
Arga terus mondar mandir di depan pintu calon pengantinya, Dimana Nindi masih belum usai dengan berdandanya, Dan terlihat gedung yang mulanya sepi itu, Kini nampak banyak orang yang datang, Hingga penuh menuju ke tempat duduk masing masing, Pukul delapan pagi, Saat semua orang sudah berkumpul, Tentunya para anggota keluarga semuanya pun sudah tiba.
Terlihat papa, Mama, Bunda, Aditya dan juga ifa yang sudah berada disana, Nampak juga Satria dan juga Yura yang sudah ikut hadir memeriahkan pesta pernikahan sahabatnya itu.
Sampai...pak penghulu tiba, Dan langsung di antar dan di kawal oleh orang Arga menuju ke tempat duduknya.
"Hai ga...tunggu apa lagi...ayo sini..." Ucap Aditya dengan teriakanya yang memanggil Arga untuk mendekat ke arah pak penghulu yang sudah duduk di tempatnya.
Sedangkan Arga masih terlihat penasaran dengan calon istrinya, Dan seketika pun berjalan cepat menuju tempatnya di kursi depan pak penghulu.
"Mari...silahkan calon mempelai wanitanya untuk menempati kursi yang telah di sediakan..." Ucap asisten pak penghulu yang meminta Nindi untuk segera datang dan menempati tempat duduk di samping Arga.
Suasana yang riyuh itupun hening seketika, Saat terlihat Nindi dengan gaun pengantinya bak bidadari dari negeri dongeng karena paras cantiknya dan postur tubuh yang menawanya, Tengah berjalan perlahan lahan melewati karpet yang sudah terbentang memanjang hingga berujung pada calon suaminya di depan sana.
Tampak Rendi tengah menggandeng sang puteri, Tangan Nindi menguat mengalung di lengan papanya, Sontak Arga terlihat menatap lurus seketika, Saat di rasakan suasana hening itu sudah mulai terasa, Tanda calon istrinya sudah tiba dan berjalan mendekat ke arahnya, Seketika saja Arga menoleh menatap ke arah belakangnya, Dan benar saja calon istrinya itu tengah berjalan perlahan di gandengan papanya, Nampak sangat cantik luar biasa, Dengan gaun putih yang ke biruanya.
Hingga sesaat Arga melupakan apa yang nanti akan ia ucapkan, Karena saking terpananya, Padahal ikrar itu yang tidak boleh sampai keliru ataupun salah, Dan sebisanya jangan sampai di ulangi hingga dua apa lagi tiga kali.
Arga sudah menghapalnya jauh jauh hari, Namun seketika saja pikiranya blank dan tidak bisa berpikir lagi.
__ADS_1
"Arga fokus....ingat lagi...apa yang nanti akan kamu ucapkan...jangan sampai buat malu keluaraga di depan banyak orang Arga...ingat...fokus...jangan terpengaruh kecantikan Nindi." Ucap Arga dalam hati, Yang berusaha menyemangati dirinya sendiri, Hingga ia pun langsung menghadap ke depan lagi, Menatap pak penghulu di depanya, Dan untungnya disana ada bolpoin di meja depanya. Langsung saja ia meminjamnya dan menulis di telapak tanganya apa yang nanti ia ucapkan, Karena bisa saja nanti ia lupakan lagi.
Sampailah Nindi pada kursi yang akan ia duduki, Dan Arga segera meraih tanganya menggantikan sang papa disana, Dan membantu calon istrinya untuk duduk disana, Di sampingnya. Suasana masih hening...sepi...semua tamu undangan pun terlihat tengah menantikan ikrar sakral mempelai berdua.
"Baiklah...mari kita mulai," Ucap pak penghulu dengan lantangnya.
"Apakah kamu mau menerima lelaki yang ada di sampingmu ini menjadi suamimu dunia akhirat?" Tanya pak penghulu pada Nindi, Dan seketika Nindi pun mengangguk mengiyakan ucapan pak penghulu.
"Anda harus menjawabnya dengan ucapan," Ucap pak penghulu lagi yang di ulangi lagi.
"Iya...saya mau," Ucap Nindi dengan lantangnya, Sembari matanya melirik ke arah calon suami di sampingnya.
"Saya mau menjadikan wanita di samping saya ini, Sebagai istri dunia akhirat saya," Ucap Arga dengan lantangnya, Lalu kemudian pak penghulu mananyai papa Rendi, Dimana...ia mau mengawinkan sendiri puterinya atau kah diwakilkan padanya saja, Dan Rendi pun berkata bahwa ia memilih mewakilkan saja pada pak penghulu.
Hingga pak penghulu pun, Lalu menyalami tangan Arga dan memeganginya erat erat. Dengan bacaan ikrar yang pak penghulu ucapkan, Sampai beliau memberi isyarat pada Arga dengan genggaman tanganya, Dan seketika itu pula Arga mulai menjawabnya.
"Saya terima, Nikah dan kawinya Nindi Wijaya binti bapak Rendi Wijaya dengan maskawinya tersebut, Dibayar tunai." Ucap Arga yang sangat lantang, Tanpa jeda dan sela, Dan tentunya dengan satu tarikan nafasnya saja, Begitu lancar dan lantang.
Lalu pak penghulu terlihat menanyai kedua saksi dari mempelai berdua, Dan terlihat semua pada manggut manggut dan berucap "Sah....sah...".
__ADS_1
Dan acara itu pun di akhiri oleh pak penghulu dengan ucapan "sahnya" dan di beri doa olehnya untuk kelanggengan mempelai berdua, Di saksikan banyak mata dan di aminkan serta di doakan semua tamu undangan yang menyaksikanya. Pagi setengah siang itu pun, Resmi Nindi Wijaya berstatus sebagai istri sah Arga sanjaya, Istri resmi dalam hukum dan agama, Hingga sorak sorai, Tepukan tangan meriah mengiringi mempelai wanita saat menyalami tangan sang suami, Dan mengecup punggung tanganya. Ditambah...Arga yang langsung menarik dagu sang istri yang masih menunduk itu, Lalu mengecup keningnya. Tampak senyum bahagia terpancar di wajah keduanya, Apa lagi semua orang yang menyaksikanya.
Lalu pak penghulu pun berpamitan pada pengantin baru tersebut, Namun sebelum pergi, Beliau memberikan dua buku Nikah pada Arga dan Nindi, Serta buku pedoman rumah tangga bahagia pada mempelai berdua.
Dan selesai semua, Para undanganpun langsung di persilakan menikmati hidangan yang ada di depan masing masing, Nampak semua begitu meriah siang itu.
Arga pun langsung mengajak sang istri untuk masuk kedalam ruangan yang sudah di persiapkan untuk studio foto, Terlihat semua sahabat dan kerabat sudah berkumpul disana.
Hingga banyak foto yang sudah di ambil, Foto foto dengan gaya romantis Arga, Membuat suasana yang melelahkan itu pun berubah menjadi ceria dan hangat.
Sampai sesi pemotretan pun sudah selesai, Dan waktunya mempelai melempar buket bunga yang ada di tanganya, Terlihat Nindi begitu antusiasnya, Dan benar saja, Saat ia melemparkanya, Nampak yura yang tengah menangkapnya. Hingga sorak sorai para gadis yang ketinggalan pun menambah riuhnya acara siang itu.
Lalu Aditya pun memanggil Arga dan Nindi, Karena sudah waktunya para undanganya berpamitan untuk pulang, Dan keduanya pun bergegas menuju podium tempatnya harus mengantarkan kepergian para tamu undanganya.
Akhirnya Arga serta Nindi pun melewati sesi tersebut dengan lancarnya, Tampak Nindi melepas sepatu heels nya, Karena tidak nyaman dan capek untuk berdiri lama menyalami para tamu yang berpamitan.
Hingga Arga menyerahkanya pada para keluarga, Karena Arga tahu, Nindi belum makan apapun sejak dari pagi tiba tadi, Dan Arga sudah berpamitan pada mama papa dan bundanya untuk ke dalam sebentar mengajak istrinya mengisi perutnya, Karena ia pun merasa sangat kelaparan siang itu.
"Sayang...malam ini di apartemen aku aja ya...kebetulan bunda mau nginap rumah baru kakak...mau ya?" Tanya Arga yang sudah menyiapkan untuk malam pertamanya.
__ADS_1
Dan Nindi hanya mengangguk mengiyakanya saja, Hingga keduanya menghabiskan makan sarapan pulus makan siang itu dengan wajah yang berbinar bahagia.