
rendi langsung menuju kamar hotel dimana ia menginap.
di taruhnya tas kerjanya,
lalu menuju kamar mandinya,
tak lupa ia membawa pakaian gantinya,
beberapa menit rendi pun keluar dari kamar mandi,dengan handuk yang melingkar di perutnya sampai atas lututnya.
dan handuk satunya lagi yg melingkar di lehernya,gunanya untuk mengacak2 rambutnya yg masih basah,
ia suka mengeringkan nya pakai handuk,
tok tok tok....tiba2 pintu di ketok.
rendi bergegas membuka pintu,
rendi hanya menyembulkan kepalanya keluar pintu,
dilihatnya seorang wanita cantik berdiri di sana,
mungkin lebih cantik dari istrinya,lebih bahenol yg pasti lebih seksi dari anin yg sedang mengandung.
rendi hanya menyunggingkan senyum sedikit di bibirnya,
lagi2 rendi melihat pemandangan yg tidak biasa...rok sebawah bokong persis...dengan paha sampai kaki mulus....putih,hils tinggi sekali,
dan yg lebih wow...tangtop nya hanya asalan mlorot yg membuat benda di dalamnya terlihat menyembul mengintip.
rambut di cat coklat.
dan riasan yg berani namun cantik.
"ada yg bisa aku bantu?"
tanya rendi.
namun si wanita malah memaksa buka pintu,dan berlalu masuk kedalam kamar dengan cepatnya,
namun...reaksi rendi tidaklah kaget,ia cuma heran.
"apa aku memesanmu?"
tanya rendi dengan angkuhnya.
__ADS_1
namun di jawab cuek oleh si wanita.
"apa perlu pesanan kalau yg di sini seganteng dan segagah ini?"
sambil menghampiri rendi dan menggelayutkan tangan di leher rendi,
mengendus lehernya yg masih meneteskan air sisa mandinya.
"rendi...."
bisik wanita itu.
barulah rendi terkejut saat namanya di sebut.
"kau tau namaku?"
tanya rendi.padahal setau rendi...disini hanya beberapa orang yg tau namanya,
"mungkinkah ini kiriman dari perusahaan yg sedang rendi tangani,agar memudahkan jalannya?"
fikir rendi.
"aku menemukan ini di lobi,sraf lobi yg menemukannya,tapi aku dengan suka rela menyerahkannya kemari,termasuk diriku",
ucap wanita itu.
"terimakasih nona",
ucapnya.
"hanya terimakasih? president direktur grup wijaya",
ungkap wanita itu karena membaca kartu nama rendi yg ada di dalam dompet.
"kau sudah membuka dompetku ternyata,"
kata rendi sambil berlalu menyingkirkan tangan wanita itu dengan paksa dan ia duduk di sova kamar",
"kau mau imbalan berapa?"
ucap rendi dengan dinginnya.
"aku tak mau imbalan apa2...cukup kau puaskan aku malam ini saja",
kata wanita cantik yg sekarang mencoba mendekat ke arah rendi.
__ADS_1
rendi menelfon sebentar...ia seperti memastikan sesuatu.
"baiklah coba kamu cari tahu",
kata2 terakhir rendi pada seseorang yg ia telfon itu.
"maafkan aku...tapi aku malam ini rak berniat sama sekali",
ucap rendi sambil bangkit dari duduknya dan ingin membuka pintunya.
namun tangan wanita itu terlalu cepat,
ia meraih handuk rendi dan menariknya,
dilihatnya rendi sudah memakai celana pendek pres se atas lututnya,
rendi masih diam dengan senyum mematikannya.
lalu menarik kembali handuk yg masih di tangan wanita itu.
di pakainya lagi.
"kau mau apa?kau mau tubuhku?"
kata rendi sambil duduk kembali ke sova nya.
"sayangnya ini sudah milik wanita lain",
ucap rendi seperti mengulur waktu.
wanita itu seperti mengerti,
ia duduk di atas tempat tidur rendi dan menyilangkan kaki disana,lalu ke2 tangannya tepat menyangga tubuhnya ke belakang.hingga dada di dalam tangtop miringnya mencoba menyembul.
"ayowlah...apa kau tak tergoda padaku?"
ucap wanita itu.
"kau mau berapa permalam nya??"
tanya rendi.
"dan kau kira sanggup menemaniku berapa malam?"
tanyanya lagi.
__ADS_1