
Malam kian semakin larut, Dimana jalanan begitu sepi, Terlihat lengang di sepanjang jalan. Tak sekali dua kali mobil yang di kendarai ketiga orang tersebut melewati hutan, Namun masih sesekali mobil melintas.
Ketiganya hanya sekali beristirahat untuk makan malam, Selebihnya Satria memutuskan untuk melanjutkan perjalananya. Karena besok pagi mereka harus berangkat untuk pulang ke negara tempat tinggalnya sekarang. Tepat pukul sepuluh malam saat mobil tiba di depan rumah ifa, Terlihat cahaya remang namun terang saat di dekati dari teras rumah ifa.
"fa...bangun...sudah sampai nih...!" Ucap yura yang mencoba membangunkan ifa yang tengah terlelap ketiduran. Sontak ia pun terbangun sambil mengucek matanya.
"Ah...iya makasih ya yura...satria...sudah nganterin sampai rumah..." Ucap ifa sambil tanganya akan membuka pintu mobil yang sudah di peganginya.
"Ouh ya fa...tadi aku sudah pesenin tiket pesawat loh untukmu besok....besok bisa tiba di bandara pukul delapan pagi nggak?" Ucap yura yang mencoba memastikan ifa datang tepat waktu.
"Iya yura...siap...aku mau ngemas baju dan nyiapin semuanya malam ini...dan juga menulis surat pengunduran diriku." Ucap ifa sambil melangkah keluar dari dalam mobil yang baru saja ia tumpangi.
"Sampai ketemu besok di bandara ya ifa...!" Ucap yura sambil melambaikan tangan yang di balas lambaian juga oleh ifa, Ia mengantar mobil sahabatnya tersebut sampai menghilang dan tidak terlihat oleh pandangan matanya.
"Aku sudah yakin....aku harus lakukan." Ucap ifa yang lagi lagi memantapkan pilihanya. Karena selama ini ia tidak pernah menyesali apapun pilihanya.
Dan malam itu, Ia benar benar mengemas beberapa pakaian yang ia perlukan, Dimana disana banyak pakaian bermerk dan sepatu sepatu bermerk nya. Jelas semua itu pemberian Aditya, Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja, Dimana ia mengenang saat saat bersamanya sebagai pasangan. Meski tidak saling menyentuh, Menyentuhpun karena tangan ifa terbungkus sarung tangan elegan yang khusus di rancang untuknya.
__ADS_1
"Aaakh....lagi lagi aku menghayal yang tidak tidak!" Ucapnya sambil memasukan barang barang yang akan ia bawa besok ke dalam kopernya. Di luar rumah ifa, Di kegelapan malam, Nampak sosok gagah nan tampan tengah menyedekapkan kedua tanganya ke dada dan menyandarkan punggungnya ke pintu mobil yang tertutup. Pandanganya menatap ke arah rumah sederhana di depanya yang terlihat lampunya masih terang dari dalam rumah. Tanda si pemilik rumah masih terjaga dan belum istirahat.
"Jika kepergianmu bisa membuatku kembali pada diriku yang dahulu...aku rela...akan ku lepas kau kemanapun kau mau." Ucap Aditya yang entah sudah berapa lama mematung di tempatnya tersebut. Ternyata sejak dari ifa keluar dari rumah sakit tadi, Aditya selalu memantaunya tanpa ifa dan yang lain sadari. Dan Aditya pun mulai menyadari perasaanya yang berbeda dari perasaan pada umumnya, Di hatinya gadis itu setingkat memenuhi hati dan pikiranya, Ia tidak bisa menjauhkan diri dari gadis itu, Dan kenyataanya menginginkan lain dari hatinya.
Hingga ia putuskan jika memang ifa yang ingin pergi meninggalkanya...ia akan merelakan.
Bahkan tanpa sepengetahuan ifa...Aditya sudah mentransfer sejumlah uang ke akun Bank nya.
Kemungkinan cukup intuknya bertahan hidup hingga dua bulan, Aditya berpikir jika ia belum mendapatkan pekerjaan hingga satu bulan lamanya di negara orang.
Hingga terlihat lampu itu pun padam, Aditya baru masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak lantas menyalakan mesin mobilnya, Namun ia memutuskan untuk tidur di sana malam itu. Di dalam mobilnya, Karena mungkin esok ia sudah tidak bisa bertemu dengan ifa lagi.
"Om...Nindi..." Sapa Satria dan yura saat keduanya baru tiba.
"Kalian pasti capek kan? istirahat gih...sudah makan malam belum? makan dulu kalau belum..." Ucap Rendi sambil melirik anak gadisnya, Isyarat untuk Nindi agar mengantar kedua tamunya, Mengantarnya ke meja makan.
"Ayo yura...Sat...makan dulu..." Ucap Nindi sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Kami tadi udah makan Nindi...eh tahu nggak? tadi ifa pulang sama sama kita loh...kelewatan banget itu memang Aditya...kalau aku jadi ifa...sudah..." Ucapnya sambil melirik ke arah Satria, Dimana ia harus jaim di depan kekasihnya itu. Ia memilih menghentikan kata katanya barusan.
"Kamu yakin Aditya meninggalkanya begitu saja?" Tanya serius Nindi yang makin penasaranya. Dan yura memberitahunya dengan anggukanya saja.
"Dan besok...ifa juga akan ikut kita pulang ke negara kita Nindi...asyikan aku ada teman disana..." Ucap yura yang membuat Nindi makin tercengang.
"Haaah kamu serius yura? ifa yang memutuskan ikut denganmu?" Tanya Nindi dengan penasaranya.
"Syukurlah ifa sekarang udah waras!" Ucap Nindi dalam hati dengan tersungging senyum yang menghiasi bibirnya.
"Arga nggak usah di kasih tahu...biarin aja...!" Ucap Nindi yang memberi tahu Satria dan juga Yura, Dan kemudian keduanya pun mengangguk menyetujui. Hingga Satria pamit masuk ke dalam kamar yang ia tempati dan yura pun masuk ke dalam kamar yang ia tempati pula.
Fajarpun tiba menggantikan malam yang telah hilang gelapnya menjadi lebih terlihat terang meski sang surya baru menyembulkan sepercik cahaya dari ufuk timur.
Pukul enam tepat ifa sudah bersiap keluar dari dalam rumahnya, Dimana ia semalam sudah menulis surat pengunduran diri untuk ia kirimkan ke perusahaan tempatnya kerja. Meski ia sudah janjian dengan yura dan Satria pukul delapan tepat untuk bertemu di bandara.
"Astaga!" Ucap Aditya saat ia lihat Ifa tengah keluar dari dalam rumahnya dengan koper besar yang ia seret di tanganya. Namun ifa tidak menatap ke arah mobil yang berada di seberang rumahnya tersebut.
__ADS_1
Aditya begitu terkejut ternyata ia ketiduran sudah sampai se siang itu, Dan tanpa ia sadari ia belum pergi dari seberang rumah ifa.