
rendi masuk ke dalam kamarnya setelah mengambil obat,
"sayang ini obat flu nya,cepat di minum biar tidak kepanjangan kamu pusingnya,"
ucap rendi sambil menyerahkan obat dan segelas air pada istrinya.
anin dengan senang hati menerima obat itu lalu meminumnya,
"aku ambilkan sarapan ya kesini?"
tanya rendi sambil akan berlalu dari depan anin.
namun anin langsung mencegahnya,
"aku cuma flu biasa kamunya sudak kayak gitu kak..."
ucap anin pada suaminya,
"lha terus??"
tanya rendi sambil keningnya berkerut.
"trus ya aku bisa turun sendiri...lalu kita sarapan sama sama lah,"ucap anin agar suaminya tidak khawatir.
"baiklah...aku tunggu di meja makan oke!"
sahut rendi lalu membiarkan istrinya itu sendiri.
anin pun mengangguk,lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi sekaligus mandi sekalian baru turun.
di dalam kamar mandi anin merasa sekelilingnya berputar-putar tiba-tiba,anin mencoba memejamkan matanya tapi saat anin buka mata,
"gelaaap",ucap dalam hatinya.
lalu anin berusaha membuka mata dan melebarkan matanya selebar lebar mungkin,barulah pelan-pelan terlihat remang-remang cahaya...dan penglihatannya normal kembali,
"aku kenapa ini?"
gumam anin sambil terduduk di lantai.
mencoba mengingat-ingat kembali sesaat lalu,pandangannya gelap,kepalanya berputar-putar,
"huuuuufffhhh...kak rendi tidak boleh tahu hal ini,"
__ADS_1
ucap anin sambil mencoba mengatur nafasnya kembali.
lalu ia pun mandi,beberapa saat setelah usai mandi lalu memakai pakaian yang berwarna jreng...penuh warna,tumben sekali ia ingin memakai pakaian yang terkesan berwarna mencolok dan menarik perhatian,padahal ia sebelumnya lebih suka memakai pakaian berwarna tidak mencolok,lalu ia pun turun menyusul suaminya yang sudah lebih dahulu turun dan menunggunya.
anin menuruni anak tangga yang entah berapa banyaknya,bahkan saat waktu pertama datang ke rumah ini,kakinya pegal naik turun tangga,tapi sekarang sudah terbiasa,dua bulan lebih sedikit ia disini menempati rumah suaminya.
dan perasaan ini seperti biasa...menyenangkan...anin membayangkan dia dulu seorang yang benar-benar jauh dari kata mampu untuk hidupnya sehari-hari.
begitu baik hatinya suami dan kakek,mau menerima anin meski bukan dari keluarga yang tergolong mampu...
bahkan tidak memiliki orangtua.
namun sekarang apa yang ia inginkan selalu terpenuhi,
bahkan ia tidak ingin apa-apa lagi sekarang.
bisa bersama suaminya saja adalah suatu berkah yang luar biasa,
hingga tanpa terasa air matanya menggenang di pelupuk mata dan hampir menetes,
dan lagi-lagi...."ngiiiing...."suara berdenging di telinganya
muncul lagi.
lalu sejenak ia berhenti,
"sayang kamu kenapa?apa yang terjadi?"
tanya rendi seketika saat melihat istrinya seperti terhuyung dan mendekatinya,seketika itu pula suara suaminya mampu mengembalikan kekuatan anin.
"aku tidak apa-apa kak,"
jawabnya lalu menuruni anak tangga dan menghampiri suaminya,memeluknya seketika,
rendi yang merasakan hari ini dari bangun tidur istrinya begitu manja pun hanya bisa membalas pelukan istrinya dengan begitu erat.
mereka tidak sadar beberapa pasang mata mengamati tingkah ke duanya.
"tuanmuda dan nyonya semakin lengket ya bi..."
bisik bi ani dengan bi ana,sambil terkikik menutup mulutnya.
mereka senang tuan rumahnya begitu bahagia.
__ADS_1
rendipun menggandeng istrinya menuju ke meja makan,
sesampainya di meja makan,makanan kesukaan anin terhidang,nasi goreng daging dan udang goreng jumbo...
dengan segelas susu hangat.
anin duduk di samping suaminya,
lalu anin menyendok satu suapan ke mulutnya,
"aku tidak suka ini,"gumamnya.
lau mencoba memakan udang goreng kesukaannya.
"aaah...rasanya kenapa tidak enak sih..."pikir anin.
"kak...tukeran piring dong.."
kata anin yang langsung menyodorkan piringnya pada suaminya.
"sayang ini sudah aku makan...kan sama saja..."
ucap rendi yang merasa aneh dengan sikap istrinya.
"pokok aku mau itu kak rend...kelihatannya enak..."
paksa anin pada suaminya lagi..
rendi hanya tersenyum dan memberikan piring nasi goreng yang sama itu pada istrinya,meski sudah di makannya sedikit,
"nasi goreng nya sama....apanya yang kelihatan enak sih?...kan sama saja,"pikir rendi.
"kak...udangnya juga dong...kakak icip sedikit-sedikit ya nanti kasih ke aku,"pinta anin lebay pada suaminya.
perintah anin itu malah yang membuat rendi semakin heran dan mengernyitkan dahinya.
"ada-ada aja sih sayang?"gumamnya.
"ayo cepet kak aku mau lalap udang nih..."
kata anin lagi yang di turuti suaminya seketika.
"dia mau lalap tinggal comot saja apa susahnya sih...malah minta tak makan separo segala,"
__ADS_1
pikir rendi sambil memberikan sisa gigitannya pada istrinya.