
Hingga beberapa saat, Terlihat wajah ceria Arga yang terpancar dari pandanganya, Mata berbinar senang yang begitu terlihat oleh setiap yang memandang.
"Ddddrrrt....ddddrrrt...." Ponsel Arga bergetar, Dimana ia masih berjalan baru keluar dari kamar Nindi, Ia masih berada di separuh anak tangga yang ia turuni.
Segera saja ia merogoh ponselnya dari saku kemeja yang tengah ia gunakan, Kemeja lengan panjang putih, Yang lenganya terputus oleh tiga garis berwarna biru ke kelabuan. tatapanya tertuju pada si pengirim pesan, "Future wife", Artinya adalah dari calon istrinya. Seketika ia pun membukanya dan menatap pada layar ponsel yang tengah ia pegangi.
"Ga...karena kamu tadi yang sudah nyerah duluan...berarti...kamu masih hutang penjelasan tentang rahasia yang kamu sembunyikan dengan papa...aku harap...kamu akan segera memberitahu aku!"
Ucap pesan yang baru ia baca dari Nindi.
Tiba tiba senyumnya merekah, Ia ingin sekali kembali ke kamar tadi, Dimana ia sudah meluapkan kerinduanya pada sang kekasih. Namun...dari lantai bawah, Tepatnya di meja makan...mama Anin telah memanggilnya.
"Ga...ayo sini..." Hingga mau tidak mau...Arga pun turun setelah membaca pesan Nindi, Namun ia lupa belum membalasnya, Dan hanya membacanya saja.
"Loh...Nindinya mana? mama kira tadi kamu njemput Nindi ga?" Tanya mama Anin yang terlihat keherananya. Karena Arga sudah dua kali keluar masuk dari kamar puterinya, Yaitu calon istri Arga.
"Nindi masih sibuk bedakan mah...bentar lagi nyusul kok", Ucap Arga yang langsung mencari tempat duduk untuknya dan untuk Nindi, Ia menempatkan Nindi di samping ifa, Istri kakaknya.
Hingga beberapa saat semua berkumpul di ruang makan.
Tampak meriah...dengan adanya bunda di sana.
Tiba tiba...semua mata tertuju pada sosok cantik yang baru saja menuruni anak tangga dan berjalan mendekat ke arah meja makan.
Terlihat Nindi dengan kaos baju rajut lengan panjang dengan kerah tinggi sampai menutupi semua bagian lehernya tanpa terkecuali, Berwarna abu abu yang bergaris garis, Di padukanya dengan rok hitam pendek seatas lututnya. Meski terlihat sedikit agak kegerahan...namun Nindi terpaksa memilihnya karena tidak ada cara lain untuk menutupi bekas ciuman Arga, Ia sudah mencoba menutupinya dengan syal...namun masih saja terlihat dengan jelas, Kulit putihnya yang tidak bisa menyembunyikan bercak merah kecoklatan itu dari sana.
"Loh...sayang...kamu beneran nggak enak badan ya? apa kamu nggak gerah? itu baju rajut tebel banget sayang..."
__ADS_1
Ucap mama Anin yang begitu khawatir puterinya masih sakit. Dan bunda...hanya melirik sengit ke arah Arga, Hingga sampai Arga membalasnya dengan kedua bahu yang ia angkat bersamaan.
"Akh...nggak apa apa mah...Nindi baik baik saja..." Ucapnya yang langsung berhambur ke pelukan bundanya.
"Maaf bund...Nindi baru bisa turun..." Ucap Nindi sambil berbisik di pelukan bundanya.
"Iya sayang...nggak apa apa kok...ayo duduk samping Arga..." Ucap bunda yang mempersilakan calon menantunya untuk duduk di tempat yang sudah puteranya atur untuk calon istrinya itu. Hingga acara makan malam selesai, Dan menuju ke ruang keluarga, Dimana ternyata di sana begitu banyak barang yang bunda bawa tadi.
Bahkan Anin dan Rendi pun baru menyadarinya, Karena sengaja bunda meminta para supirnya untuk memasukan barang setelah semua berkumpul di meja makan tadi.
"Ini apa mbak? kenapa semua barang barang ini tiba tiba ada disini?" Tanya Anin yang begitu kagetnya atas apa yang di bawa calon besanya itu.
"Akh...ini sih tadi buat calon mantu aku lah jeng...sudah nggak usah protes...biar Nindi yang membukanya..."
Ucap bunda yang membuat Anin terdiam, Diman ia tidak punya hak untuk menolaknya, Karena yang di beri hadiah adalah puterinya.
Dan Nindi mulai membuka satu persatu kotaknya, Terlihat...kotak pertama yang ia buka adalah perhiasan dari gelang, Kalung, Dan juga anting beserta cincinya.
"Bund...ini apa?" Tanya Nindi yang benar benar terkejut akan hadiah dari calon mertuanya itu.
"Sudah...ayo buka lagi..." Ucap Bunda yang langsung di angguki Nindi dan terlihat Nindi membuka kotak berikutnya.
Sepasang sepatu yang begitu cantik dengan heels tinggi berwarna putih kaca, Yang jelas pastilah limited edition.
Seketika mata Nindi seakan tidak bisa berkedip di buatnya,
Hingga kotak tas ber merk, Kotak dompet yang ber merk pula, Sampai...tertinggalah kotak terakhir yang begitu besar dan lumayan berat Nindi bawa, Hingga ia menaruhnya saja baru ia membuka tutupnya.
__ADS_1
Seketika mulut Nindi tak bisa bicara, Menganga tak percaya, Matanya terbelalak saking takjubnya dengan apa yang di lihatnya, Sebuah gaun pengantin warna putih bersih dengan corak luar biasa anggunya. Membuat Nindi hanya bisa menatap bundanya dengan mata yang berkaca kaca. Dan terlihat bunda hanya tersenyum dan mengangguk sebagai balasanya.
Segera saja ia berhambur ke dalam pelukan bunda calon mertuanya, " Makasih bunda...atas semua hadiahnya..." Ucap Nindi dengan pelukan hangatnya, Dan bundanya pun membalas sama. Hingga haru semua yang melihatnya.
"Oke baiklah...Arga masih ada sesuatu yang mau di omongin sama Nindi...Arga pinjam Nindinya ya sebentar..." Ucap Arga sembari meraih tangan Nindi dan mengajaknya menyendiri ke teras samping rumah.
"Oke...baiklah...sekarang kasih tahu aku...apa rahasia kamu dan papa?" Tanya Nindi seketika saat ia sudah sampai di teras samping rumahnya. Padahal Nindi saat itu masih menatap ke depan dan memunggungi Arga di belakangnya. Dengan seketika Arga pun memeluknya dari belakang. Namun Nindi merasa khawatir, Takut ada yang melihatnya, Ia pun sedikit berontak disana.
"Tunggu sayang...biarkan untuk sebentar saja...aku terlalu merindukanmu...dan maaf ya...membuatmu harus memakai pakaian tebal rajutan seperti ini...kamu pasti gerah..." Ucap bisikan Arga di sela sela pelukanya. Hingga Nindi pun akhirnya diam saja dan membiarkanya.
"Sayang...sebenernya...nggak ada rahasia apapun yang kami sembunyikan darimu, Papa hanya sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kita...sudah jadi katanya...namun aku belum melihatnya, Papa bilang...itu hadiah pernikahan yang papa dan mama berikan...kita nggak boleh nolak...hanya itu aja sayang...papa hanya minta...buat ngasih tahu kamu...kalau sudah dekat waktu pernikahan saja, Apa kau sudah lega sekarang? aku hanya menggodamu saja...nggak lebih...karena aku menyukaimu...hingga ingin sekali menjahilimu terus." Ucap jujur Arga.
Lalu Nindi pun melepas tangan Arga yang melingkari perut ratanya itu. Ia berbalik menatap ke arah sang kekasih di depanya.
"Lalu...tadi siang...yang kamu maksud dengan wanita itu siapa ga? hati ku lebih sakit saat kamu bilang seperti itu...dari pada menyembunyikan kebenaran yang papa minta, Dan aku sudah tahu pasti itu untuk kebaikanku...tapi kamu..." Ucap Nindi yang tertahan oleh jari telunjuk Arga yang sudah menempel di depan bibirnya, Sontak membuat Nindi menghentikan kata katanya.
"Sayang...coba pikirkan...apakah aku se nekat itu? apa kau yakin wanita yang aku maksud itu adalah orang lain?" Tanya Arga dengan kedua tangan yang sudah mengalung di pinggang Nindi, Hingga mengeratkan tubuhnya satu sama lain.
"Emmmb...kakak ipar?" Ucap Nindi dengan segera, Dan Arga hanya menjawab dengan gelengan kepalanya saja.
"Akh...bunda?" Ucap Nindi lagi yang sudah ketemu jawabanya. Dan Arga terlihat mengangguk, Tanda ucapan Nindi itu benar adanya. Hingga keduanya saling menatap satu sama lain dengan senyuman hangatnya.
"Sekarang...cium aku!" Ucap Arga yang membuat Nindi menggeleng menolaknya.
"Tadi aku udah nyium...aku lebihin pula...masak iya aku nggak dapat balasan?" Ucap Arga yang terlihat menggoda. Sampai akhirnya Nindi mendekatkan wajahnya dengan perlahan lahan saat Arga mulai memejamkan matanya. Namun tiba tiba...
"Nona muda...tuan muda...nyonya...nyonya...!" Ucap bibi yang baru datang dan berteriak teriak histeris disana.
__ADS_1