Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
pensiun


__ADS_3

rendi benar2 takbisa mengalihkan pandangannya pada istrinya,


semua orang berhambur menjauh dari meja anin dan rendi.


kini tinggallah mereka ber 2 yg menikmati pestanya.


dari kejauhan kakek mengawasi.


slama ini memang kakek slu mengetahui apapun perkembangan berita tentang cucunya tanpa terkecuali.


meski seolah kakek tak bertanya atau berminat tahu.


namun sejujurnya kakek lah yg benar2 tahu situasi yg sebenarnya.


maka dari itu,kakek benar2 bersyukur mempunyai cucu mantu seperti anin.


di meja makan anin dan rendi.


anin menatap lekat pada hidangan yg ada di depan matanya.


matanya menatap ranpa kedip.seperti memikir kan sesuatu.


redi pun tahu apa yg di pikir istrinya.


ya...cara memotongnya...


anin menatap suaminya dengan piring makanannya.


suaminya begitu lincah tangannya memotong bagian2 daging menjadi potongan2 kecil.


lalu rendi mengangkat piringnya yg daging di atasnya sudah berupa daging dengan potongan kecil2.


di letakkannya piring itu di meja depan istrinya,


"makanlah sayang..."


ucapnya lembut.


lalu mengambil piring istrinya dengan dagingnya yg masih utuh di atasnya.


"aku potongkan lagi jika msi kurang sayang..."


"kamu perlu makan lebih untukmu dan untuk anak kita."


ucap rendi dengan senyum nya.


anin pun menerima nya dengan senang hati,


di sela makannya.


"sayang...kamu tu bener langaka bnget deh...tak ada yg bisa sepertimu",


ucap anin dengan manjanya.

__ADS_1


"apa kau akan mencintainya jika yg sepertiku lebih dari satu??"


tanya suaminya.


"haruskah aku jawab??"


ucap anin pada suaminya.


"tak perlu sayang...aku tahu jawabannya",


"meskipun ada seribu yg sepertiku...kamu tetap milikku",


ucap rendi lagi.


"nah itu pinteeer...",


kata anin menggoda suaminya.


"kau senang?"


tanya rendi pada istrinya.


"tentu...malam ini adalah malam pallliiing bahagia untukku",


ucap anin sambil merentangkan tangannya ungkapan kebahagiaannya.


"haruskah kau mengekspresikan rasa terima kasihmu itu?"


ucap rendi tiba2.


ucapnya lagi.


dengan tatapan tajam yg menembus manik mata istrinya dan senyuman yg sedikit menakutkan.


seketika anin meneguk ludahnya,


memicingkan matanya,


dan sedikit menggigit pinggir bibir bawahnya,


tat kala ia mengerti maksud ucapan suaminya itu.


tiba2 "puk" pundak rendi di tepuk,


"kakek..."


ucapnya bersamaan dengan anin.


"kau ini...kenapa membuat cucu mantuku takut",


ucap kakek yg melihat raut wajah anin.


"aku hanya sedikit bernegosiasi dengan istriku kek...apa aku salah",

__ADS_1


ucap rendi tak mau kalah.


"ia...ia lanjutkan nanti negosiasinya",


kata kakek.


"kalian sudah makannya??"


tanya kakek lagi.


"sudah kek..."


sahut anin dan rendi bebarengan.


"kalau sudah...ikut kakek ketengah2


kakek ingin mengumumkan sesuatu pada semua orang.


anin dan rendi pun mengikuti instruksi kakek.


mereka menuju ke tengah acara.


"mohon perhatiannya sebentar",


ucap aslan.


"slamat malam semua...ku harap kalian slalu setia dengan pekerjaan kalian masing2 dan slalu dukung cucuku untuk menduduki kedudukannya,


karena mulai malam ini dia akan menjadi penerusku.


jadi tetap bantu dia untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai pimpinan di tempat kerja kalian masing.


entah itu di kampus,di perusahaan,atau di hotel2 yg tersebar di kota A,"


kata kakek yg memang sudah bulat dengan keinginannya untuk pensiun.


lalu kakek pun berpamitan pada semua orang.


rendi kakek dan anin berjajar menyalami tamu undangannya,


setelah itu tamunya berpamitan pergi.


lalu terakhir neta.


"neta...kenapa kamu baru muncul??"


kata anin sambil memeluk neta,


"aku mengerti ya nin...kamu kan hanya ingin berdua dengan dosen gantengmu kan",


canda neta yg langsung di lirik rendi.


"ada yg memanggilku?"

__ADS_1


kata rendi seraya mendekat.


neta dan anin saling berpandangan lalu tawa merwka pecah.


__ADS_2