belum pernah...papa di masakin sekali aja...terus ntar gimana kalau jadi istri orang...mau kamu delivery kan terus? nggak kasihan apa sama suami kamu kelak?" Ucap Rendi yang menyadarkan Nindi, Bahwa ia kurang keterampilan yang satu itu karena terlalu di manjakan oleh kedua orangtuanya tersebut.
"Tenang pah...ntar Nindi pasti minta di ajarin Arga...dia jago kalau bikin spaghetti...dan Nindi juga lumayan jago loh pah masaknya..." Ucap Nindi dengan antusiasnya yang membuat papanya penasaran seketika. Soalnya seumur umur Rendi belum merasakan masakan sekalipun yang Nindi buat untuknya...Rendi ingat...sekali ia makan sambal goreng ati ayam dan petai...itupun hasil kolaborasi Nindi dengan mamanya.
"Jago masak apa sayang? Mau dong nanti di buatin..." Ucap Rendi yang begitu girang seketika.
"Siyyaaappp papahku sayang...Nindi jago masak air sama mie rebus...plus telor ntar pasti sangat lezat pah..." Ucap Nindi yang bangga dengan keahlianya.
Rendi seketika terbengong menatap lurus ke arah jalan di depanya. beberapa kali ia meneguk ludahnya sendiri.
__ADS_1
Entah mengapa sesaat ia begitu kasihan pada Arga.
"Nih anak pinter banget ya...pasti turunan dari mamanya nih...!" Ucap Rendi dalam hatinya.