
Arga berlalu pergi dari hotel tempat bundanya menginap dan juga hotel yang merupakan Arga pemilik saham terbesar nya. Ia bergegas menuju tempat parkir dimana mobil nya di parkir. Sedangkan di benaknya hanya ada nama seorang gadis. "Nindi."
Ia bergegas masuk ke dalam mobil nya, menancap gas nya lalu menembus jalanan malam yang lengang kala itu.
"Sungguh si Nindi tuh ya...apa keseringan dapat panggilan sayang sih dari lawan jenis nya? hingga tak sadar itu aku?" ucap gerutu dalam hati Arga yang bercampur dengan dengusan kesal.
"Oh tuhan...benar-benar baru kali ini aku di buat seperti orang bego begini hanya karena satu gadis." Dengus Arga lagi.
Di dalam kamar Nindi. Gadis itu tengah mengingat-ingat...siapa cowok yang tadi akrap mengiriminya pesan.
"Seumur-umur baru kali ini ada pesan masuk di ponsel aku yang memanggil sayang, atau jangan jangan itu Arga?ah...Arga darimana bisa tahu nomer aku? tapi...secara ya dia pernah bawa ponsel aku tuh." Ucap dalam hati Nindi lagi. Lalu ia pun memutuskan untuk menelpon balik ke nomer tersebut. Ia ingin memastikannya lagi.
Nindi meraih ponselnya yang ada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Ia memencet nomor cantik itu dan tersambung.
"Tuuuuut.....tuuuuuuut.....tuuuuuut....." terdengar telephon nya tersambung namun belum ada yang mengangkat.
__ADS_1
Di mobil Arga.
Arga menghentikan mobilnya tepat di samping gerbang rumah Nindi, karena di depan ada pak satpam yang siaga dua puluh empat jam.
Terdengar ponselnya berbunyi, sontak ia meraihnya dan menjawabnya, karena ia langsung tahu itu dari pujaan hati.
"Halo sayang...sudah puas maki-maki aku nya? nggak kurang? biar sekalian aku kenyang makan omelan kamu." Ucap Arga dengan nada lembutnya, namun begitu mengena. Yang seketika membuat Nindi membelalakan kedua matanya serta bibir menganga karena saking kaget nya.
"Hah...ini Arga?! bener-bener deh...aku harus apa ini...dia aku maki-maki tadi." Ucap dalam hati Nindi sebelum ia menjawab ucapan Arga di seberang telponnya.
"Ga...maaf sayang...kamu marah? aku nggak tahu Ga...kamu...kapan kamu nyimpan nomor kamu di ponsel aku?"
"Sayang...apa itu penting? sekarang yang lebih penting...hatiku sakit...saat ini karena mu." Ucap lebay Arga.
"Sayang...aduh...maaf-maaf...jika aku bisa pinjam pintu kemana aja nya doraemon...aku akan ke tempat mu sekarang dan nyembuhin hatimu yang aku buat luka." Ucap lebih lebay Nindi sebagai balasannya. Gadis itu tidak tahu jika Arga sudah ada di depan rumahnya saat itu.
__ADS_1
"Kau serius sayang?" tanya Arga yang sudah cengar-cengir di depan pintu gerbang pagar rumah Nindi.
"Kapan aku tidak pernah serius yang? "balas Nindi.
"Kau mau bertemu denganku dan menghiburku yang sekarang? meredakan sesak yang masih tertinggal ini?" tanya Arga lagi.
"Iya...yang..." balas Nindi yang dia kira Arga masih di tempat nya saat ini, dan ia tidak tahu jika Arga sudah berada di depan pintu gerbang pagar rumah nya.
"Yang...keluarlah sekarang...aku ada di depan pintu gerbangmu...aku ingin di hibur kamu nih." Ucap Arga yang sontak membuat Nindi lngsung terperanjat kaget.
"Oh tuhan...Arga ini benar-benar ya, nggak bisa di anggap enteng...nggak bisa di bercandain...dia serius..." ucap dalam hati Nindi. Namun bibirnya menyunggingkan senyuman disana.
"Iya udah Ga...tunggu di sana ya...aku keluar sekarang..." ucap Nindi lalu bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan keluar menuju luar rumahnya. Ia berjalan berjinjit-jinjit, mengendap-endap agar papa dan mama nya tidak tahu.
Sesampainya di depan pagar besar rumahnya itu yang memisahkan area rumah dengan jalan di luar rumah nya.
__ADS_1
Nindi keluar dari pintu kecil samping gerbang, terlihat disana Arga sedang berbincang dengan pak satpam yang sudah kenal dengan Arga sanjaya.
"Kau sudah lama di sini yang?" tanya Nindi sambil berjalan mendekat ke arah Arga, dengan senyum merekahnya ia menyambut kedatangan Nindi. Arga membentangkan tangannya saat itu lalu Nindi pun berhambur masuk ke dalam pelukannya.