
"Sayang sakit ya? yang mana yang sakit?"
tanya Arga ingin tahu. Langsung saja Nindi meraih tangan Arga yang sedang duduk di samping ranjangnya itu dan meletakkannya di bahian perut Nindi yang sakit.
"Huwaaaaaa..." teriak Arga seketika saking kagetnya karena baru kali itu ia menyentuh perut wanita.
"Apa sih Ga!? suaramu kenapa melengking sekali hingga pengang kupingku dengar kamu teriak!" ucap Nindi dengan santainya.
"Sayang...kamu tuh yang bener aja...ni tanganku tiba-tiba mati rasa!" ucap Arga yang merasakan sensasi hangat lembut dan empuk saat telapak tangannya menyentuh kulit perut kekasihnya itu.
"Ah...sono deh ga kalau gitu...biar mama aja yang lakuin...kamu bawel..." ucap Nindi seketika sambil meringis kesakitan.
"Sayang...nih sarapan nya..." ucap mama yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan refleks Arga langsung menarik dan mengangkat kedua tangannya.
"Kamu ngapain Ga?" tanya Anin seketika.
"Itu tante...Nindi tarik-tarik tangan aku tan...nggak ada maksud jahat kok." Ucap Arga yang sudah ketakutan karena kepergok mama Nind.
__ADS_1
"Ga Nindi tuh kalau sakit suka manja pake banget Ga...tante udah nggak kaget tuh...untung tangan kamu yang di tariknya...dulu aja waktu sakit juga...tangan mang ujang yang dia tarik." Ucap Anin seketika yang membuat Arga terkaget dan keheranan.
"Sumpe loh...nih cewek asal tarik-tarik aja...!" dengus kesal Arga dalam hatinya.
"Plok!" tabokan Nindi yang mendarat di lengan Arga.
"Aduh kaget aku!" ucap Arga seketika dan buyar lah lamunan Arga barusan.
"Ga...kamu tu kelamaan ngelamunnya...aku narik tangan mang ujang tuh waktu umur lima tahun...mama juga sih...gitu aja di bilangin Arga, otaknya udah menghayal kemana-mana tuh!" ucap Nindi menerangkan. Karena Nindi tidak mau di balas Arga lagi...apa lagi di ajak begadang semalaman lagi.
"Ouh kirain...waktu datang bulan kaya gini?"
"Ma...sini ma....sakit ma...perut Nindi," ucap Nindi lagi.
"Jeng...maaf ya aku naik kesini, mau tahu tuh Nindi kenapa nggak turun-turun?" tanya bunda Arga yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang tidak di tutup itu.
"Ini lo mbak, Nindi...datang bulan aja sampai manja begini. Tuh Arga juga lebih heboh lagi mbak...seisi lemari di keluarin semua," ucap Anin seketika yang membuat Arga terpaksa tersenyum palsu di depan bundanya.
__ADS_1
"Mati aku!" ucap Arga saat mendapat lirikan maut dari bundanya saat itu.
"Arga! ya ampun...kamu ini..." dengus bunda kesal.
"Maaf bunda...maaf tante...ini sungguh pengalaman yang pertama buat Arga sungguh...bund...tante..." ucap Arga yang membuat bundanya mengerutkan dahinya.
Karena bunda tahu jika anaknya terkenal playboy, kenapa hal semacam itu saja baru yang pertama baginya dan bunda melihat wajah serta perkataan putranya itu sepertinya sungguhan dan tidak di buat-buat.
"Apa skandal dan julukannya itu bohongan saja?" ucap bunda dalam hatinya.
Sesekali Arga melirik ke arah mama Nindi yang memeluk anak gadisnya dan mengelus perut nya, terlihat khawatir di wajah Arga.
"Nak kamu kenapa ngeluarin keringat dingin begini sayang?" tanya bunda tiba-tiba. Namun Arga tidak bisa menjawabnya, hanya membalas pertanyaan bundanya itu dengan sekilas senyum danmgelengan saja.
"Itu lo mbak...Nindi saking refleksnya tadi narik tangan Arga untuk ngelus perutnya kaya gini," ucap Anin yang langsung membuat Arga mati kutu. Hingga menajamkan mata bundanya ke arah sang puta. Melihat putranya itu ternyata masih murni tidak se brengsek julukannya si playboy itu. Kini bundanya yakin...hanya Nindi yang benar-benar di cintai putranya.
"Benar itu nak? kamu nggak apa-apa kan?" tanya bunda lagi, dan membuat Arga makin malu karena pertanyaan bundanya itu. Lalu Arga berjalan akan keluar dari dalam kamar. Ia tidak sanggup untuk melihat kekasihnya dengan wajah yang menahan sakit.
__ADS_1
"Eh Ga! sini dong...suapi Nindi...tante masih pingin ngobrol sama bundamu," ucap tante Anin tiba-tiba dan Arga mau tidak mau pun berjalan mendekat ke samping ranjang kekasihnya itu dan duduk di sana kembali.