
Hingga akhir siang itu Arga dan Nindi harus terpisah karena Nindi di ajak pulang oleh papanya ke rumah, Meski hatinya sangat berat meninggalkan Arga yang masih sakit dan belum terlihat baik baik saja kala ia tinggal.
"Pah...kenapa papa nggak biarin Nindi nemani Arga aja sih pah? kasian kan Arga sendirian..." Ucap gerutu Nindi di sepanjang perjalanan pulang dengan papanya.
"Nih anak gadis satu aja susah di bilanginya ya...papa gemes papa nikahin sekarang nih kamu....mau?" Ucap Rendi yang benar benar sudah tidak tahan lagi, Telinganya sudah terlalu panas dengan ocehan ocehan puterinya.
"Iya...Nindi mau...sini...nikahin Nindi...kasian Arga tahu pah...nggak ada yang jagain...toh Nindi disana juga nggak ngapa ngapain..." Ucap Nindi dengan dengusanya lagi.
"Anak gadis nggak baik sayang....lama lama di apartemen cowoknya...apa lagi kamu anak papa sama mama...apa kata orang nanti? Arga juga bukan anak kecil yang harus bergantung padamu sayang...dia udah mimpin perusahaan besar yang berkembang pesat sampai detik ini...masak iya sakit gitu aja kamu kelabakan?" Ucap Rendi yang membuat Nindi tersadar dan agak lega di buatnya,
Karena setahu Nindi saat Arga sakit memang ia terlihat sangat manja dan kolokan.
Hingga sepanjang perjalananan pulang menudu kediamanya, Rendi dan Nindi sama sama diam dan suasana hening tercipta.
__ADS_1
"Mah...." Sapa Nindi saat ia sudah sampai di dekat mamanya yang berada di ruang keluarga, Kemudian ia berjalan cepat menuju ke arah kamarnya di lantai atas,
"Eh....nih anak....kenapa sih pah Nindi kok ngambek gitu?"
Ucap Anin saat suaminya sudah tiba dan menghampirinya dengan ciuman yang tertuju di kening sang istri.
"Itu...minta di nikahkan sekarang katanya tadi mah...
aneh aneh aja tu anak...masak iya cowoknya sakit dia yang panik uring uringan gitu...dikiranya Arga anak TK apa yang nggak bisa jaga diri." Ganti gerutu dan dengusan Rendi di samping Anin, Dengan tangan yang mengapit pinggang montok tak beraturan istrinya dan mengajaknya untuk masuk kedalam kamar.
"Aduh sayang....maaf...bukanya aku ngomel...ih ini gara gara Nindi nih...jadi gini kan papa...ngikut ngikut..." Ucap Rendi sambil mengecup pinggir kepala istrinya tanda permintaan maafnya, Dengan kata kata maafnya yang membuat Anin bisa menerimanya.
Di tempat Arga, Terlihat Arga malah sudah baik baik saja dan memerintahkan asistenya untuk mengirimkan beberapa berkas yang sudah harus ia cek dan tanda tangani disana, Maklum Arga termasuk penggila kerja kala itu. Tuntutan kerjaan membuatnya harus tetap kuat dan memang sudah jadi prioritas utamanya sebelum ia menikah, Semua yang ia bangun saat itu harus membuahkan hasil, Hingga ia kelak punya waktu luang untuk sang istri berdua. Dan tidak menyia nyiakan saat bersama sang istri.
__ADS_1
Lembur pun Arga lakukan hari itu, Mengingat semua kerjaan harus melewati seleksinya sendiri, Dan Arga amat tahu kemampuanya itu, Hingga ia tidak bisa mempercayakan satu berkaspun pada sekretaris ataupun asisten pribadinya sendiri. Karena sakit hari ini waktunya sudah terbuang seharian untuknya istirahat. Hingga lagi lagi ia lupa memberi kabar pada Nindi ataupun menjawab telephone dan pesan singkat yang masuk dari kekasihnya itu pada ponselnya.
"Tuh kan pah....mah....sejak siang tadi...Arga nggak angkat panggilan Nindi...nggak balas pesan Nindi...papa tahu nggak itu kenapa? mama tahu nggak kenapa?"
Tanya Nindi saat ketiganya berkumpul di meja makan dan menikmati makan malam bersama.
"Anak gadis satu ini mah...yang di bahas Arga terus...bosen papa tahu nggak! nih makan dulu...biar papa minta tolong orang papa nanti buat lihat keadaan Arga disana."
Ucap Rendi yang membuat lega hati Nindi seketika. Ia khawatir kekasihnya masih dalam keadaan yang sama.
Di aparteme Aditya, Keduanya tengah sibuk mempersiapkan semua pakaian dan perlengkapan yang akan keduanya bawa untuk perjalanan bisnis plus bulan madu pernikahanya, Dimana koper koper yang ia bawa lebih banyak terisi pakaian Aditya dan semua perlengkapanya ketimbang pakaian ifa, Karena ifa belum sempat belanja pakaian sama sekali sebelum maupun setelah menjadi nyonya Aditya Wibawa.
Saking sibuknya keduanya mengurus pernikahanya sampai sampai Aditya lupa pakaian istrinya, Dan ifa pun sama, Ia saat sudah mempunyai apa yang bisa ia kenakan, Baginya tidak harus menghambur hamburkan uang untuk membeli lebih banyak lagi.
__ADS_1
Statusnya pun di tempat kerjaan masih berstatus karyawan, Itu pun ifa yang memintanya, Karena ia merasa setelah menjadi istri seorang pengusaha yang bisa di bilang sukses, Tidak harus merubahnya menjadi angsa yang luar biasa, Ia menyukai kehidupanya saat itu, Bahkan dengan sangat terpaksa Aditya harus mengiyakan keinginan langka istrinya tersebut, Namun ia sudah berpesan pada pemilik butik tempat ifa bekerja, Ifa hanya boleh kerja disana paling lama lima jam dalam seharinya, Dan ada kalanya saat Aditya mengajaknya, Pemilik butik harus merelakanya dan membiarkanya, Itulah yang menjadi kesepakatan bisnis antara Aditya dan pemilik butik tempatnya bekerja, Karena Aditya sudah mau menjadi penyokong dana terbesar di butik tersebut tanpa sepengetahuan ifa. Bahkan sampai detik itu, Ifa tidak tahu kekuatan seperti apa yang di miliki suaminya. Ia hanya mampu bersyukur dengan semua yang ia dapatkan hingga detik itu. Suami yang baik dan pengertian, Serta penuh kasih...dan tidak pernah menuntutnya menjadi wanitanya yang harus sempurna, Seperti lelaki lelaki kaya pada umumnya.