Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
KEPERCAYAAN.


__ADS_3

"Akh... gawat!" ucap Arga seketika. Ketika ia melihat sesuatu di leher Nindi dan ia ingin memastikannya. Terlihat Arga mengeluarkan ponselnya dan Nindi yang masih mematung disana. Arga menyalakan lampu senter ponsel ke arah wajah sampai leher Nindi hingga Nindi merasa silau dan langsung memejamkan matanya.


Tepat di arah leher Nindi, beberapa saat Arga melongo menatapnya.


Dalam hatinya begitu senang saat ia bisa membuat bekas itu dan dalam hatinya juga menangis...ia tidak mau di gampar oleh om Rendi lagi.


"Oh tuhan...kenapa kau beri aku pilihan sulit ya tuhan...? sungguh aku benar-benar ingin menggali lubang dan masuk ke dalamnya saat ini. Arga...kamu ini kenapa nggak bisa ngerem sedikit aja sih...? giat amat belajarnya sampai lupa anak orang ini kamu buat percobaan...haduh..." dengus Arga dalam hatinya.


"Ga...kamu kenapa sih sebenarnya? kenapa kamu pucat seperti ini tiba-tiba?" tanya Nindi sambil mengarahkan balik lampu sorot senter pada ponsel Arga untuk menyorot wajah ganteng Arga di depannya.


"Sayang...itu...aku buat bekas dikiiit...dikit banget kok...cuma dikit...itu nanti kira-kira di lihat papa kamu nggak sih? aku kena damprat om Rendi lagi nggak sih?" tanya Arga seketika.


"Nggak apa Ga...sudah lah...kau ini...nanti aku tak cari alasan deh buat nutupin ini." Ucap Nindi yang membuat Arga lega...namun juga sedih.


"Maaf ya sayang...aku nggak bisa ngerem...habisnya...kulit kamu kaya mashmelow...aduh...aku jadi pingin gigit deh..." ucap Arga sambil mendekat lagi.


"Hiyaaa...sudah cukup deh Ga...ayo pulang...kelewat jam malam kena damprat papa aku lagi ntar..."

__ADS_1


ucap Nindi dengan sedikit ketus di sana. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil dan mobil pun bergerak meninggalkan tempat parkir di bawah kemudi Arga.


"Sayang...maaf ya..." ucap Arga lagi yang sudah beberapa kali Nindi dengarkan. Sambil menggenggam tangan gadis itu, dan Nindi hanya melempar senyum manis kepadanya.


Setengah jam kemudian mobil yang di tumpangi keduanya sampailah pada pelataran luas rumah Wijaya. Mobil berhenti tepat di depan tangga naik pintu utama rumah Nindi.


Arga segera turun terlebih dahulu dari mobil, lalu membuka kan pintu mobil untuk Nindi. Gadis itu pun turut turun dari dalam mobil tersebut. Keduanya berjalan menuju pintu masuk yang masih tertutup rapat.


"Sayang...coba lihat...masih kelihatan nggak?" tanya Arga sambil mengangkat dagu Nindi ke atas dengan jemarinya.


"Haiiiis....sudahlah Ga...kamu ini lebay banget..." ucap Nindi dan langsung mengetok pintu utama yang lebar itu.


Dan beberapa menit terdengar pintu di buka dan bibi sudah berdiri di depan pintu.


"Bi Ani...papa dan mama mana bi?" tanya Nindi seketika.


"Tuan dan nyonya sudah istirahat nona..." jawab bi Ani.

__ADS_1


"Huft syukurlah...." dengus hati Arga.


"Yasudah sayang...aku pergi dulu ya...sudah malam...cepat istirahat ya..." ucap Arga lalu beranjak berjalan pergi. Dan terlihat Nindi melambaikan tangannya sampai mobil Arga benar-benar pergi. Kemudian Nindi pun masuk ke dalam rumah yang di ikuti bi Ani di belakangnya setelah menutup pintu.


"Ehemmmmz" dehemam Rendi tiba-tiba yang membuat Nindi terperanjat kaget bukan main. Terlihat papanya sudah berdiri di ambang anak tangga.


"Papa....Nindi pulangnya nggak telat kan pah...? Nindi masuk kamar dulu ya..." ucap Nindi lalu berjalan melewati papanya itu.


"Tunggu...! kalian tadi kemana saja? kenapa pulangnya telat?" tanya Rendi menyelidik yang membuat Nindi sedikit bergidik.


"Kami dari kamar hotel... pah..." ucap jujur Nindi.


"Apa!! ke kamar hotel? kenapa kalian sampai ke kamar hotel?" ucap Rendi yang menyela kata-kata Nindi.


"Heeeemz....itu pah...bundanya Arga ada di kamar hotel itu jadi kami kesana bertemu bundanya Arga pah...begitu..." ucap Nindi yang bisa di terima papanya. Terlihat lelaki itu.tengah manggut-manggut disana.


"Huuuuft....jantungku...." ucap Nindi yang jantungnya sudah dag, dig, dug mau copot.

__ADS_1


__ADS_2