
tanpa terasa pagi pun mulai menjelang.
rendi terbangun tepat pukul lima pagi,ia bergegas masuk ke dalam kamar mandinya dan mulai mengambil pakaian kerjanya,anin yang ikut terbangun itu pun menatap lekat gerak suaminya,
"kak rend...kamu mau berngkat se pagi ini sayang?"
tanya anin pada suaminya,
"iya sayang...kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?jangan telat makan ya sayang...dan istrirahat siang juga...inginku dirumah saja menemani kamu...tapi ini kerjaan baru aku tinggal seminggu saja sudah bnyak yang nggak bener sayang...kamu baik-baik ya di rumah,"
sambil mengecup bibir istrinya lalu keningnya dan berlalu pergi meninggalkan kamar,
anin masih terpaku terdiam...pikirannya sudah khawatir...namun lagi-lagi...kata-kata kakek selalu membuatnya sedikit lega,bahwa suaminya sudah terlatih.
lalu sayup-sayup anin mendengar kakek nya sedang berbicara pada seseorang di telephone,
"apa!grup sanjaya rend?"ucap kakek,
lalu kakek menutup telephonnya.
dan anin menghampiri kakek yang terduduk di dekat meja telephone.
"kakek...ada apa?siapa yang tadi telephone?"tanya anin pada kakeknya.
"biasa nak...pesaing bisnis kakek...dari dulu...sebenarnya mereka tidak pernah bertindak sejauh ini apa lagi sampai menyerobot tender yang kakek dan rendi ikuti,
tapi kita tidak sebidang nak,mereka di perhotelan dan supermarket tapi kenapa juga sekarang ganti beralih ke rumah sakit?"
ucap kakek tiba-tiba.karena kakek dan rendi di bidang kampus dan rumah sakit yang di geluti.
dan sekarang yang sedang di garap suaminya adalah tender untuk rumah sakit di luar negeri.
"kek...apa kakek pernah menyinggung atau kak rendi mungkin?"tanya anin seketika.
__ADS_1
"sebenarnya...waktu rendi belum menikah...aku ingin menjodohkan rendi dengan cucu grup sanjaya itu,itu juga cucu satu-satunya...tapi rendi memilih kamu...kakek juga tidak bisa menolaknya...asalkan rendi suka dan mau...kakek sudah sangat bersyukur...bahkan kakek juga mendengar cucu grup sanjaya itu sudah melahirkan anak beberapa bulan yang lalu...dan kakek juga tidak dapat undangan saat cucu sanjaya menikah atau pun melahirkan...dan dengar-dengar lagi...sanjaya sudah tiada nak...mungkin sekarang yang menjalankan bisnisnya cucu nya dan cucu mantunya,"kata kakek bercerita pada anin.
"tapi ya sudahlah...kalau mereka mau merebut tender...aku akan bicara pada rendi nanti agar tidak terlalu memaksa kekuatannya...tidak terlalu ngoyo,biarkan mereka dengan keinginan mereka...yang penting hidup rukun dan tidak ada permusuhan...satu dua tender yang melayang tidaklah membuat grup wijaya kita ini bangkrut nak,"
terang kakek pada anin,agar anin fokus untuk mempersiapkan persalinan dan tidak memikirkan permasalahkan yang di hadapi suaminya.
anin hanya terpana menatap kakek dan dengan seksama mendengarkan kakek bercerita.
sungguh ternyata lika liku hidup nya yang sampai saat ini bisa bersama suaminya ternyata tidaklah mudah...
"harusnya kak rendi memilih cucu grup sanjaya...agar kekuatan bisnin keluarga wijaya mendapatkan dukungan dari grup sanjaya...tapi dasar kak rendi malah memilih aku yang anak tidak punya apa-apa ini,"kata hati anin tiba-tiba dan isakan pelan di sana.
"loh...kok malah nangis...kakek bisa-bisa di smack down rendi nak..."ucap kakek sambil mencoba menghibur anin.
"kak rendi bodoh ya kek...ia memilihku yang tidak memiliki apa-apa...malah sebelum menikah pun dia memilih melunasi semua hutangku kek...apa tidak bodoh itu namanya kek..."ucap anin dengan mata berkaca-kaca.
"yang bodoh itu kamu nak..."ucap kakek.
"kok anin yang bodoh kek?"ucap anin sambil akan mewek.
ucap kakek yang membuat anin bahagia.
"kakek...terimakasih....,"ucap anin lirih.
"baiklah...sekarang ayo temani kakek sarapan ya nak...kakek sudah lapar..."ucap kakek mengajak cucunya untuk makan sarapan bersama.
"kak rendi belum sarapan itu tadi kek...sudah berangkat pagi buta,"kata anin pada kakeknya.
"nak...dia itu punya asisten...punya sekertaris...kok kamu yang bingung...disana pasti rendi malah bingung ngebayangin kamu sudah makan atau belum...makanya kamu yang selalu jadi prioritas utama rendi...cepat lah makan yang banyak...rendi pasti makin senang...dan jangan mikir yang macam-macam lagi ya nak...semua pasti bisa di kendalikan rendi,"ucap kakek pada anin.
lalu anin pun dengan senang hati mengambil nasi dan lauk pauk untuk kakeknya dan untuknya sendiri,keduanya menikmati makan sarapan mereka dengan penuh kehangatan dan sedikit haru di sana."
tiba-tiba telephone rumah berbunyi...dan bi ani langsung menghampirinya,lalu bibi mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"halo..."jawab bi ani yang mengangkat telephone nya.
"bi...ini rendi...istriku sudah bangun bi?"tanya rendi pada bibi.
"sudah tuan muda...apa bibi panggilkan nyonya saja?"
kata bi ani pada tuannya.
"tidak bi...istriku lagi apa bi?dia sudah makan sarapannya belum?"tanya rendi pada bibi karena ingin tahu keadaan istrinya sekarang.
"nyonya muda sedang sarapan dengan tuan sepuh sekarang tuan..."ucap bi ani pada tuan mudanya,
"baiklah bi...tolong bibi berikan telephonnya pada istriku ya..."ucap arif pada bi ani.
dan segeralah bi ani memberikan telephone rumah tanpa kabel itu pada nyonya mudanya yang tidak jauh dari tempat telephone itu.
"nyonya...ini telephone dari tuan muda..."ucap bi ani lalu memberikannya pada nyonya nya itu.
dan dengan senang hati anin menerima telephone yang di berikan bi ani itu.
"benar kan kata kakek...suamimu yang lebih khawatir timbang kamu...makanya jangan mikir yang aneh-aneh lagi ya nak..."ucap kakek dengan senang.
dan di sambut anin dengan senyum mengembangnya.
"halo kak rendi...aku lagi sarapan sama kakek...kamu sudah sarapan belum kak?"tanya anin pada suamunya itu.
"ini masih istirahat sayang...masih pesan delivery sayang...buat semua staf yang ikut rapat..."ucap rendi yang membuat istrinya itu menjadi lebih tenang.
"baiklah sayang...lanjutkan makanmu...jangan lupa minum susu nya dan istirahat cukup...siang nanti jika sudah selesai...aku pasti pulang sayang..."
ucap rendi seketika lalu mematikan telephonnya,dan anin pun menyerahkan kembali telephone tersebut pada bi ani yang masih menungguinya di samping anin.
lalu anin pun melanjutkan makannya lagi,tidak begitu lama bi ana membawakan segelas susu khusus ibu hamil untuk anin,dan dengan senang anin pun menerimanya dan meminumnya sampai habis.
__ADS_1
setiap pagi di hari minggu anin selalu mengikuti senam ibu hamil di sanggar yang tidak jauh dari rumahnya,pastilah minggu besok anin akan sendirian...karena sang suami sedang sibuk-sibuknya,namun anin tidak berharap suaminya bisa mengikutinya juga...ia bisa sendirian saja,atau di temani bi ani.