Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kabar yang membuat syock


__ADS_3

Hingga mobil keduanya sampai di depan sebuah restoran mewah namun tidak bertingkat layaknya restoran berbintang. Dan entah bagaimana ceritanya Aditya turun terlebih dahulu lalu menuju ke pintu mobil samping Ifa dan perlahan lahan membukanya untuknya.


"Duuuuaaaar!!!!" Tiba tiba suara petir menggelegar di otak ifa saat menyadari sesuatu yang janggal tengah terjadi...tengah di alaminya saat itu juga. Hingga tanpa sadar ia menatap ke arah lelaki di sampingnya itu dengan mematung dan terpaku disana.


"Kau mau terus disana dan nggak mau turun?" Ucap Aditya saat ia sudah mematung beberapa saat namun ifa hanya menatapnya dan tidak ingin bergerak sedikitpun dari sana.


"Aaah...iya...iya bos...aku keluar..." Ucap Ifa dengan suara terbata batanya.


"Buaaaakh....!!" Tiba tiba tangan Aditya mengeplak bagian atas mobilnya dengan begitu keras dan membuat ifa menciut di buatnya.


"Aaah...maaf...maaf bos...nggak akan panggil bos lagi..."


Kata Ifa saat ia sadari panggilanya lah yang membuat Aditya seperti itu.


"Lalu?" Tanya Aditya saat itu pula dengan ekspresi datar dan kata kata yang datar pula. Membuat Ifa makin sedikit tidak enak hati.


"Aku panggil mas aja...mau bos?" Ucap Ifa dengan tatapan melirik ke arah Aditya.


"Apa???!!! Bos lagi?" Sergah Aditya dengan nada meningginya.

__ADS_1


"Kau...nggak punya julukan untukku yang lebih berkelas lagi apa selain mas...kamu kira aku mas mas penjual es?"


Kata Aditya yang menolak ifa memanggilnya mas.


"Aku nggak tahu...aku nggak pernah pacaran atau memanggil lawan jenis dengan panggilan spesial."


Ucap ifa dengan nada sedihnya. Dan Aditya hanya bisa mengelus dadanya saja, Mendengar ucapan yang calon istrinya ucapkan.


"Hingga keduanya masuk ke dalam restoran, Disana terlihat begitu banyak meja dan kursi berjajar rapi, Namun pengunjungnya tidak begitu banyak. Hanya beberapa meja dan kursi saja yang terisi.


"ddddrrrrt....ddddrrrrt...." Ponsel Aditya bergetar di meja samping tanganya yang berada di atas meja yang sama.


"Halo Ga...ada apa?" Tanya Aditya saat ia sudah mengangkat telephone dari Arga.


"Lhoh...aku yang harusnya tanya...ngapain kakak ganggu kencanku dengan Nindi coba? dari tadi ponselku bunyi, Dan semuanya panggilan darimu kak!" Ucap Arga menanyakan balik apa yang kakaknya inginkan sebenarnya.


"Aaah...itu tadi...sekarang udah nggak!" Ucap singkat dan padat Aditya menimpali kata kata Arga.


"Yang benar aja kak! ini bener bener ya...kemaren seperti orang sekarat...sekarang udah berbeda lagi...mau kamu apa sih kak? jangan bikin aku khawatir napa?" Kata Arga dengan sedikit meninggi, Karena ia sudah terlalu khawatir pada kakaknya namun malah dapat balasan demikian.

__ADS_1


"Bener Ga...sekarang aku nggak kenapa napa...kamu aja yang kebanyakan nonton drama!" Ucap Aditya dengan songongnya, lalu mematikan panggilan telephonenya secara sepihak.


"Haaah...nih orang bikin emosi aja sih kalau lagi normal." Dengus Arga dalam hatinya sambil melongo karena syock dengan apa yang Aditya ucapkan.


Lalu Arga pun tak mau diam dan berakhir disitu saja, Ia pun lalu mencoba mengirim pesan pada kakaknya tersebut. Ia merasa kurang puas dengan kata kata kakaknya barusan.


"Awas kak...kalau kau butuh bantuan karena gadis itu lagi...nggak sudi aku simpati!" Ucap pesan yang Arga kirimkan pada Aditya. Dan dengan senyum remeh ia membacanya, Rasa hatinya begitu geli saat ia sadari kini ia benar benar tidak sendiri lagi, Dan tatapanya tertuju pada gadis manis berhijap yang sedang menungguinya di meja makan. Ingatanya sesaat melayang mengingat beberapa waktu lalu ia masih seperti orang gila yang baru saja mulai, Namun kini sudah berakhir dan perasaanya begitu lega, Nyawanya sudah kembali ke tubuhnya lagi. Itulah kenyataan yang Aditya rasakan kini.


"Aku nggak butuh bantuan lagi soal wanita, Aku akan menikah secepatnya." Ucap pesan balasan singkat yang Aditya kirimkan untuk Arga.


"Brak! Appaaa! apa apaan ini orang?!" Ucap Arga yang tanpa sadar, Dengan satu tangan menggebrak meja makan di hadapanya karena saking terkejutnya,


Hingga Nindi terkaget ikut melonjak menyaksikan tingkah Arga yang tanpa ia sadari sudah menjadi pusat perhatian


di Restoran mewah dan ternama di kotanya tersebut.


Sampai Nindi dengan menutup wajahnya menggunakan tasnya yang ia bawa, Saking malunya karena kedua telapak tanganya sudah tidak mampu menyembunyikan wajahnya dari tatapan orang orang yang menatapnya.


Dimana semua orang mengira Arga tengah membentaknya, Karena posisi Arga menatap ke arahnya. Berdiri di depan mejanya.

__ADS_1


__ADS_2