Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Curahan hati


__ADS_3

"Eh Bos...mau kemana kita?" tanya Nindi pada Arga.


"Bisa nggak sih manggil akunya jangan eh Bos, eh Bos! ntar di sangka orang lagi meras anak buah." Ucap Arga sambil melirik ke arah Nindi yang sudah duduk di kursi samping kemudi.


"Lah emang bener...begitu kenyataannya kok." Ucap Nindi dengan entengnya.


"Oke, kamu yang minta honey..." kata dalam hati Arga dan terlintas senyum licik disana.


"Ngomong-ngomong...aku lupa bawa dompet loh...ketinggalan di sofa rumah kamu kayaknya." Ucap Arga yang saat itu mampu membuat Nindi melotot sembari terperanjat karena terkejutnya.


"Nah loh...demi apa? lu nggak lagi ngacao kan? ngak lagi bercanda kan?mana kamera lu? lu lagi nge prank aku kan sekarang?" tanya Nindi dengan nada kagetnya.


"Honey...kapan aku pernah bohong?" ucap Arga.


"Kenapa lu baru ingat setelah setengah jam perjalanan sih!" gerutu Nindi yang tudak ada habisnya.


"Rasain lu...kamu pikir kamu aja yang bisa nimpuk sendal...aku juga bisa dong nimpuk hatimu." Kata hati Arga.


"Yaudah deh...jangan jauh-jauh jalannya...sini aja no di pinggir jalan sono no...di pinggir trotoar bundaran depan...terdapat banyak tu yang jual jagung bakar...aku traktir deh sepuasnya." Ucap Nindi seketika.


"Enak aja...Arga sanjaya makan jagung bakar pinggir jalan di atas trotoar pula...malu tahu sama mobil bagus aku ini...ganteng-ganteng makan jagung bakar...apa kata dunia?" gerutu Arga disela omelan Nindi.


"Lu sih...pakai acara lupa bawa dompet segala." Gerutu Nindi lagi-lagi dan lagi.


"Ni cewek...lupa itu bukan acara...huh." Dengus Arga.


"Jadinya kemana ni kita? makan jagung bakar aja deh...pengiritan..." pinta Nindi.


"Nggak....nggak bisa pokoknya...kencan tetap kencan! baru pertama kali ini kencan sama cewek yang amsyong kayak gini...terus...nggak ada manis-manisnya." Gerutu Arga.


"Siapa juga yang mau kencan sama lu...kencan sono sama mobil kece lu..." ucap balas ketus Nindi.


"Oke...aku ajak ke tempat kencan yang buat mu horor kalau gitu...jangan nyesel...oke?" ucap Arga yang lalu menancap pedal gasnya.


"Horor yang di film-film? nggak takut ya...horor bagi aku itu...kalau uang jajanku habis...nah itu...baru horor..."

__ADS_1


ucap Nindi.


"Udah cantik...baik...anak orang kaya...nggak pelit...tapi sedikit perhitungan! nasib dah punya calon bini kayak begini!" desah Arga.


"lu gumam apa barusan? kupingku masih dengar tahu..." kata Nindi dengan nyablaknya.


"Kamu tu cantik...eh...suka nyablak itu yang buat aku makin gemas..." ucap jujur Arga. Mengingat memang baru kali itu ia bertemu dengan gadis seperti Nindi, yang tidak tertarik dengan ketampanannya, wibawanya, apa lagi uangnya. Mengingat Arga sudah sempurna dari segala hal. Dan seketika kata-kata lelaki itu membuat Nindi terdiam, karena nindi tahu, jika ia meladeninya...Arga bakalan makin gemas padanya.


"Nah...sudah sampai..." ucap Arga.


Lalu mobil memasuki pintu karcis yang langsung di hadang setopan otomatis seperti di tempat parkir pada umumnya.


"Tuh...bayar...kita mau naik bukit nih..." suruh Arga.


"Aaah....uang ku....melayang deh...lu besok harus ganti pokoknya." Ucap Nindi seketika.


"Kok jadi aku sih yang ganti? kamu yang ngajak aku jalan! inggat nggak? sudah pikun? apa gegar otak?" sahut ketus Arga. Lalu Nindi pun membayar karcis untuk satu mobil. Dan Arga langsung menancap gasnya menuju puncak bukit.


"Ini tempat apaan sih? gelap tahu...kanan kiri jalan nggak ada lampunya...cuma lampu sorot mobil.." tanya Nindi.


Ucap Arga menerangkan, namun tidak di gubris Nindi.


"Mau lu tuh...ke tempat mesum...aku ma ogah..." ucap Nindi.


"Kamu tu ya belum tahu keindahan tempatnya sudah bilang mesam-mesum..." gerutu Arga.


Sebenarnya Arga baru dua kali itu datang ke bukit cinta, dan itu baru Nindi yang ia ajak, dulu...ia kemari mengantarkan Johan yang janjian sama cewek...dan Johan langgeng sampai sekarang...Arga juga ingin mengikuti jejak Johan...sekali aja jadi. Karena Arga sudah berpuluh kali menjalin hubungan namun tidak ada yang ngena...semua malah kandas begitu saja. Dan hanya Nindi yang berbeda. Gadis itu yang selalu membalas setiap ocehan-ocehan Arga dan membalas perkataannya hingga membuat Arga tidak bosan.


Setelah sepuluh menit mobil berjalan dari tempat karcis, mobil berhenti di tempat parkir. Saat itu mata Nindi melotot tidak percaya atas pandangannya, mobil di parkiran tersebut berderet puluhan yang terparkir.


"Perasaan tadi sepi-sepi aja. Lah ini mobil segini banyaknya terus orangnya kemana?" tanya Nindi dengan polosnya.


"Kamu tanya ke aku terus, lah aku tanya ke siapa?" ucap Arga seketika.


"Emangnya di sini ada konser apa? di pegunungan gini? sampai segini banyaknya yang lihat...ada mobilnya penampakan orangnya nggak ada." Ucap Nindi.

__ADS_1


"Bagi mereka sih lebih dari konser kali..." sahut Arga.


"Kamu mau ikut turun aku beli air minum sama cemilan atau...kamu tungguin di sini saja?" tanya Arga.


"Ikut aja deh...aku nggak tahu tempat ini soalnya." Jawab Nindi dan langsung turun dari mobilnya, ia berjalan ke arah Arga yang sudah jalan duluan.


Keduanya memasuki minimarket...yang Nindi ambil hanya kacang atom sama keripik kentang, dan dua botol air mineral kemasan. Sedangkan Arga mengambil apa yang Nindi ambil.


"Tu...bayar..." ucap Arga sambil menyodorkan cemilannya ke meja kasir setelah Nindi dahulu yang menaruh cemilannya. Dengan bibir monyong dan cemberutnya Nindi akhirnya membayar tagihannya. Ia keluar mini market dengan sekantong kresek putih camilan, dan berjalan menuju Arga yang sudah menungguinya di luar.


"Nih...bawa." Ucap Nindi sambil menyodorkan kantong kreseknya ke tangan Arga. Dan Arga pun menerimanya dan membawanya. Keduanya lalu berjalan...menyusuri jalan setapak yang sedikit menanjak, namun terus-terus dan terus naik...di kanan-kiri terlihat banyak pasangan yang duduk berhimpitan di bawah cahaya lampu yang tidak begitu terang. Dan Nindi hanya melihat bayangan yang tidak begitu jelas.


"Heh...lihat tu jalannya...lihat yang begituan...ntar pulang-pulang sawan tahu Rasa." Ucap Arga dengan tepukan di pundak Nindi. Sepuluh menit berjalan akhirnya sampailah ke tempat puncak bukit. Mata Nindi benar-benar takjub dan tidak bisa berkedip menyaksikan lampu-lampu Kota yang terlihat dari puncak gunung. Arga membimbing Nindi untuk duduk di bangku yang baru di tinggal pasangan tadi, karena saking terpesonanya Nindi menatap ke depan tanpa sadar ia sekarang sudah duduk di atas bangku namun matanya tetap mengarah ke depan.


"Kamu sering ngajak pacar ke sini ya? ini indah banget..." ucapan yang terlontar tiba-tiba dari bibir Nindi.


"Aku nggak pernah ngajak pacar liburan ke tempat-tempat yang pasangan lain datangi, ini baru pertama kalinya aku ngajak cewek ke tempat kayak gini, romantis...tapi sayang...dia belum jadi pacar aku." Ucap Arga jujur.


"Lalu...kemana kamu ngajak mereka? ke Club? ke hotel? ke motel?" canda Nindi begitu saja.


"Gini-gini aku itu belum pernah nyium pacar atau meluk mereka, cuma sekali aku nyium pipi gadis...dan itu kamu.


Aku pacaran juga jalan ke mall..belanja permintaan mereka...dan aku bukan tipe pelit dan perhitungan kaya kamu!" ledek Arga sambil menikmati camilannya.


"Kamu kan tahu...mereka hanya memanfaatkan kamu saja...kenapa kamu masih mau pacaran sama mereka?"


tanya Nindi dengan penasarannya.


"Kamu benar...aku tahu mereka memanfaatkan ku saja...tapi...aku juga menggunakan mereka untuk pelarian ku, pelarian dari perjodohan bundaku...perusahaan kami pernah hampir jatuh...hingga bundaku memilihkan jodoh untukku dari anak-anak koleganya. Makanya aku sering gonta-ganti pacar...agar bunda tahu dan berhenti menjodohkan ku.


Sampai...saat aku berdandan layaknya kuli...dan mengecek pangsa pasar...aku bertemu dengan seorang gadis, aku kira ia anak orang biasa karena ia memandangku tanpa bulu, menolongku tanpa perhitungan...memberikanku uang seratus lima puluh ribu...dan hanya bisa mentraktir ku es teh susu. Sempat beberapa kali bertemu...kurasa aku jatuh hati, namun lagi-lagi hatiku menolak...pasti bunda akan turun tangan jika aku pacaran dengan orang biasa.


Ternyata tuhan menjawab doa ku...cewek yang aku sukai ternyata putri tunggal pemilik perusahaan Wijaya...dan aku memutuskan untuk mengejarnya."


Cerita Arga yang diam-diam menarik perhatian Nindi, dan ia hanya bisa terdiam mendengarnya, entah mengapa terdapat sedikit getir disana, dan air matanya sudah menggenang di pelupuk mata Nindi dan hampir meleleh.

__ADS_1


__ADS_2