
Pagi yang cerah, Dimana di kediaman Rendi Wijaya tengah di sibukan dengan pesanan pesanan yang baru tiba di meja makan dan dapurnya, Semua pesanan untuk di bagikan ke para tetangga tetangga, Dimana niatnya untuk syukuran menyambut kelahiran putera kedua dari Keluarga Rendi Wijaya, Sekaligus memberikan nama pada buah hatinya.
Anin dan Rendi sepakat memberikan nama...
Evan rendnan Wijaya, Pada putera keduanya tersebut.
Hingga membuat Sibuk semua orang pagi setengah siang itu. Terlihat Nindi pula dengan sibuknya, Dan si bayi Evan tengah tidur lelap, Mungkin ia tahu jika pahlawan yang telah ikut berjasa dalam proses persalinan mamanya tidak ada di tempat.
Di tempat Arga, Terlihat ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah ia sampai di apartemenya, Segera saja bundanya memberikan vitamin pada puteranya, Agar pegal pegal dan capek yang di rasa sang putera mereda, Dan benar saja, Setelah meminumnya, Arga tertidur lagi sampai hari sudah menjelang sore, Mata hari sudah condong.
"Sayang...kamu nggak ke rumah calon mertuamu lagi? Bunda siap siap nih...bunda mau balik lusa...tapi bunda nggak tahu mau berikan kado apa buat adik Nindi." Ucap bunda yang membangunkan Arga, Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, Dan dengan kantuk yang masih melanda. Segera saja ia menunjuk sebuah lemari besar di sudut ruang keluarga, Di dekat dapur, Dan entah mengapa bunda baru menyadarinya bahwa lemari besar itu ada di sana.
Dan dengan segera, Bunda berjalan mendekat ke arah lemari tersebut, Tanganya langsung membuka pintu lemarinya,
"Astaga Arga...apa ini semua??" Ucap bunda dengan mata melebar dan rahang membuka, Ia benar benar terkejut dengan apa yang tengah di lihatnya, Mainan bayi dan pernak pernik bayi, Serta semua perlengkapan bayi tengah memenuhi isi lemari tersebut.
__ADS_1
Seketika bunda pun mengepalkan tanganya, Wajahnya yang tadi terkejut, Kini berubah memerah dengan mata menakutkanya. Segera saja ia berjalan secepatnya menuju kamar puteranya lagi, Terlihat Arga masih tidur tengkurap di atas ranjangnya.
"Bughk bughk bughk...." Suara gebukan tangan bunda yang menghujam lumayan keras di punggung serta di pinggang Arga, Hingga membuat Arga meronta melonjak seketika dari ranjangnya.
"Dasar anak nakal...dasar kamu ya...bunda nggak pernah ngajarin kamu buat se enaknya sama anak orang...jangan main sembarangan sama anak orang...bunda nggak pernah ngajarin kamu yang enggak enggak...jadi maksud kamu itu nyepetin nikahan kamu karena Nindi sudah hamil? dasar anak nakal!" Ucap bunda sambil berusaha mengejar Arga yang mencoba menghindar dari gebukan bundanya, Arga sampai berlarian memutari meja kursi ruang makan, Sofa dan juga lompat lompatan dari atas ranjang, Naik turun disana hanya untuk menghindari gebukan tangan bundanya, Sampai bantal dan semua yang bunda pegang melayang ke arahnya, Karena saat bundanya sudah marah...pasti sebelum capek lari lari tidak akan berhenti.
"Bunda...bisa diam dulu nggak? berhenti dulu? ngaso bund...istirahat...Nindi nggak hamil....astaga bunda...tahu Nindi hamil darimana? main gebug anak sendiri...ganteng gini nggak kasihan apa?" Ucap Arga yang belum bisa meredakan amarah bundanya.
"Bunda...itu sebenarnya buat kado adik Nindi...cuma kebanyakan...mama nggak bisa nerimanya...jadi Arga tampung disini aja...ya...biarlah untung untung nyicil kalau nanti Arga punya anak sama Nindi...bunda dengerin dulu...bunda berhenti dulu...Arga capek nih..." Ucap Arga yang lalu berhenti dan duduk di sofa ruang tamu. Dan seketika bundanya pun berhenti dengan nafas ngos ngosan dan tersengal sengal.
"Hamilin hamilin...anak orang itu bund...dan lagi...Arga sayang sama Nindi...nggak mungkin lah Arga buat Nindi sedih apa lagi kepikiran kayak gitu...Cinta Arga murni...tulus bund..." Ucap Arga lagi menerangkan dengan seksama, Dan terlihat mata bundanya tengah berkaca kaca disana, Ternyata didikanya selama ini benar benar membuat Arga menjadi pria baik dan tidak mengecewakanya. Meski tanpa bundanya ketahui...sempat dorongan yang membuatnya akan kebablasan itu pernah terjadi beberapa kali, Namun akal sehat masih menguasai puteranya tersebut.
"Akh bunda tanggung jawab...punggung Arga sakit semua sekarang...gara gara gebukan bunda...pokoknya pijitin...!" Gerutu Arga dengan dengusan kesalnya, Ia pun segera saja tengkurap di atas sofa dan meminta bundanya memijitinya disana.
"Akh...bunda juga capek ga...nanti minta pijit Nindi aja...kan kamu udah teruji baik dan sopan...pasti nggak akan kebablasan kan sayang...? bunda masih banyak kerjaan", Ucap bunda yang lalu pergi meninggalkan Arga yang masih terlanjur tengkurap disana.
__ADS_1
"Aaaakhhh...bunda...udah Arga kasih tahu hadiah buat adek bayi...Arga suruh milih sendiri pula...tapi apa yang Arga dapat?? gebukan bunda...bunda tega amat sih?" Lagi lagi dengus Arga dengan kesalnya. Mau tidak mau ia pun hanya bisa menahan nyeri sisa gebukan yang tadi di terimanya dan karena ia belum sempat menghindarinya.
Dengan senyum senang pun bundanya kembali ke kamarnya lagi, Dan terlihat Arga dengan ringisanya pergi menuju ke kamarnya pula, Ia segera bergegas menuju ke kamar mandi, Setelah ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul tiga sore, Ternyata hari itu ia begitu kecapekanya, Hingga tertidur cukup lama, Untung karena gebukan bunda yang membuat Arga terbangun dan terjaga seketika.
Hingga tanpa ia sadari, Panggilan Nindi pada ponselnya entah sudah beberapa kali yang Arga abaikan disana.
Sampai ia usai dengan mandinya dan mengganti pakaian, Ia berniat untuk pergi ke tempat calon istrinya itu lagi.
"Bund...Arga tinggal ke rumah Nindi lagi ya...nanti malam Arga pulang kok...bunda nggak apa kan sendirian...kalau kesepian...bunda minta kakak ipar aja buat nemenin ya bund..." Ucap Arga yang langsung di angguki oleh bundanya, Dimana bunda berpikir tak mungkin mengganggu pasangan pengantin baru itu, Dan bunda pasti akan memilih menonton acara derama televisi saja di rumah. Apa lagi hari itu adalah malam minggu, Pastilah pengantin baru itu akan sibuk sendiri dengan urusanya.
Hingga Arga berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir, Ia baru melihat pada layar ponselnya, Dan ia juga baru menyadari bahwa panggilan suara Nindi begitu banyak disana. Hingga pesan suara juga ia kirimkan padanya.
"Ga...aku kangen..." Ucap Nindi pada pesan suara yang baru saja Arga dengar disana.
"Sabar sayang...aku akan datang...jangan bersedih lagi..." Ucap Arga dalam hatinya, Dan senyumnya terkembang karena bahagia, Dimana Nindi begitu membutuhkanya, Hanya butuh saja sudah membuat Arga begitu bahagia.
__ADS_1
Dan benar saja, Di kediaman Rendi Wijaya, Terlihat Nindi ikut membantu para bibi dan pak supir, Serta pak kebunya, Berjalan dengan membawa bungkusan yang akan di antarkan pada para tetangga, Bertamu dari rumah ke rumahnya. Dan ada juga tetangga yang sengaja Rendi mintai tolong untuk membantunya memberikanya pada para tetangga yang lainya, Agar cepat selesai semua acara hari itu.