
rendi keluar kamar,
ia menuruni anak tangga dengan mata terus melihat sekeliling,dengan nanarnya.
mencari keberadaan istrinya.
"sayang....kamu dimana?"
gumamnya,sambil terus mencari2...
sampailah ia di dapur
didapati bik siti ada disana,
"biii...lihat istriku tidak?"
tanya rendi.
kakek yg berada di ruang keluarga pun terheran2 dengan tingkah cucunya itu.
"kakek lihat anin tidak kek?"
tanya rendi...
"siyyyaaalll"
umpatnya sebelum kakek dan bi siti menjawabnya,
dengan cepat ia berlarian menuju depan.
saat menyadari istrinya pasti di ayunan taman.
kakek dan bi siti saling bertatapan bingung.
rendi se cepatnya berlari menuju teras,
sejenak rendi mengatur nafasnya karena ngos ngosan,
di pandanginya sejurus ke arah ayunan,
benar saja istrinya sedang duduk disana.
secepatnya rendi pun menghampiri istrinya yg tengah menikmati terayun ayun ringan disana.
dengan sedikit berlari2.
"sayang...."kata rendi dengan tersengal2 saat sudah sampai di dekat istrinya.
ia memberhentikan ayunan yg masih terayun ringan disana,
menatap ke arah istrinya namun anin membuang muka.
"sayang...maaf..."
ucap rendi namun tetap tak di gubris istrinya.
"aku tidak tau kalau kau yang menelfon sayang...aku kira orang kantor yang mengganggu liburan kita...maafkan aku sayang..."
__ADS_1
sambil ia berjongkok di depan ayunan istrinya.
anin pun memandang wajah suaminya,
ia tau...benar...suaminya tidak akan membentaknya...ia juga tau itu di tujukan untuk orang kantornya.
menatapnya lekat2,
anin memcoba meraih wajah yg ada di hadapannya itu dengan kedua tangannya.
jemarinya mengelus pipi suaminya dengan lincahnya.
rendi pun penasaran dengan tingkah istrinya.
lalu ia mengambil satu tangan istrinya dan menggenggamnya.
"kamu baik2 saja?"
tanya rendi...
"kamu tidak marah?"
ucapnya lagi.
namun istrinya itu malah tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"huuuuuft...."
desah leganya saat mengetahui bahwa istrinya tidak marah,
ia benar2 sangat kelelahan dan kehausan setelah berlarian kesana kemari mencari istrinya tadi.
tanpa sadar anin meliriknya lekat2.
"inikah suamiku?saat bersamaku ia sangat lembuuut...maniiis...bahkan manja...namun saat dengan orang asing...ia sangat dingin...bahkan cuek,dan saat dengan anak buah nya...ia sangat tegas dan terkesan keras.
bahkan di takuti anak buah nya.
karena wajah dingin dan sadisnya.
lalu tanpa sadar anin pun terkikik.
seketika rendi menatapnya,hingga tatapan rendi membuatnya salah tingkah.
"ada apa sayang?apa kau barusan terkikik?"
tanya rendi.
"ia tanpa sadar aku terkikik kak rend..."
ucap anin dengan jujurnya.
"kok bisa??bukannya marah malah terkikik sayang?"
tanya suaminya lagi.
"pertama...aku tau kau marah bukan denganku...dan aku mohon...kamu bisa sedikit lebih sabar dengan para staf kantor...mereka juga butuh pimpinan yg hangat dan menghargai mereka.mungkin akan membuat mod mereka jauh lebih baik dan bersemangat untuk kerja."
__ADS_1
ucap anin yg di ikuti anggukan suaminya dengan pertimbangannya.
"kedua....aku masih tak percaya...aku bisa menaklukkan gunung es..."
kata anin lagi dengan melirik tanjam ke arah suaminya.
rendi pun mendelik mendengar ucapan sang istri,
kalau di pikir2 ada benarnya juga,
banyak wanita cantik bahkan artis rela mengantri untuk bisa mendapatkan perhatiannya,
namun ia malah menjatuhkan pilihannya pada anin.
"mantan pelayan kedai"
pikir rendi.
lalu dengan gemas...rendi menarik ayunan istrinya menyamping hingga berbenturan dengan ayunan yg di naikinya.
"sayang...kau tau gunung es ini hanya milikmu bukan?"
tanya rendi pada istrinya.
anin hanya mengangguk dengan senyum tertahannya.
"lalu?"
tanya anin balik.
"lalu..."
tiba2 tangan rendi sudah menarik dagu anin dan mulai mengecup lembut di bibir istrinya.
"kau tau hanya kau yang mampu membuatku seperti sekarat saat hanya membayangkanmu marah saja sayang",
"dan aku bisa gila saat berada jauh darimu dan merindukanmu",
"meski di manapun berada...hanya kamu yg aku pikirkan",
bisik rendi di telinga istrinya dengan bibir menempel telinganya.
rasanya sangat nyaman di dengar anin.
tanpa sadar anin menoleh dan mengecup bibir suaminya itu.
"aku pun sama"
hanya ucapan itu yg anin sebutkan.
namun rendi sudah tau itu mewakili semua ungkapan yg istrinya miliki untuknya.
rendi pun mengecup nya lagi dan menikmati senja sore bersama istrinya itu.
"suasana syahdu merasuk ke dalam hati keduanya.
bergandengan tangan mengayun bersama.
__ADS_1