
di tempat arga,
"audry bisakah kau agak menjauh sedikit?aku tidak mau mematahkan hati para lelaki yang menatap kita di belakang itu,"ucap arga dengan nada bersahabatnya,
"oh arga...kau menyadarinya begitu cepat,aku hanya ingin memanfaatkan moment ini saja,"ucap audry sambil sedikit menjauh dari lengan arga.
"kekasihmu mana?harusnya kau ajak sekalian untuk menutup hati laki laki yang ada beberapa di sana,"ucap arga menimpali perkataan audry,
"sengaja ga aku sembunyikan dia...aku nggak mau dia jadi tujuan jahat mereka semua seperti yang di alami mama ku dulu ga,"ucap audry dengan seriusnya.dan arga tahu kisah kelam keluarga audry rasta,keluarga terkemuka itu sempat heboh lantaran ibunda audry yang di nyatakan mengalami gangguan mental karena tekanan para wartawan dan pencari berita.
"dddddrrrrtttt.....ddddddrrrrttt...."lagi lagi panggilan masuk pada ponsel arga.arga pun lalu merogoh kantongnya,ia mengambil ponsel itu dari saku jas nya.
arga pun lalu mengangkat panggilan dari kekasihnya itu,
di saat bersamaan...
"hemmmz...."audry meraih kepala arga dengan tangannya,sesaat pelukan audry pada kepala arga yang di lakukan audry sambil berpamitan pergi,karena ia tidak ingin mengganggu acara telephone arga.terlebih lagi...
karena posisi duduk arga yang menempel pada pembatas balkon.audry hanya bisa meraih kepala arga saja.tanoa audry sadari siapa yang menelephone arga itu.
__ADS_1
"nikmati waktumu...aku pergi dulu,"ucap audry sambil berlalu begitu saja,
tanpa tersadar nindi pun melihat kejadian yang tak terduga itu,meski itu hanya pelukan dari sahabat.
arga pun tak mengelak,karena mungkin ia akan berjumpa dengan audry lagi saat gadis itu melangsungkan pernikahan.
"arga kau tidak mengangkat panggilanku karena asyik pacaran ya?kau selingkuh...aku melihatnya dari sini langsung nyata!"ucap nerocos nindi di sertai bentakan bentakannya.
"yang selingkuh ya siapa sih sayang?kapan?dimana?sama siapa?"ucap arga mengelak perkataan nindi,namun nindi yang sudah tersulut emosi pun tidak mampu membendung kecemburuannya pada arga,karena bermodalkan apa yang di lihatnya dengan mata kepala nya sendiri itu fakta.
"nindi...aku akan matikan ponselku lagi jika kau terus seperti ini,menuduhku dengan alasan nggak jelas,aku selalu jujur padamu...sikapmu...jangan seperti wanita wanita itu,aku nggak suka."ucap arga dengan mematikan ponselnya lagi.
"gadis itu se enaknya saja,brengsek,"gerutu arga dengan umpatan umpatannya yang tidak suka.kemudian sekelompok eksekutif muda mendatanginya,melakukan tanya jawab yang membuat sekelompok pemuda itu menjadi tambah wawasan.arga pun dengan tenang memjawab perbincangan mereka.
ia barusaja masuk ke dalam apartemen nya,lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur,tidak lupa sebelum itu ia melepas dasi dan sepatu nya.tiba tiba terdengan bel
pintu berbunyi.
"sial...siapa sih yang berani mengganggu ke tenanganku!"
__ADS_1
gerutu aditya sambil beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mendekat ke arah pintu.setelah sampai di depan pintu,aditya mengintip dari kamera yang ada di pinggir pintunya,itu orang suruhannya yang ia suruh mengawasi difa.dengan pelan ia pun membuka pintunya,
"ada apa?"sahut aditya saat ia berhadapan dengan orang suruhannya itu,dan orang itu pun langsung menunduk sambil mengeratkan kedua tangannya.
"tuan...ibu dari nona itu kambuh lagi tuan...dan sekarang masuk ruang operasi pemasangan ring jantung,"ucap laki laki itu memberi kabar yang ia dengar dari dokter yang menangani.
"apa urusannya padaku,biarkan saja ia urus sendiri,"
ucap aditya dengan sadisnya,lalu menutup pintunya rapat rapat.
sesaat...ia mengingat...untuk ganti rugi hanya lima puluh juta saja ia akan mengangsur sampai bertahun tahun...apa lagi untuk pasang ring jantung,nunggu ibunya mati baru pasang?"dengus sedikit khawatir aditya.
lalu terlihat ia menelephone seseorang dari telephone apartemen nya.
"kau urus semuanya,jangan biarkan dia tahu,"ucap aditya pada orang suruhannya di telephone,kemudian ia menutup telephone nya dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"kenapa semua wanita merepotkan sekali,"
ucap aditya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
di tempat ifa,
ia terduduk lemas di depan ruang operasi,ia bingung ia tidak tahu kemana ia mencari uang empat puluh sampai delapan puluh juta lagi,sedangkan nyawa ibunya ada di tangannya.kakinya menekuk dan kepalanya menyandar pada lututnya yang terasa lemas.ia tidak ingin melihat ibunya mati perlahan tanpa ia harus berbuat apa apa.namun...ia terkejut saat lampu operasi itu tiba tiba menyala merah,tanda operasi ibunya sedang berlangsung,dan padahal ia belum membayar sepeserpun itu.