Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Gokil


__ADS_3

Dan saat itu Arga samar-samar melihatnya, bilar dari kedua mata Nindi tanda ia akan menangis.


"Nih kamu cobain...kripik tahunya....enak kan?" Tanya Arga sambil memasukkan kripik tahu stik ke dalam mulut Nindi, karena Arga tahu Nindi hampir menangis.


"Dasar lu...ngasih juga satu...sini bawa sini...aku yang beli tadi." Ucap Nindi sambil merampas sekotak besar keripik tahu stik yang ada di tangan Arga.


Arga yang melihat tingkah Nindi yang sudah kembali itu pun tersenyum lega, meski Nindi tidak melihatnya.


"Tuan....belikanlah pacar anda bunga mawar segar ini tuan...setangkainya hanya lima belas ribu..." kata nenek-nenek menawari bunga mawar segar.


"Masih berapa nek?" tanya Arga.


"Masih dua puluh biji tuan..." jawab nenek penjual bunga dengan jawabannya.


"Dan lagi...dia bukan pacarku kok nek..." ucap jujur Arga.


"Hey...siapa juga yang mau jadi pacar kamu!" balas Nindi dengan sewotnya.


"Nek...saya beli semua ya bunganya..." ucap Arga. Dan saat itu membuat si nenek senang, namun tidak dengan Nindi, gadis itu malah melotot saking kagetnya.


"Tuh...bayar..." perintah Arga.


"Hey kamu tu nggak kira-kira ya kalau meras bawahan..." dengus kesal Nindi.


"Berapa nek total semua?" tanya Nindi dengan ramahnya.


"Semua tiga ratus ribu non," ucap si nenek-nenek.


"Eh buset dah...melas banget yak...kagak ada yang pernah ngasih bunga...giliran di kasih aku juga yang bayar ndiri...mama...horor banget ma ini tempat...suer..." tangis sambil teriak hati Nindi saat itu.


"Nek...kurangi ya...dua ratus ribu ya nek..." ucap memelas Nindi.


"Tiga ratus ribu non...pas." Ucap nenek.


"Dua ratus lima puluh deh nek...segitu ya..." ucap Nindi lagi.


"Kamu tu ya...nggak kasihan apa sama nenek! cepet gih kasih tiga ratus ribu uangnya." Pinta Arga pada Nindi.


"Iya, iya....ini aku kasih..." ucap sewot Nindi pada Arga dan terlihat senyum senang di bibir lelaki itu.


"Ini nek...makasih ya...dan maaf ya..." ucap Nindi sambil menyerahkan uang tiga ratus ribu dan mengambil dua puluh tangkai bunga mawar merah dari tangan nenek. Lalu nenek itu pun pergi dengan senangnya.


Arga melangkah maju ke depan sampai pagar pembatas area bukit dengan jurang dalam di bawahnya. Tangannya menyangga bersedekap di atas pembatas yang terbuat dari cor batu itu.


Nindi berjalan menghampirinya dengan bunga mawar merah di pelukannya.


"Kamu ini! kalau sama orang yang lebih tua jangan perhitungan! kalau bisa malah ngasih! bukannya bawar." Ucap Arga sedikit sedih dengan sikap gadis itu. Arga belum tahu jika saat itu Nindi demikian karena memang ia hanya bawa uang sedikit. Ucapan Arga mampu membuat Nindi terpana kearahnya.

__ADS_1


"Iya, iya maaf, aku juga nggak niat gitu tadi, cuman disini kan yang bawa uang hanya aku, aku bawanya sedikit pula, makanya sedikit aku hitung tadi." Ucap Nindi yang baru membuat hati Arga lega disana.


"Aaaakh..." tiba-tiba jerit kecil di bibir Nindi dan langsung di bekapnya sendiri.


"Kamu hobi teriak-tetiak ya...hingga di tempat romantis begini kamu juga teriak?" ucap Arga sambil mengawasi sekelilingnya, tidak satu dua pasang mata menatap ke arahnya.


"Eh, bos...kamu lihat yang di sebelah sana tidak?" tanya Nindi pada Arga. Dan lelaki itu langsung menoleh ke arah yang di beri tahu Nindi. Terlihat disana sepasang muda-mudi sedang berciuman cukup erat dan lama...apalagi dengan posisi si wanita duduk miring menyilangkan kaki ke pangkuan sang laki-laki.


"Ouh...kirain apa!" ucap Arga dengan entengnya.


"Kok...cuma oh kirain sih tanggapannya?" tanya Nindi keheranan.


"Terus kamu mau aku komentar apa? ayo kita coba? atau...kau mau aku cium?" canda Arga.


"Apaan sih nggak lucu." Balas Nindi.


"Kamu tu terlalu polos...atau pura-pura sih?" tanya Arga.


"Maksud loh?" tanya balik Nindi pada Arga.


"Disini tempatnya pasangan yang seperti itu Nindi...ada juga yang malah menginap, dan hal seperti itu sudah biasa untuk pasangan...kayak kamu nggak pernah saja!"ucap Arga tiba-tiba.


"Emang kamu pernah?" tanya balik Nindi.


Dan Arga hanya menggeleng jujur, namun ia sudah sering melihat hal seperti itu bahkan lebih, kehidupan di luar Negri begitu bebas...dan tidak jarang di pinggir jalan pun orang-orang berciuman untuk mengungkapkan cintanya.


"Ouh...Satria ternyata seorang Arsitektur..." kata hati Arga.


"Apa kau menyukainya?" tanya Arga seketika dengan tatapan yang serasa menembus jantung Nindi saat itu.


"Matanya di kondisikan dong...jantungku hampir meledak." Gumam hati Nindi lalu ia mengalihkan tatapannya.


"Tentu aku menyukainya...dia baik...ceria...dan teman yang paling sempurna." Ucap ceria Nindi namun seketika terdapat tusukan di hati Arga meski rasanya hanya sekecil jarum yang menusuknya.


"Aku tanya sekali lagi...itu akan menentukan sikapku kedepannya...apa kah aku akan terus mengejarmu atau merelakanmu." Ucap jujur Arga. Dan entah mengapa terdapat sedikit kekecewaan di hati Nindi saat mendengar ucapan Arga barusan.


"Apa kau menyukainya sebagai seorang wanita yang menyukai laki-laki? atau seorang teman?" tanya Arga sungguh-sungguh pada Nindi. Hati Arga sudah tidak menentu tatkala ia menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir Nindi...dan yang akan ia dengar.


"Aku...menyukainya tentu sebagai teman lah...ia sudah menemaniku sejak kecil...tapi setelah ia sukses...ia pergi...bagaimana aku bisa tidak kehilangan teman yang seperti itu?" ucap jujur Nindi. Ia tidak ingin berbohong meski sekecil apapun. Dan seketika terlihat senyum merekah di sana dengan mata Arga yang berkaca-kaca yang sesekali kilauannya di terpa cahaya.


Sedetik kemudian Arga meraih tubuh Nindi mendekapnya ke dalam pelukannya. Dan entah mengapa pelukan yang Nindi rasa kali itu benar-benar seperti tulus baginya, hingga ia tidak mampu memberontak melawan dan hanya terdiam menikmati, dengan menghirup aroma parfum maskulin yang menenangkan di area leher Arga.


"Apa kau menikmatinya?" tanya Arga yang membuyarkan lamunan Nindi disana.


"Ya..." jawab Nindi singkat.


"Akh...tidak-tidak! ngarep banget sih loh..." ucap ketus Nindi yang membuat Arga tertawa. Sesaat Arga menatap layar jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang...sudah pukul sembilan malam nanti kita telat bisa-bisa aku di coret dari daftar calon mantu papa kamu." Gerutu Arga sambil mengemas semua camilan dan air mineral yang ia bawa tadi dan membawanya.


"Ayo Nindi...kita pulang..." ucap Arga memanggil nama gadis itu. Dan entah mengapa Nindi merasa ada yang kurang saat panggilan honey itu tidak terlontar untuknya lagi. Lalu Nindi pun mengikuti Arga di sampingnya, dengan masih memeluk bunga mawar di dadanya.


"Kamu suka bunga mawar?" tanya Arga pada gadis itu.


"Suka lah...cewek mana yang nggak suka bunga...apa lagi bunga mawar." Ucap Nindi.


"Maksud aku tuh, kau sukanya bunga apa?" tanya Arga lagi.


"Sebenarnya di antara bunga-bunga...aku lebih suka bunga mawar merah juga sih...kebetulan kan..." ucap Nindi.


"Pas dong aku kasih itu buat kamu..." canda Arga.


"Kasih...? kasih...aku yang beli...kenapa kamu yang kasih...enak aja!" ucap balas Nindi dan yang membuat Arga terkikik.


Tiba-tiba...."breeeeeessss.........."


hujan turun di puncak sedikit deras cukup untuk membuat basah baju orang yang lima menit di bawah guyurannya.


Nindi segera berlari terlebih dahulu sesaat ia menyadari hujan turun, dan Arga begitu terpesona dengan kelincahan gadis di depannya itu.


"Ehhh....malah bengong...lari dong..." kata Nindi sambil berbalik dan menarik tangan Arga mengajaknya berlari. Saat itu Arga sadar jika ia sudah jatuh hati pada gadis itu.


Cukup jauh keduanya berlari sampailah di tempat parkiran, dan berteduh di sana.


Seketika Nindi menangis sejadi-jadinya tanpa Arga tahu sebabnya apa.


"Kamu kenapa?" tanya Arga yang terlihat khawati. Namun Nindi terlihat masih menangis sesenggukan disana.


"kamu takut hujan?" tanya Arga lagi. Namun Nindi masih memggeleng juga.


"Takut petir?" tanya Arga lagi. Namun Nindi masih juga menggeleng.


"Takut angin? apa? kenapa?" tanya Arga yang bertubi-tubi saking khawatirnya. Namun tetap Nindi masih menangis dan menggeleng. Tanda semua pertanyaan Arga itu tidak ada yang benar.


"Kaki kamu ke injak? tangan kamu ngilu narik aku barusan?" tanya Arga yang sudah mulai frustasi di buatnya.


"Hey...sebenarnya kamu kenapa? kenapa sampai nangis seperti ini huh?" teriak Arga yang benar-benar sudah tidak tahan lagi.


"Bungaku...kelopaknya hilang semua bos...aku bawa lari sambil hujan-hujanan....huuuuaaaa.....hiks...hiks....tinggal putik tangkainya...dan daunnya saja...aku nggak di sisain satu kelopakpun bos...jahatnya..." ucap Nindi sambil terus menangis terisak-isak.


Seketika kaki Arga seolah lemas dibuatnya...ia ingin sekali jongkok saat itu juga. Belum sempat rasa sedikit syok Arga hilang, ia merasakan kedua tangan Nindi menarik kemeja dibagian dadanya yang membuat lelaki itu mendekat maju kearah Nindi.


"Sroooooottttt....hikkks....hiks..." terdengar Nindi mengusapkan ingusnya di kemeja bagian dada Arga.


"Aaaaarrrrrrgggghhhhh.....tuhan.....gadis ini benar-benar membuatku gila...bunda....Arga kangen....bund....huuuuaaa..." teriak histeris campur nangis Arga dalam hati, dan benar-benar sakit rasanya saat itu.

__ADS_1


Namun Arga tidak bisa menolak perlakuan Nindi itu.


__ADS_2