
"Duh Nindi....kamu itu ya....ngapain buang ingus di kemejaku? aku nggak bawa pakaian ganti tahu!" ucap Arga dengan geramnya.
"Lagian di dalam mobil juga ada tisu...se enaknya aja sih!" gerutu Arga lagi.
"Bos nggak tahu sih...nyesegnya seperti apa...! lagian...aku lupa akan segalanya...bukan hanya tisu." Ucap Nindi di sela isakan dan pandangan menatap samar-samar ke jalan dengan butiran-butiran kelopak bunga mawarnya yang berserakan.
"Issssh...ingusmu....!" dengus Arga lagi.
"Buang ni ingus...Nindi...aku nggak bawa pakaian ganti..." ucap Arga dengan sedikit teriakan, dan...isakan Nindi masih tersisa disana.
"Bro...jangan galak-galak dong sama pacarnya...sampai nangis itu lo...nggak kasihan apa?" kata pasangan yang sedang lewat dan ikut berteduh di sana.
"Dia bukan pacar aku!" ucap Arga sedikit kesal. Namun Nindi hanya diam saja, dan masih terlihat isakannya. Nindi lalu berjalan menuju mobil Arga, ia membuka pintu depannya dan mengambil tisu basah di laci. Dan kembali ke tempat Arga dengan membawa tisu tersebut.
Perlahan Nindi membukanya...dan mengambil beberapa lembar tisu basah, kemudian mendekat ke arah Arga yang sedang berdiri didepannya, Nindi langsung mengusap ingusnya di dada Arga tanpa pamit pada yang punya tubuh.
"Kak...sudah di sakiti kaya gitu masih saja mau ngelap-ngelap kotoran di bajunya, gue sih ogah..." ucap salah seorang pasangan yang ikut berteduh itu lagi. Namun Arga masih terdiam dan Nindi yang terus membersihkannya.
"Hey..." ucap Arga dengan memegang pergelangan tangan Nindi, dan Nindi sejenak terdiam dari aktivitasnya lalu menatap wajah Arga yang ada di hadapannya namun lebih tinggi beberapa jengkal darinya itu.
"Kamu lihat tidak? kamu nangis sedih dari tadi...galau...seperti orang yang putus cinta...dan orang yang melihatmu merasa iba, kasihan...mengira aku yang membuatmu menangis...iya tidak? udah deh...jangan nyusahin aku." Ucap Arga dengan sadisnya.
"Lu nggak tahu sih...gimana rasanya...belum pernah ada yang ngasih bunga...bilang mau beliin malah aku yang bayar sendiri...terus hilang gara-gara aku sendiri pula, sakit tahu nggak!"
ucap Nindi sambil cemberut.
"Gitu aja pake acara nangis segala...udah deh...lupain...ngak penting gitu...besok aku beliin...kalau perlu sekalian tuh sama toko-tokonya." Ucap Arga sambil tangan yang satunya menarik pinggang Nindi sampai menempel dan mengerat pada tubuhnya, sedangkan tangan yang satunya masih memegangi tangan gadis itu.
"Lepas ah ngapain sih..." dengus Nindi sambil meronta melepas.
"Kenapa nggak sekalian aja? meraka kira aku yang membuatmu menangis bukan? jadi...sekarang aku berperan sebagai kekasih yang mencoba menenangkan hatimu." Ucap Arga dengan gombalannya. Namun.ruoanya tangan Nindi begitu kuat, akhirnya pegangan tangan Arga bisa ia lepas.
Keduanya menikmati tetesan hujan yang masih betah mengguyur tersebut, lalu tiba-tiba ponsel Arga berbunyi,
segera ia mengambilnya dan melihat layar ponselnya itu.
__ADS_1
"Om Rendi." Ucap Arga sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"Masih jam sembilan lebih sedikit...ada apa ya kira-kira? masak di suruh balikin putrinya sekarang?" tanya dalam hati Arga. Lalu ia pun mengangkat panggilannya.
"Halo om...ada apa?" tanya Arga.
"Om melacak ponsel Nindi...sekarang kalian di puncak! benar tidak?" tanya om Rendi.
"Benar om...kami sedang berteduh...disini hujan deras om...
kalau maksa pulang sekarang...takutnya banyak kabut turun karena hujan...jalannya jadi nggak kelihatan,
om jangan nyuruh sekarang sampai rumah ya?" ucap Arga jujur.
"Heh...siapa yang nyuruh kalian pulang sekarang...om dapat kabar berita dari orang om, dijalanan puncak banyak longsor...dari pada kalian kejebak macet dan nggak bisa maju terus atau pun putar balik...mending cari tempat nginap saja. Ingat...om nyuruh orang buat ngawasi kalian...nyarinya dua kamar...oke?" kata om Rendi.
"Iya om...Arga nyari sekarang...takutnya nggak dapat kamar...karena yang ke jebak disini ngak hanya satu dua orang saja om." Ucap jujur Arga.
"Yasudah...cepet sono...jagain puteri om." Perintah Rendi.
"Kamu mau ikut? atau tunggu disini?" tanya Arga.
"Langsung ikut aja deh...daripada kamu bolak balik kan." Kata Nindi sambil masuk kedalam mobil menyusul Arga. Kemudian Arga mulai menjalankan mobilnya, menyusuri hujan menuju penginapan atau villa-villa kecil yang di sewakan.
Arga melirik sesekali ke arah Nindi dan ia tiba-tiba saja mendadak mengerem mobilnya saat itu.
"Hey...itu tangkai bunga ngapain masih kamu pegangi? bawa sini...gara-gara ini bunga nyusahin aja!" gerutu Arga sambil merampas tangkai-tangkai bunga yang hanya di hiasi putik-putik cantik dan beberapa daun yang sangat hijau itu, Arga lalu membuka jendela mobil dan langsung membuangnya begitu saja.
"Kenapa ngelirik aku nya kayak gitu sih? mau marah? nangis lagi? nggak terima tu tinggal tangkai doang aku buang?"
dengus kesal Arga.
"Kok kamu jadi sadis gitu sih bos?" tanya Nindi seketika.
"Aku nggak bakalan sadis kalau kamu mau jadi pacar aku." Ucap Arga dengan jelas sambil terus mengemudi, melihat-lihat villa sekitar.
__ADS_1
"Kamu nembak aku ni bos ceritanya?"
tanya Nindi penasaran.
"Nggak tahu ya ini bisa di artikan nembak apa nggak...tapi dari dulu aku nggak ngerti nembak itu yang gimana."
Ucap Arga lalu berhenti di pos ronda yang banyak orang berkerumun,
"Sepertinya ini orang-orang daerah sini yang ngojek...karena di sebelahnya berjajar banyak motor." Ucap dalam hati Arga.
"Maaf pak...bisa tolong tunjukkan villa yang di sewakan?" tanya Arga sambil membuka jendela mobilnya yang di sebelah Nindi.
"Oh mari pak saya tunjukkan villanya."
Kata salah satu bapak-bapak yang langsung memakai jas hujannya dan memacu motornya, tidak lupa ia mengisyaratkan agar Arga mengikutinya.
Lalu Arga pun mengerti dan mengikuti bapak-bapak itu.
Lima menit kemudian, motor bapak itu dan di susul mobil Arga yang masuk ke area parkir villa, dan Arga pun memarkirkan mobilnya di bawah bangunan villa tersebut, karena dibagian atas tempat parkir itu ada kamar villa.
Villa itu terdiri dari enam kamar yang ukurannya hanya muat satu tempat tidur, satu kamar mandi dalam dan satu meja yang atasnya ada tv serta dvd, di sebelah nya ada
dispenser air minum yang bisa untuk memanaskan air juga.
di bawah nya ada tempat kopi teh dan gula. Serta satu meja rias dan satu kursi.
"Tuan...tinggal satu kamar saja...ambil tidak?" ucap laki-laki tua yang baru tiba setelah berbincang-bincang dengan pemilik villa.
"Saya pesan dua kamar pak...atau seluruh villa ini deh saya sewa semalam saja." Ucap Arga.
"Masalahnya bukan tidak boleh disewa semuanya pak...tapi sudah ada yang menempati di kamar-kamar yang lain...lagi rame pak...apa lagi katanya di jalan pegunungan sana ada longsor...jadi banyak yang nginap...kalau bapak lepaskan...belum tentu bapak dapat tempat di tempat lain." Ucap jujur bapak itu.
"Gimana kamu...? mau nggak berbagi ranjang denganku?" tanya Arga jujur.
"Aslinya ogah deh...tapi kalau nggak ada kamar lain...nggak apa lah...dari pada tidur di mobil kan..." ucap Nindi mengiyakan meski berat. Tapi Nindi segera mengabari mamanya agar tidak menungguinya. Keduanya pun masuk ke kamar yang paling atas dan pojok, setelah membayar villa selama semalam sebesar tigaratus ribu, dan itu juga uang Nindi lagi.
__ADS_1