Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Tekad


__ADS_3

Didalam mobil Rendi. Ponsel Rendi tiba-tiba berbunyi, ia segera merogoh kantong jasnya dan langsung di lihatinya layar ponsel tersebut. Ternyata istrinya yang tengah mencoba menghubungi.


"Halo sayang...ada apa?" tanya Rendi seketika setelah mengangkat panggilan istrinya.


"Kok sepi sih pah...tumben nggak makan di rumah?" tanya Anin, karena suaminya tidak memberi kabar...dan putrinya juga tidak memberi kabar.


"Habis makan siang di luar kantor sayang...tadi sama Nindi juga...dan ayo tebak...siapa yang papa temui hari ini yang ngajak kita makan?" tanya Rendi dengan antusiasnya.


"Heemzz...memangnya siapa sih pah?orang dari mana lagi yang bisa membuat papa sampai se heboh ini selain Nindi puteri kita itu?" tanya Anin dengan penasarannya.


"Itu lo ma...cowok ganteng yang waktu itu kita ketemu di mall...nah...ternyata dia juga pimpinan Nindi ma...mereka juga sudah saling kenal satu sama lain..."


ucap papa dengan antusias.


"Oooh...baiklah...jadi...aku makan siang sendiri nih jadinya?" tanya Anin dengan sedikit dengusan...karena ia sudah meminta bibi untuk masak banyak, dikiranya suami dan putrinya akan makan siang di rumah seperti biasanya.


"Mau gimana lagi sayang...aku masih kenyang...baru usai jalan lagi dari kantor Sanjaya ma..." ucap jujur Rendi.


"Baik lah pah...aku matikan kalau gitu panggilannya ya..." ucap Anin seketika dan langsung mematikan panggilannya.


"Pak...masih lama sampai rumahnya?" tanya Rendi pada supirnya yang sedari tadi sudah mengarahkan mobilnya ke arah rumah Rendi.


"Sepuluh menit lagi tuan..." jawab Pak Supir. Lalu Rendi pun kembali duduk dengan tenang. Sepuluh menit kemudian,


mobil Rendi memasuki halaman rumah mewahnya setelah Pak Satpam membukakan pintu gerbangnya. Mobil berhenti tepat di bawah teras depan rumah Rendi, seketika Rendi pun turun dari dalam mobilnya, ia berlari masuk kedalam rumah, sampai ia di dekat ruang makan. Didapatinya istrinya sedang duduk sendiri sambil menikmati makanannya disana.


"Sayang...aku pulang..." ucap Rendi seketika yang membuat istrinya berdiri karena kaget.


"Pah...katanya nggak pulang? kok bisa sampai disini? padahal kan baru sebentar saja?" tanya Anin keheranan.


"Sayang...aku sudah janji pulang bukan...meski aku sudah makan..aku tetap pulang sayang...mengerti? ayo lanjutkan makannya...aku tunggu di kamar ya...aku mandi dulu." Ucap Rendi lalu mengecup kening istrinya sebelum berlalu pergi menuju kamarnya.


"Pasti ada maunya si papa." Gumam Anin yang lalu melanjutkan makannya.


Sedangkan dikantor Sanjaya.

__ADS_1


Arga Sanjaya duduk di kursi kerjanya yang bisa berputar-putar itu, ia memainkan ponsel Nindi yang tadi di titipkan Om Rendi padanya.


"Nindi Wijaya...hmmmz...nama yang bagus...berwajah cantik...body oke...meski watak...nyablak...harus di kalemin...dan lain dari gadis lain, membuatku makin tertantang untuk mendapatkannya." Guman Arga dengan senyum nakalnya.


"Apa sih yang nggak ada di aku? ganteng? tentu!...gagah?pasti! pintar...apalagi! kaya...so pasti!" ucap bangga Arga.


"Tapi aneh sih tu cewek...kenapa semangat sekali nimpuk aku kalau sedang ketemu...perasaan dulu pertama ketemu dia baik-baik saja...meski rada songong...jangan bilang ini turunan ya...aaakkkh..." gerutu hati Arga tiba-tiba.


Ia masing ingin memantapkan hatinya, apakah ia putuskan jadi mengejar...dan menjadikan Nindi pelabuhan terakhirnya yang sempurna...atau tidak mendekatinya sama sekali, karena yang ia dekati putri dari pemilik perusahaan Wijaya...memang kekuatan Wijaya dan Sanjaya itu sama...namun...bila di pikirkan...pengalaman di bidang saham dan perdagangan...apa lagi kenalan...pasti lebih banyak papanya Nindi.


Dan tiba...tiba...ponsel Nindi yang sedang di peganginya itu bergetar, saking kagetnya Arga, ponsel itu hampir jatuh merosot dari pegangan tangannya, lalu berbunyi. Arga seketika mengamati layar ponsel tersebut...dan membaca panggilan siapa yang sedang masuk itu.


"Satria." Gumam Arga saat membaca nama panggilan masuk tersebut.


"Siapa Satria? apa dia orang yang Nindi suka?" geram Arga tiba-tiba.


"Sial..kenapa aku tiba-tiba tidak suka ada yang mengusik Nindi seperti ini." Ucap Arga dengan sedikit dengusan kesalnya.


"Halo....hay..." kata Arga saat menerima panggilan Satria melalui video call.


"Hey...sopan sedikit...pacarku sedang sibuk...kalau kau ada perlu dengannya...kau bisa bilang padaku...pasti akan aku sampaikan padanya." Ucap Arga dengan bahasa inggris yang sama.


"Hey...sejak kapan Nindi punya pacar?baru kemarin kami ngobrol sampai larut malam di sana...dia nggak ngomong nggak cerita apa-apa...kamu maling ya? jangan asal ngomong kamu." Ucap Satria dengan bahasa yang sama dan nada yang sedikit meninggi.


"Kau tidak percaya...buktinya ponselnya aku bawa...kalau bukan pacarnya siapa lagi yang bisa?" ucap balik Arga dengan nada yang masih merendah namun dengan bahasa yang sama.


"Jangan-jangan kamu maling ya...kamu maling kan?? ayo kembalikan ponselnya...brengsek..." ucap Satria dengan kasarnya, terdengar lelaki itu begitu marah saat itu.


"Apa kau lihat...pencuri dengan pakaian selengkap ini? apa kau lihat pencuri yang duduk di ruang kantoran? dan yang lebih pasti...pencuri mana yang setampan ini?yang pasti...aku sudah berhasil mencuri hatinya, kenapa? apa kau kecewa? oh maaf kalau begitu." Ucap Arga yang langsung mematikan sambungan telephonenya.


"Jadi karena dia...Nindi sulit di sentuh?oke...baiklah honey...sudah aku putuskan untuk mengejarmu mulai hari ini, detik ini juga!" ucap mantap Arga. Dan Arga bukan seorang yang gampang menyerah, tidak akan menyerah pastinya, tidak ada dalam kamus hidupnya kata-kata itu, yang ia inginkan...ia mau...ia harus dapatkan.


Lalu Arga pun beranjak dari duduknya berjalan keluar dan memberi tahu sekretarisnya, kalau ia akan pulang awal hari itu, kemudian ia berlalu pergi begitu saja.


"Jo...kamu dimana?" tanya Arga yang lagi suntuk.

__ADS_1


"Aku lagi di cafe dekat apartemenmu Ga...kamu kesini gih!" ucap Johan yang lalu membuat Arga langsung tancap gas menuju cafe yang Johan bilang tadi.


"Hey sini...!" teriak Johan dari kejauhan didalam cafe, saat ia tahu Arga baru masuk ke dalam cafe dan celingukan mencarinya. Seketika Arga mendatangi temannya itu, terlihat dua orang laki-laki juga di dekat Johan, teman Johan yang lain. Karena di Negara itu Arga hanya punya satu teman, yaitu Johan. Ia baru pindah dari luar Negri dan belum mengenal banyak orang.


"Hey aku Roy, dan ini temanku...Irfan," ucap salah seorang dan saling mengulurkan tangan berjabatan.


"Hey juga...aku Arga, senang berkenalan dengn kalian." Ucap Arga lalu duduk di samping Johan.


"Jo...cewek seratus lima puluh lu ingat nggak? dia putri Rendi Wijaya Jo...aku sudah putuskan mengejarnya...ajari aku Jo...!" ucap Arga to the point. Dan tanpa sadar kedua orang laki-laki di samping Arga dan Johan terkaget menatap ke arah keduanya.


"Lu kenal Nindi bro?" tanya Arga tiba-tiba.


"Kenal...ia teman satu SMA kami dulu, anaknya keras...dan galak...tapi cukup cantik...apa lagi anak orang terkenal seperti Pak Rendi, cowok mana yang berani dekat dengan putrinya itu, kecuali...seingat ku...si Satria...teman masa kecil Nindi itu, kemana-mana mereka selalu lengket." Ucap si Roy menerangkan.


"Jadi...begitu ceritanya...menarik!" gumam dalam hati Rendi. Lalu ke empatnya melanjutkan perbincangan mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat Nindi sampai di rumah, terlihat mama dan papanya sedang asyik duduk di depan televisi ruang keluarga.


"Ma...pa...Nindi pulang...!" ucap lemas Nindi sambil berjalan gontai mendekat ke arah papa dan mamanya lalu mencium pipi keduanya bergantian.


"Sayang bagaimana hari pertama kerjanya?" tanya mama Anin pada Nindi.


"Sangat seru ma...saking serunya...Nindi ikut di ajak nimbrung penguasa dua perusahaan, luar biasa kan mah?" ucap Nindi sambil melirik kearah papanya yang di sambut tawa papanya.


"Sayang pasti asyik ya...kalau dua perusahaan besar bersatu?" canda papa.


"Pantesan aja di cowok belel makin berani...papa ngasih piring lebar ke dia sih." Gerutu Nindi di setiap jalan menuju kamarnya.


Tiba-tiba..."tok, tok, tok...." terdengar pintu utama di ketok dari luar, dan seketika bi Ani bergegas berjalan mendekati pintu untuk membukannya.


"Halo...ini benar rumah Om Rendi Wijaya?" tanya seorang laki-laki tampan yang sedang berdiri dengan gagahnya di depan pintu utama.


"Ini....." kata bibi yang belum usai.


"Saya...Arga Sanjaya bi..." ucap Arga ramah pada bibi yang membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


__ADS_2