Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Dewasa


__ADS_3

Siang yang sangat panas, Dimana cuaca begitu mendukung saat hati Arga merasa kegerahan pula oleh ulahnya sendiri. Ia teringat akan kemarin malam...ya...saat sesuatu itu mulai menghantuinya, Perasaan ingin yang begitu kuat. Apa lagi ia benar benar merasa kikuk saat om Rendi munyekaknya tadi. Memikirkannya saja sudah membuatnya ingin terjun ke lautan lepas.


"sayang...kita nikah aja yuk...beneran nih...aku nggak kuat natap kamu lama lama, Apa lagi kamu manis kayak gini!, Kita nikah aja...aku nggak kuat tahu kamu tahan terus...dan lagi...aku juga nggak tahan jika harus di larang saat ingin bersamamu lebih lama". Ucap Arga yang memang apa adanya dan kenyataanya, Selama ini belum pernah kemauanya di tolak...keinginanya tidak ia dapatkan.


Rasanya semua apa yang ia mau keturutan.


"Ga...bisakah kita nggak bahas ini sekarang? beri aku waktu untuk memikirkanya...aku sungguh masih..." Ucap Nindi yang tertahan karena Arga makin menancapkan pedal gas mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan lumayan tinggi. Yang langsung membuat bungkam mulut Nindi yang belum menyelesaikan perkataanya barusan.


Sebenarnya Nindi hanya ingin bilang...bahwa ia sudah terlanjur masuk ke perusahaan papah nya...dan pasti butuh waktu penyesuaian...Nindi belum bisa fokus jika harus di hadapkan oleh masalah pernikahan


Namun jika Arga memaksanya...Nindi pastikan akan memilih Arga disana. Akan menyetujui lamaran kekasihnya itu. Namun Arga yang sudah tersulut emosi...ia mengira Nindi hanya mempermainkanya saja dan tidak mempedulikan perasaanya, Bahkan bukan hanya sekali dua kali ia sudah melamar nindi secara terbuka terang terangan tanpa persiapan. Namun kenyataanya slalu tolakan yang Nindi berikan.


Hingga mobil berhenti mendadak dengan sangat kerasnya tepat di teras Hotel yang Nindi tempati.


"Turunlah...aku nggak bisa nganterin sampai ke atas ya...aku masih ada urusan!" Ucap Arga tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nindi. Dan Nindi pun mengerti bahwa ucapan Arga yang dingin tersebut karena ulahnya lagi.


Hingga ia pun tanpa sadar begitu saja turun dari dalam mobil Arga, Nindi mengira...untuk saat itu Arga hanya butuh waktu sendiri tanpanya, Seperti kemarin kemarin saat yang sama.

__ADS_1


Nindi menoleh mobil Arga yang ada di belakangnya, Namun terlihat wajah Arga sama sekali tidak menoleh menatap ke arahnya. Saat itu perasaanya mulai campur aduk tidak karuan. Namun lagi lagi ia menepisnya karena Arga pasti akan kembali lagi padanya, Hanya sebuah ungkapan kecil pasti tidak melukai hatinya, Perasaan tersebutlah yang membuatnya makin kian percaya diri untuk menghadapi sikap Arga.


Pukul empat sore saat nindi bolak balik melihat pada layar ponselnya, Ia sedang menunggu kabar dari Arga, Namun sampai saat itu juga tak kunjung ia dapatkan. Nindi berada di kamar hotel lain saat itu, Memang Rendi memesan dua kamar vip untuk keluarganya.


"tok tok tok." Suara ketokan dari luar pintu kamar Nindi,


Sontak membuat Nindi terjaga melonjak dari tempatnya dan hampir meloncat saking girangnya, Ia mengira Arga lah yang sedang mengetuk di luar pintu kamar hotelnya tersebut.


Dengan riang dan bahagianya ia pun berjalan sedikit berlari menuju ke arah pintu, Tanganya bergegas membuka pintu di depanya. Betapa ia terkejutnya bahwa yang berdiri mematung di luar pintu kamarnya itu adalah mamanya, Mama Anin.


"Hai sayang...kok kenapa wajahnya berasa kecut gitu sih mama liatnya? kenapa? ada apa? emangnya yang kamu tungguin datang siapa sih?" Tanya Anin yang bertubi tubi untuk putrrinya itu.


"Jadi...nggak suka nih mama yang nyamperin? apa perlu mama balik aja?" Ucap Anin sambil akan beranjak membalikan badanya.


"Aaah mama apaan sih...!" Ucap Nindi dengan merajuk dan melepas pelukan tangan mamanya, Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk tersebut sambil tengkurap. Di tanganya masih memegang erat ponselnya.


"Ada apa sayang?Apa ada yang salah sama kalian?"

__ADS_1


Tanya Anin sambil turut duduk di samping puterinya, Dan Nindi pun beringsut menuju ke pangkuan mamanya, Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Anin untuk beberapa saat.


"Mah...Nindi salah terus di mata Arga...Nindi kesel juga sama dia." Ucap Nindi begitu saja.


"Apa masalahnya sayang?kenapa kamu bisa menghakimi Arga seperti itu?" Tanya Anin lebih dalam pada puterinya tersebut.


"Kan nindi baru aja masuk kantor papa kan ma...terus...masih harus fokus kan ngerjain tugas Nindinya...nah...apa kata para staf papa kalau tahu baru masuk beberapa hari saja langsung mau nikah? Nggak mungkin kan mah...Arga nggak mau ngerti mah...tadu Arga bilang mau kita nikah aja secepatnya...nah Nindi jawab aja belum siap mah...nyatanya begitu..." Ucap Nindi yang menurutnya paling benar.


"Sayang...kamu nolaknya yang halus...pasti kasarkan?buktinya tuh Arga ngambek kan?" Ucap Anin yang membuat Nindi mengingat kembali apa yang ia ucapkan tadi.


"Maaf mah...memang Nindi seperti itu...tapi seandainya Arga ngotot...Nindi pun pasti dengan senang mengiyakan ajakan ia kok mah..." Ucap Nindi dengan seriusnya.


"Iya udah sayang...nanti kalau mama ketemu sama Arga...biar mama kasih tahu ya...kamu cepet istirahat...nanti mama jemput pukul tujuh ya sayang...jangan sampai telat..." Ucap Anin sambil mengelus kepala puterinya itu.


Dengan senyumnya yang terlihat bahagia...Ia nyatanya begitu bahagia karena ternyata puterinya sudah dewasa dan sudah bisa menentukan sikapnya sendiri.


Hingga Anin meninggalkan Nindi seorang diri di kamar hotelnya tersebut.

__ADS_1


"Aaah...pasti Arga ada urusan pentingkan? ya...aku nggak boleh berprasangka buruk...aku akan menungguinya nanti malam...aku yakin ia akan datang menjemputku sesuai dengan apa yang telah kita sepakati." Ucap Nindi dalam hatinya, Sambil mulai memejamkan matanya, Karena dari tadi ia masuk kamar hotelnya...belum sekalipun ia bisa menutup mata.


__ADS_2