
"Bukgh bukgh bukg, Aaaaaaaaakkkh...kamu...kamu nyata? anda....anda memeluk saya...eh...saya peluk...anda...sembarangan....anda...aaaaakh!!!" Teriak ifa sambil kedua tanganya kompak serempak menimpuki tubuh Aditya dengan menggunakan tas yang ia bawa.
"Hei...diam!" Ucap Aditya dengan nada kerasnya, Namun ifa tidak mau diam dan tidak mau berhenti. Ia terus menggebuki tubuh Aditya dan terus berteriak. Hingga beberapa orang datang berkerumun mendekat melingkari berjajar di sekeliling keduanya.
"Ada apa ini? apa ada penguntit disini? apa yang ia lakukan padamu sampai kamu tak terima seperti itu?" Banyak pertanyaan pertanyaan orang orang yang ikut mendekat dan ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Hingga Aditya mencekal paksa kedua tangan ifa agar berhenti menjerit dan menghentikan aktivitasnya.
Namun ifa langsung mengibaskan cekalan tangan Aditya dan berdiam diri di tengah kerumunan orang.
"Kau...kenapa kau buat dia sampai seperti itu?" Tanya seseorang pada Aditya, Namun Aditya enggan mengatakan apa apa.
"Dan kau...kenapa kau berteriak teriak sambil menggebukinya? apa yang dia lakukan padamu?" Tanya seseorang lagi pada ifa yang sudah terdiam di tempatnya.
Namun ifa pun hanya menundukkan kepalanya dan terdiam di tempatnya.
"Minggir...dia istriku..." Ucap Aditya sambil menarik paksa lengan ifa dan memecah kerumunan agar ia dan ifa bisa keluar dari kurungan manusia manusia yang tengah membentuk barisan melingkarinya tersebut.
Hingga keduanya bisa keluar dari kerumunan namun malah di cegat oleh perugas keamanan yang sudah mendapatkan laporan dari seseorang.
Dan keduanya di bawa ke pos keamanan taman, Masalah makin runyam saat keduanya tidak bisa mengeluarkan surat nikah atau surat tanda keduanya adalah keluarga.
Cukup lama keduanya menunggu pengacara Aditya untuk datang ke tempat keduanya saat itu tengah tidak di izinkan untuk pergi meninggalkan tempatnya.
__ADS_1
Di sudut ruangan yang tidak begitu besar, Terlihat Aditya dan ifa tengah duduk ber jajar di kursi yang tersedia disana. Beberapa saat ifa melirik ke arah Aditya, Terlihat laki laki tersebut tengah memasang wajah dingin nan sadis. Hingga ifa pun takut untuk bersuara.
"Bos....maaf...ifa nggak ada maksud buat malu bos...ifa refleks bos...maaf..." Ucap ifa benar benar dari lubuk hatinya terdalam. Namun Aditya hanya membalasnya dengan lirikan matanya saja. Dan tanpa menoleh ke arah ifa.
"Bos...maaf..." Ucap ifa yang benar benar merasa bersalah atas apa yang ia lakukan tadi.
Barulah Aditya menoleh dan mengangguk dengan raut wajah yang sama. Datar dingin tanpa ekspresi.
"Bos...maaf..." Ucap ifa lagi yang membuat Aditya tiba tiba jengkel.
"Aku bukan bos mu!" Balas Aditya dengan nada sedikit meningginya.
"Maaf bos...aku tahu bos marah..." Ucap ifa lagi.
"Apakah itu cara anda menyuruh saya melunasi hutang hutang saya?" Tanya Ifa dengan nada lemah lembutnya yang suaranya hampir tertelan.
"Iya...aku mau kamu jadi istriku. Dan kamu nggak bisa menolaknya." Ucap Aditya dengan perasaan hampir meledak. Ia benar benar gemetaran saat itu. Sungguh ia akan pingsan di buatnya. Sampai orang yang Aditya tunggu tiba dan membantunya menyelesaikan masalahnya. Aditya mengajak ifa untuk meninggalkan tempat tersebut, Dengan patuh Ifa pun turut serta Aditya.
Mobil keduanya melaju membelah kemacetan jalan malam minggu yang begitu padat. Sampai mobil yang di kendarai nya berhenti karena kemacetan lalulintas.
"Kau tahu? ini adalah malam minggu pertama yang tak terlupakan...meski aku dapat pelukan hangatmu untuk pertama kalinya, Namun kamu memberikan lebih dengan timpukan timpukanmu...sangat sangat mantap ifa...di tambah adegan dramatis di tengah kerumunan...sungguh malam minggu yang mantap." Ucap Aditya tanpa menoleh pada ifa, Namun hanya lirikan matanya saja yang melirik ke arah gadis yang tengah duduk di sebelahnya tersebut.
"Maaf...aku tak tahu harus bilang apa lagi pada anda...aku yakin anda sudah mendengar apa yang aku utarakan bukan? maaf aku terlalu lancang dengan kebodohanku...aku tidak bisa bohong lagi sekarang apa lagi di hadapan anda...maaf..." Ucap ifa sambil menangkupkan kedua tanganya ke depan wajahnya. Dimana ia merasa sangat malu karena sudah mengungkapkan isi hatinya pada laki laki yang tidak sepantasnya ia sentuh. Ifa sudah tahu apa jawabanya dan pasti ia akan mendapat penolakan, Syukur syukur Aditya tidak menghilangkanya dari dunia itu saja sudah sangat ifa syukuri.
__ADS_1
"Ayo kita nikah!" Ucap Aditya yang membuat ifa tersentak hampir tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
"Uhuuuuukkkk!" Suara ifa tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk batuk. Ia benar benar kaget dan tidak percaya atas apa yang ia dengar barusan.
"Bos yakin?" tanya ifa yang benar benar ingin tahu kepastianya. Karena baginya Aditya adalah satu satunya lelaki yang bisa mengambil hatinya, Dan hutangnya begitu banyak padanya. Yang mungkin seumur hiduppun tidak akan bisa ia lunasi.
"Aku bukan bos kamu! berapa kali lagi aku bilang agar kamu mengerti?" Ucap Aditya dengan nada geramnya.
"Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa ingin menikahimu...kau...kembalilah dulu ke rumah, Nggak usah kerja disini lagi...aku janji nggak akan mempersulitmu lagi." Ucap Aditya dengan nada lembutnya, Kata katanya berbeda dari yang biasa ia lontarkan. Biasanya singkat padat jelas datar tanpa perasaan.
"Apakah itu tandanya bos membalas perasaan suka ku? jika dia serius...apakah ia mau kita langsung nikah dan nggak ada kata pacaran? sedangkan aku bukan apa apa di bandingkan denganya." Ucap Ifa dalam hatinya, Dimana ia bertanya tanya apakah ia pantas jika berkata demikian.
"Bos...kita akan kemana ini?" Tanya ifa lagi dengan mata yang menatap ke luara jendela.
"Astaga...." Tiba tiba sentakanya saat ia menatap ke samping dan ia dapati wajah Aditya begitu dekat pada wajahnya. Sontak kedua tanganya menutupi wajahnya.
"Sampai kapan kau akan memanggil calon suamimu bos?
aku nggak tahu lagi harus berkata apa padamu...dengan cara apa aku menyampaikan kata kataku. Kau...."
Ucap Aditya dengan gerakan tangan menepuk puncak kepala ifa dan kembali ke tempat kemudinya. Melanjutkan jalan mobilnya saat sudah tidak ada macet disana.
"Aku mau cari restoran yang mewah, Aku lapar...mau makan yang enak...malam minggu pertamaku yang begitu kelam, Membuatku kelaparan." Ucap Aditya dengan lirikan maut melirik menatap ke arah ifa.
__ADS_1