Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kendala fitting


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Nindi sesekali melirik ke arah Arga, Bayanganya melayang, Dimana saat kelak ia dan Arga sudah tinggal bersama dan hanya berdua saja, Akankah ia bisa menjadi istri idaman Arga, Mampu jadi pelengkap hidupnya, Karena selama ini Arga yang terlalu banyak berperan dalam hubungan mereka, Arga yang selalu teliti di setiap hal, Arga yang selalu menyelesaikan semua masalahnya, Dan Nindi tak pernah sekalipun bisa melakukan apapun yang bisa membantu Arga, Yang Nindi bisa hanya selalu menyusahkanya dan membuat Arga terkena masalah.


"Ada apa? apa aku makin tampan? belum puas menatapku?" Tanya Arga saat tanpa sadar memergoki Nindi tengah menatap terus ke arahnya.


"Akh...maaf...nggak ada niat apa apa kok", Ucap nindi sambil mengalihkan pandanganya ke arah depan, Menatap ke jalan depan yang begitu gelap dan hanya di terangi lampu sorot mobil yang melintas.


"Ada apa sayang? kamu tuh nggak biasanya loh kayak gini...jujur sama abang? eh aa...bebeb deh...!" Ucap Arga yang membuat Nindi jadi ketawa terpingkal pingkal, Karena sebutan yang Arga sebutkan tadi tidak masuk kriterianya sama sekali.


"Apaan sih ga...garing banget deh..." Dengus Nindi yang terlihat sudah ceria lagi. Hingga tanpa terasa perjalananya sudah sampai di depan pintu gerbang kediaman Rendi Wijaya.


"Aku nggak masuk ya sayang...aku disini aja...nggak apa apa kan?" Ucap Arga sembari menyunggingkan senyumanya, Ia khawatir jika ia masuk pastilah akan lebih lama pulangnya, Jika bertemu mama dan papa, Pastilah ngobrol sebentar, Apa lagi kalau ketemu Evan, Pasti ia tidak bisa kalau tidak menggendong calon adik iparnya itu.


Dan Nindi hanya mengangguk mengiyakanya saja.


"Sampai ketemu besok ya..." Ucap Nindi sembari turun dari dalam mobilnya, Dan tangan yang melambai mengantarkan Arga untuk pergi. Dan sebelum pergi, Arga mengisyaratkan kedua jarinya yang ia tempelkan di telinganya sampai bibirnya, Isyarat akan memberi kabar setelah sampai apartemen. Dan Nindi dengan anggukanya, Mengisyaratkan bahwa ia mengerti apa yang Arga lakukan.


Hingga setelah mobil Arga tak terlihat pandangan matanya lagi, Nindi pun masuk kedalam, Melewati pintu gerbang, Dan saapaan pak satpam penjaga pun ia lewati begitu saja, Sampai terlihat mobilnya sudah sampai saja di depan rumahnya. Hingga Nindi balik lagi ke pos satpam dan bertanya pada pak satpam.

__ADS_1


"Pak...yang bawa mobilku ke rumah siapa pak?" Tanya Nindi pada satpam yang bertugas.


"Oh...itu non...supirnya den Arga katanya tadi", Ucap pak satpam yang membuat Nindi pun mengerti, Lalu ia pun langsung masuk ke dalam rumah, Di mana di tanganya ada bingkisan yang calon kakak iparnya itu berikan padanya tadi.


"Sayang...sudah pulang?" Tanya mama saat Nindi baru masuk ke dalam rumahnya, Terlihat mama sudah duduk di depan televisi, Dan sepertinya sedang menungguinya.


"Mama sengaja nungguin aku?" Tanya Nindi sembari menghampiri mamanya dan mengecup pipinya.


"Lagi nungguin papa kamu tuh...udah bilang sih...kalau bakal pulang malam...karena perginya juga tadi udah malam sayang...kamu udah makan?" Tanya mama yang langsung di angguki Nindi, Dan Nindi pun langsung memberikan bingkisan di tanganya itu pada mamanya.


"Nindi capek mah...Nindi tinggal ke kamar dulu ya..." Ucap Nindi yang langsung di angguki mamanya, Ia pun bergegas masuk kedalam kamarnya, Beristirahat malam dengan badan lelahnya.


Dan bunda pun sudah balik lagi ke Negara yang di tinggali puteranya, Pagi setengah siang itu, Semua berkumpul di butik yang keduanya pesan, Sangat ramai...mulai dari papa mama, Bunda, Aditya beserta sang istri, Dan tak lupa tentunya kedua mempelai, Sikecil Evan pun tak ketinggalan,


Semua nampak sibuk dengan gaun masing masing, Karena hari itu adalah hari fitting terakhirnya, Dua minggu lagi akan di pakai di acara pernikahan Arga dan Nindi.


Nampak fitting hari itu berjalan lancar dan tanpa hambatan, Dimana Nindi makin kurusan karena stres, Namun Arga tidak berkurang ataupun bertambah berat badanya.

__ADS_1


"Aduh...calon mempelai wanitanya agak kurusan ya? usahain ke berat badan normal ya cantik...nanti seminggu lagi kamu dan calon mempelai pria nya harus fitting lagi...untuk yang terakhir, Dan untuk yang lain...sudah pas semua", Ucap si pemilik butik dan juga desainer yang tengah mengerjakan gaun pengantin Nindi serta Arga,


Nampak semua sedikit mengernyitkan dahi, Apa lagi mama Anin, Ia yang terlalu sibuk mengurus putera keduanya itu pun merasa sedikit sedih, Hingga tak sadar sang puteri tengah turun berat badanya, Alias kurusan.


Sedangkan Arga, Ia langsung saja mengajak semua keluarga besarnya dan juga keluarga calon istrinya itu menuju ke restoran daging bakar kesukaan Nindi, Setelah acara fitting selesai.


Mama satu mobil dengan papa dan Evan, Bunda satu mobil dengan Aditya dan juga ifa, Karena setelah acara, Bunda akan berkunjung ke rumah baru Aditya, Bunda baru kemarin tiba dari Luar Negeri, Dan penasaran akan rumah baru putera keduanya itu, Sedangkan Arga, Pastilah satu mobil dengan calon istrinya.


Sesekali Arga melirik Nindi dari sampingnya, Nampak diam dan hening sepanjang perjalanan, Arga tahu pastilah sangat berat untuk Nindi menjelang acara pernikahanya, Dimana ia akan meninggalkan kedua orang tuanya dan hidup bersamanya sampai seterusnya.


"Maaf..." Ucap Arga tiba tiba, Hingga membuat Nindi menoleh ke arahnya.


"Untuk apa ga? kenapa minta maaf segala sayang?" Ucap Nindi sembari mengerlingkan senyum di bibirnya, Tanda ia baik baik saja.


"Aku tidak memperhatikanmu akhir akhir ini, Karena sibuk dengan kerjaan aku...ku kira...setelah maraton menyelesaikan semua kerjaan, Dan bakal fokus pada pernikahan, Namun...aku salah...kau jadi terabaikan...maaf..." Ucap Arga yang membuat Nindi hampir menangis, Dimana ia kurusan bukan karena stres menghadapi pernikahan, Melainkan memang ia sengaja nggak nafsu makan saja.


"Jangan minta maaf lagi ya sayang...aku kurusan emang aku lagi diet...aku khawatir makin melar dan gaun pengantin nggak muat, Karena kamu sering ngasih makan aku yang enak enak. Ucap Nindi dengan senyuman manisnya, Dimana tangan Arga seketika menggenggam jemari tanganya dan memeluknya di dada, Sangat erat dan hangat.

__ADS_1


"Duh...jangan nyetir dengan satu tangan sayang...kamu nggak apa apa...aku yang jantungan..." Ucap Nindi yang membuat Arga sedikit tersenyum. Hingga perjalan menuju ke restoran itu pun begitu menyenangkan.


__ADS_2