Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kesibukan


__ADS_3

Di kediaman Aditya Wibawa, Rumah barunya nampak begitu meriah dengan para orang Aditya yang terlihat mengantar semua barang barang serta bingkisan yang akan nanti di bagikan pada para tetangga, Tanda syukuran telah menempati rumah barunya tersebut.


"Bby...kenepa segini banyaknya?" Tanya Ifa yang keheranan melihat tumpukan bingkisan yang menggunung di atas meja makan panjangnya.


"Sayang...nggak tahu...itu tadi aku cuma pesan aja dan udah di anterin gitu aja...nggak apa apa...biar nanti Arga sama Nindi yang bantuin..." Ucap Aditya dengan senyumanya, Namun...ifa merasa...sepertinya apa yang akan di berikan suaminya pada para tetangga tetangganya itu berlebihan, Dimana disana ada bahan makanan mentah yang terlihat bermacam macam.


Sedangkan nanti sore acaranya adalah mengundang para tetangga untuk datang ke kediaman baru Aditya, Dimana ia dan sang istri menjadi penghuni baru disana, Jadi Aditya merasa ia butuh berkenalan dengan para tetangganya, Serta yang terakhir, Untuk tetangga yang agak jauh...Aditya memutuskan untuk memberikan bingkisanya ke rumah rumah mereka dengan mendatanginya satu persatu.


Di kantor Nindi, Nampak ia masih dengan kesibukan kantornya yang lumayan padat, Dimana nanti saat ia sudah menikah, Ia ingin libur kerja saja, Dan ingin mengabdikan diri pada sang suami, Menjadi istri yang selalu manis dan menunggui sang suami pulang kerja, Dimana bayanganya sudah ngelantur kesana.


Sedangkan di tempat kerja Arga, Terlihat Arga baru balik dari ruang rapatnya, Dan mulai menyandarkan punggungnya ke belakang, Ke sandaran kursi yang sedang ia duduki, Kepalanya menengadah melihat langit langit atasnya.


"Akh...penat...capek..." Ucap Arga dengan dengusan kesalnya, Dimana ia segera menarik dasinya agar sedikit longgar disana. Serta melepas kedua kancing di kedua pergelangan tanganya, Menyingsingnya sampai ke siku, Rasa panas bercampur gerah yang ia rasakan, Meskipun AC sudah menyala, Tak bisa menghalangi cuaca panas yang kian memuncak setelah mendekati siang. Sampai...ia putuskan untuk menelephone sang kekasih agar panasnya mereda.


Namun...setelah mencoba, Beberapa panggilanya tidak di angkat oleh Nindi, Tidak ada jawaban, Sampai...untuk panggilan yang ke tiga kalinya lah baru terangkat.


"Sayang...lagi apa? kenapa lama sekali ngangkatnya?" Tanya Arga seketika,

__ADS_1


"Akh...dari pantry sayang...ambil kopi...makin siang makin aku ngantuk...kamu lagi ngapain?" Ucap Nindi yang menerangkan dan tanya Nindi balik pada Arga,


"Akh...ini habis aja nyelesain kerjaan, Panas banget tadi...!" Ucap Arga dengan nada suara yang masih terlihat kesal dan berat.


"Loh...kok tadi sih sayang? lalu sekarang?" Tanya Nindi yang sedang penasaran.


"Hemmmz...sekarang udah adem...karena dengar suara kamu tuh..." Ucap Arga dengan senyuman yang tidak bisa Nindi lihat.


"Apaan sih...gombal banget deh..." Dengus Nindi dengan senyumnya pula.


"Yaudah...satu jam lagi...aku jemput ya..." Ucap Arga yang langsung di setujui oleh sang kekasih. Dimana perjalanan dari kantornya ke kantor tempat kerja Nindi, Butuh waktu paling tidak setengah jam lebih.


"Ya....yaaa....dia main matikan aja panggilanya...nggak bilang bilang lagi..." Dengus kesal Arga lagi, Sambil menatap layar ponselnya.


Hingga tanpa terasa sudah satu jam lebih Arga tertidur di sofa ruang kerjanya, Dimana ia sangat kelelahan saat itu, Sampai berkali kali Nindi mencoba menghubunginya, Namun tidak Arga angkat, Karena ponselnya yang ada di atas meja kerjanya, Dan ponselnya yang hanya dalam mode silent saja.


"Duh...kenapa ya Arga? ada apa ya? kenapa nggak bisa di hubingi sih? jangan jangan ia kenapa napa lagi?", Ucap Nindi dalam hatinya, Dimana ia begitu gelisah dan takut Arga kenapa napa. Hingga beberapa saat, Arga pun terbangun, Ia segera menatap jam yang melingkar di pergelangan tanganya, Lengan baju yang tersingsing dan dasi miring, Rambut acak acakan, Membuatnya kelihatan jelas betapa kelelahanya ia saat itu.

__ADS_1


"Astaga udah pukul dua siang...pasti Nindi sesang Nungguin...akh...kenapa aku bisa ketiduran sih?" Ucap Arga sembari akan beranjak dari duduknya, Namun tiba tiba...


"Brak....!" Suara pintu ruang kantor Arga yang di buka paksa dari luar dan membentur dinding dengan kerasnya.


Terlihat Nindi tengah ngos ngosan disana, Di tambah peluh yang bercucuran di keningnya, Namun seketika senyumnya terlintas saat ia dapati Arga masih duduk di atas sofa dengan kaki yang ia selonjorkan di atasnya, Sejajar dengan tubuhnya.


Ternyata...Nindi langsung lari dari kantornya, Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai ke kantor Arga, Dimana ia begitu khawatir saat Arga sudah terlambat satu jam lebih, Sedangkan selama ini ia tidak pernah telat sekalipun saat berkata akan menjemputnya.


"Sayang...kamu disini?" Tanya Arga seketika, Dan Nindi dengan senyumnya berjalan mendekat ke arah sang kekasih, Hingga sampai di dekatnya dan berhambur ke pelukanya, Dan dengan senang Arga membalas pelukanya.


"Syukurlah ga...tidak terjadi apa apa padamu sayang...aku khawatir tahu..." Ucap jujur Nindi.


"Iya...maaf...sepertinya aku kelelahan sayang...sampai ketiduran disini...kamu nungguin lama ya?" Ucap Arga di sela pelukanya, Dan Nindi hanya mengangguk pelan, Mengiyakan perkataan calon suaminya.


"Aku malah khawatir kamu akan marah karena aku telat sayang...syukurlah kalau enggak..." Ucap Arga dengan kecupan di puncak kening Nindi, Kening yang basah karena keringat.


"Apa aku se sadis itu?" Tanya Nindi balik, Dimana Arga hanya menggeleng, Sembari mengangkat kepala Nindi dari pundaknya dengan kedua tanganya, Mengusap lembut peluh yang menetes di pelipis calon istrinya, Terlihat nyata bahwa Nindi khawatir disana.

__ADS_1


"Maaf..." Ucap Arga lagi, Dan kini menarik lembut wajah di depanya dan menciumnya sesaat. Hanya sesaat, Karena buru buru Nindi ingat dengan keringatnya, Dan pasti bau kecut bercampur polusi yang ia cium dan rasakan.


"Ga...aku mau mandi...tolong ambilkan baju di rumah ya..." Ucap Nindi seketika, Dan Arga pun langsung mengangguk mengiyakanya, Ia segera meminta asistenya untuk membelikan pakaian dengan ukuran calon istrinya itu, Tidak mengambilnya dari rumah Nindi seperti apa yang kekasihnya itu inginkan tadi sebelum masuk kamar mandi.


__ADS_2