Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
beban berat


__ADS_3

anin yg merasa sangat sensitif itu karena hormon kehamilannya pun sedikit tak terima dengan kelakuan suaminya.


meski disini anin yg di pojokkan ibu2 yg bergosip itu,


namun anin masih punya hati...apa setimpal yg mereka lakukan hingga mereka harus di laporkan pihak berwajib.


"kau kelewatan kak rend",


kata anin dengan membuang muka menatap ke jendela luar mobil.


berhentilah mobil tepat di tangga depan pintu utama rumah rendi.


saat rendi hendak turun dari mobil nya dan berniat membukakan pintu mobil untuk istrinya,


anin lebih dahulu turun dari mobil yg di kemudikan suaminya.


anin terus berjalan masuk ke dalam rumah,tanpa menoleh atau menunggu suaminya seperti biasa,


rendi pun menyadari istrinya sedang marah...dia juga tau...kesalahan yg telah di perbuatnya.


rendi yg masih di dlm mobilnya pun masih tertegun dengan sikap istrinya.


"kenapa wanita tak mau salah sih...se enaknya saja...aku begini kan karena membelamu sayang..."


gerutu rendi sambil mengacak2 rambutnya.


lalu rendi mencoba menelfon seseorang.


"kau urus mereka supaya jera lalu lepaskan mereka",


perintah rendi untuk seseorang di dalam telfonnya.


"kau menang lagi sayang",


ucap lirih rendi.


"tapi...akan ku buat ini seru sayang...kau yg memintanya...jangan salahkan aku",


kata rendi dengan senyum liciknya


lalu rendi turun dari mobilnya,menaiki tangga menuju pintu utama,


"tuan...nannti jadi di antar ke kediaman tuan sepuh tuan?"


kata pak totok saat berpapasan dengan rendi.


"jadi pak...pake mobil itu saja...sudah siap juga kan pak...barang2 kemaren tolong di masukkan mobil sekalian pak...nanti kelupaan",


ucap rendi dan berlalu pergi saat pak totok sudah mengangguk mengerti.


rendi bergegas masuk ke dalam rumah,


matanya mencari ke seluruh arah,


lalu di dapatinya istrinya sedang menunggunya untuk sarapan di depan meja makan.


rendi pun duduk tanpa menyapa istrinya.


mengambil piring sendiri tanpa mempedulikan istrinya yg sedang mengambilkan ia makanan.


lalu dengan segera anin pun menaruh piring yg harusnya untuk suaminya itu di hadapannya.


ia memakannya sendiri.


anin pun menjadi tak karuan melihat perubahan sikap suaminya,

__ADS_1


lalu ia mulai pembicaraan yg hening itu...


"nanti jadi kerumah kakek?"


tanya anin dengan canggungnya.


"ya"


jawab rendi tanpa menoleh pada istrinya.


"harusnya kan aku yg marah....kenapa jadi dia yg marah si..."


sungut anin dalam hatinya yg tanpa sadar bibirnya monyong.


sesekali rendi melirik reaksi istrinya.


"kena kau....siapa suruh berhati lunak",


gumam dalam hati rendi.


lalu rendi menghabiskan makanannya.


dan pergi meninggalkan istrinya yg sedang menikmati sarapannya.


"enak kau...aku kerjai",


gumam rendi tanpa menoleh pada anin.


berlalu menuju kamar nya.


anin pun merasa hatinya sakit dengan perlakuan rendi.


"kak...kenapa kau tak mengerti perasaanku kak...kenapa??"


tanya dalam hati anin.


bi ani yg merapikan meja makan pun menghampiri nyonya nya,


"nyonya....nyonya kenapa??ada apa?"


ucap bi ani.


"tak apa bik...ada debu yg masuk kedalam mataku bi..."


ucap anin lirih sembari beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya.


di dalam kamar nya,


rendi sungguh2 tak tega sebenarnya berlaku acuh pada istrinya,


namun rendi hanya memerankan kelanjutan yg di lakukan istrinya padanya.


rendi mengeringkan rambutnya yg basah dengan handuk yg ada di tangannya,ia berada di luar jendela besar kamarnya,


di balkon.


anin saat itu yg langsung melihat suaminya disana pun ikut mendekat,


ia menarik lengan suaminya hingga terduduk,


lalu ia mengambil handuk suaminya dan membantunya mengeringkan rambutnya.


ia berdiri di hadapan rendi.


rendi yg menyadari tingkah istrinya pun melanjutkan aksinya.

__ADS_1


sebenarnya saat itu juga rendi ingin memakan isyrinya.


(ibarat saking gemasnya),


"aku bisa sendiri",


ucap acuh rendi sambil mengambil handuk yg ada di kepalanya.


tangan anin pun menepisnya.


"kau sudah tak ingin aku sentuh?'


tanya anin yg membuat rendi menahan tawanya sebisa mungkin.


"bukankah kau yg tidak mau aku sentuh"


balas rendi.


"kau yg dari tadi mengacuhkanku"


sloroh anin.


"kau yg mengacuhkanku duluan..."


jawab rendi dengan nada yg gemas sudah tidak tahan.


rendi pun bangkit dari duduknya,perlahan ia bergerak mendekat ke arah anin dengan mata menajamnya,


anin pun ikut mundur2 ke belakang sampai ia mentok tersudut di pembatas pinggir balkon yg hanya setinggi dada orang dewasa.


ke2 tangan rendi berada di kedua sisi istrinya,


mengurungnya.


anin pun menatap lekat pada wajah suaminya.


"kenapa kak rend?ada apa?"


perasaan anin campur aduk.


"apa kau tak mau aku menyentuhmu sayang?"


bisiknya di telinga istrinya.


anin pun menggeleng.


"harusnya kau tau kak rend",


ucap anin,


yg membuat wajah rendi berbinar senang...


"untung kau pintar sayang",


ucap rendi yg langsung menghujani ciuman di bibir istrinya.


lalu menggiringnya ke tempat tidur.


saat anin merasakan sesuatu yg besar itu muncul...rendi pun menyudahinya,


keduanya terkapar seakan melepas beban berat yg di pikulnya barusan.


"sayang...cepatlah mandi...kita akan berkunjung ke rumah kakek,"


kata rendi saat sudah beberapa waktu mereka beristirahat.

__ADS_1


"aku sudah melepaska ibu2 itu dari sejak kau turun dari mobil tadi,jangan ngambek lagi ya...dan jangan menguji kesabaranku.


kata rendi dengan pelukan yg masih erat.


__ADS_2