
"lepaskan dia"...
perintah rendi pada dua pria bertubuh besar dan berwajah sangar.lalu dengan patuh di lepaskannya,
"kalian pergilah,dan jangan terlalu mencolok,"
kata perintah rendi lagi.
"baik tuan"
jawab ke dua pria tersebut dengan hormatnya lalu memohon diri.
gilang sempoyongan lalu menahan tubuhnya dengan bersandar di podon terdekatnya.
"kau tidak punya otak hah?"
kata gilang yang di tujukan pada rendi.
"masih berani ngomong kamu?"
ucap rendi yang tangannya langsung mencengkeram kerah baju gilang.
"cukup!"
teriak anin.
"aku bilang ini semua salah paham...apa kalian berdua tidak mengerti kata-kata ku??"
ucap anin dengan berteriak lantang.
"apa aku harus seperti ini agar kamu besok masuk berita utama di tv?di koran dan majalah hah?"
kata anin benar-benar sudah kehilangan kesabarannya.
rendi pun ikut khawatir...karena ini baru pertama kalinya melihat sikap istrinya yang seperti hilang kendali atas sikap nya.
"baiklah sayang...aku percaya...percaya..."
ucap rendi dengan nada halusnya,
lalu menggandeng tubuh istrinya masuk ke dalam mobil.
"kak rend...dia juga butuh pengobatan...kamu menghantamnya dengan membabi buta...apa kau tega meninggalkannya setelah salah paham yang seperti ini?"
__ADS_1
ucap memelas anin pada suaminya.
"aku belum tahu kenapa dari tadi kamu bilang aku salah paham terus...kamu masih berhutang penjelasan padaku,"
kata rendi yang langsung memapah tubuh gilang masuk ke dalam mobilnya.
mobil melaju menuju rumah rendi,dan di depan pintu sudah di sambut bi ani dan bi ana,
"slamat malam tuan dan nyonya muda,tuan....apa yang terjadi?"..teriak bi ana dengan histerisnya.
"hanya salah paham bi...cepat ambilkan kotak obat dulu,lalu telephone dokter henri kemari sekarang"
perintah rendi.
tidak begitu lama bi ani membawa dua kantong es batu,anin bergegas menerimanya lalu mengompreskan pada memar di pipi suaminya.
"aduh pelan sedikit sayang...ini menyakitkan"
protes rendi sambil menggenggam tangan istrinya yang memegangi kantong es di sana.
"ciiih...kau laki-laki apa perempuan,begini saja rewel,"
gumam gilang.
tidak begitu lama dokter henri pun datang.
"rend...kenapa bisa sampai begini kamu?seperti anak kecil saja...awas saja besok kalau sampai beritamu ini jadi topik utama,"sloroh dokter henri dengan sedikit cekikikannya.
"cepat obati dok...jangn cuma mengejek saja."
ucap rendi dengan dengusan kesalnya.
"baiklah...aku sudah memberi obat anti nyeri dan anti biotik...jadi aman lah untuk saat ini,cepat di minum obatnya agar memar itu cepat hilang,"
ucap dekter henri,lalu dokter henri pun pamit undur diri.
saat semua sudah dirasa damai...anin mulai percakapannya,memberitahu yang sebenarnya pada suaminya,
dan ternyata itu semua benar-benar hanya salah paham,karena termakan cemburu saja melihat istrinya di peluk laki-laki lain,rendi sampai seperti ini.
"jika kau berani menyentuh istriku lagi...kupastikan kau akan hilang dari hadapanku,"
ucap rendi mengancam.
__ADS_1
"lalu kau...jika kau membolehkan laki-laki lain menyentuhmu lagi...akan ku pastikan menghukummu sesukaku."
ancam rendi pada istrinya,yang membuat anin bergidik,
"kenapa lebih menyeramkan dari ancaman gilang sih kak,"
ucap anin protes.
lalu "cetak",
"auuuh" anin mengaduh karena keningnya di sentil rendi
"hei kau...cepat sana pulang...aku ingin menghukum istriku,jangan sekali-kali kau mengganggunya lagi,"
ucap rendi yang langsung di turuti gilang,
"pak supir...tolong antar orang ini pulang,"
perintah rendi pada supirnya,
lalu rendi masuk kedalam rumah,yang langsung di jalankan oleh pak supirnya apa yang di perintahkan tuannya.
"bantu aku naik,"
kata rendi dengan wajah di tekuknya masih tersisa sedikit dongkol di hatinya.
"apa kamu masih marah??kenapa wajahmu begitu dingin??"
tanya anin pada suaminya yang diam-diam dari tadi anin meliriknya.
"gara-gata kamu aku begini,"
jawab rendi.
"maafkan aku kak...aku tidak bermaksud..."
sebelum ucapannya berlanjut,rendi sudah langsung mencium lalu menghujani bibir anin dengan ciumannya,menaiki anak tangga sampai membuka pintu kamarnya,lalu mendorong tubuh istrinya hingga terjerembab ke atas pembaringan,
dengan cepat rendi membuka dasinya,kedua kancing di pergelangan tangannya.kemudian menarik ke atas paksa kemejanya,
"kak rend...apa kau baik-baik saja untuk ini?"tanya anin yang membuat rendi menghentika aktivitasnya sejenak,
"kenapa kau bertanya begitu?apa kau takut aku tidak bisa memuaskanmu?"dan langsung melahap habis tubuh istrinya.kemudian mereka terlelap karena kelelahan.
__ADS_1