Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Seteguh mercusuar


__ADS_3

Hingga pukul sepuluh malam saat Arga dan Rendi masih terlihat serius dengan percakapanya di ruang kerja Rendi, Sedangkan Nindi masih menunggui keduanya di dalam kamarnya, Ia masih diliputi rasa penasaran yang begitu besar, Dimana rasa ingin tahunya telah memenuhi otaknya malam itu, Ia penasaran apa yang tengah di bahas oleh papa dan juga kekasihnya yang hanya berdua saja di ruang kerja papanya, Tidak seperti biasa yang terang terangan membahas kerjaan hanya di ruang keluarga atau pun di teras samping rumahnya.


Hingga Nindi memekakan telinganya, Benar benar menunggu pintu ruang kerja papa nya itu terbuka.


Sesekali ia mondar mandir disana, Di depan pintu ruang kerja papanya, Hanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam sana.


Sampai....Arga membuka pintu tersebut dan keluar dari dalam ruang kerja papanya. Segera saja Nindi langsung menarik lengan Arga dengan sedikit paksa, Menyeretnya masuk kedalam ruang kamarnya yang kebetulan berada di sebelah ruang kerja papanya.


"Blak..." Suara tangan Nindi mengurung Arga di daun pintu kamarnya yang baru saja ia tutup.


"Jawab dengan jujur...tadi apa yang sedang kamu bahas dengan papa? kenapa aku sampai papa suruh keluar dari ruang kerjanya, Aku nguping juga nggak kedengeran ga..."


Ucap jujur Nindi yang benar benar sudah di serang rasa penasaran disana.


"Ini nggak kebalik sayang?" Tanya Arga sambil meraih kedua tangan kekasihnya itu lalu bergantian mengurungnya disana, Di tempat tadi saat Arga di kurung dengan kedua tangan Nindi. Kini tangan kekarnya yang mengurung Nindi disana.


"Sejak kapan kamu jadi nggak sabaran gini sayang? sepertinya papa tidak ingin kamu tahu masalah ini sebelum kita resmi menikah...jadi...aku tak bisa memberi jawaban apa apa atas pertanyaanmu itu!" Ucap Arga dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

__ADS_1


"Tapi ga...aku benar benar penasaran...apakah itu masalah kerjaan? atau...masalah lain?" Tanya Nindi yang mencoba ingin menggali lebih dalam lagi, Dimana seandainya Arga bilang masalah pekerjaan...Nindi akan mundur dan tidak ingin tahu lagi. Namun saat Arga bilang itu bukan masalah pekerjaan...jelas Nindi ingin tahu...apa lagi terang terangan papanya menyuruhnya pergi keluar dari dalam ruang kerjanya.


"Bukan masalah kantor...buka juga masalah pribadi...hemmmz...kamu boleh tahu kok...kalau sudah waktunya nanti sayang...ayo cium dulu...biar aku lepasin...aku sudah capek sayang...aku mau pulang...jangan siksa aku seperti ini...jelas jelas aku ingin pulang dan segera beristirahat." Ucap Arga dengan jujurnya.


"Yang nyiksa siapa...yang di siksa siapa sih ga? pulang pulang aja...jelas jelas kamu yang sedang ngurung aku kan?" Ucap Nindi dengan nada sedikit kasarnya.


"Kamu yang nyeret paksa aku kesini...masak iya cuma tanya jawab kayak gini aja endingnya?" Tanya Arga yang sudah mendekatkan wajahnya dan hampir mencium Nindi di depanya. Namun Nindi sudah menghadang wajah Arga dengan telapak tangan yang menempel di depan bibirnya.


"Pokoknya...sebelum aku tahu itu persoalan apa yang tengah kamu bahas sama papa...jangan harap aku mau ciuma atau di cium sama kamu...udah main rahasia rahasiaan sama aku...oke...cepet pulang...hari udah malam...bye bye Arga..." Ucap Nindi sambil mendorong tubuh Arga agar menjauh darinya.


"Kok gitu? emang kuat nggak nyium aku? aku yakin nggak akan kuat...apa lagi sampai empat bulan kedepan...yakin?"


"Yakin...lihat aja...daripada kemauanku...aku lebih kuat dengan konsisten aku...aku lebih teguh daripada mercusuar...jadi tinggal pilih...dan kita lihat aja...!" Dengus Nindi lagi yang sudah mengalahkan kedua tangan Arga yang tengah mengurungnya, Dan Nindi langsung menarik knop pintu untuk di bukanya. Namun sebelum Nindi berhasil membukanya kini beralih Arga menarik tubuhnya dan memelulnya dari belakang untuk beberapa saat.


"Aaakh...aku ngikutin kamu aja deh sayang...gimana maunya kamu...jadi...jangan kangen ciuman aku ya...okay...baiklah...aku pamit pulang dulu sayang...jaga hati...jaga perasaan..." Ucap Arga yang lalu melepas pelukanya, Dan tanganya meraih knop pintu lalu membukanya.


"Eits....satu lagi...jaga mata...jangan nonton film biru jika kangen aku...aku nggak rela kamu duain aku dengan film...!" Bisik Arga yang membuat Nindi geram dan hampir berteriak disana, Namun seketika jari telunjuk Arga sudah menyetopnya dengan menempel di bibir kekasihnya itu.

__ADS_1


"Sssst....ada papa di ruangan samping...jangan sampai ketahuan...ntar malah di nikahkan besok." Ucap jahil Arga begitu saja, Sambil jemarinya menekan disana.


"Aku pasti akan merindukanya...." Ucap Arga kemudian pergi begitu saja. Dimana Nindi hanya bisa terbengong saja di depan pintu kamarnya, Perasaanya seperti tengah di campur aduk oleh Arga barusan, Ingin sekali ia berteriak namun tak bisa. Dan kini ia hanya bisa konsisten dengan kata kata yang tadi ia ucapkan di depan kekasihnya.


"Awas kau...aku balas ntar...emangnya kamu aja yang bisa mempermainkan perasaan...dasar!" Dengus Nindi dengan kesalnya, Dimana ia tadi tidak bisa menimpali ucapan ucapan Arga.


"Drrrrrrttt....ddddrrrrtttt...." Tiba tiba ponselnya bergetar, Langsung saja ia mengambilnya dari sakunya, Menatap layar pada ponselnya, Dimana disana tertera nama Arga sayang yang tengah mengiriminya pesan. Segera saja ia membukanya dan membaca isi pesan tersebut.


"Awas...jangan mencoba membalasku...kau tak akan bisa sayang...lebih baik kau menyerah saja padaku."


Ucap pesan Arga yang Nindi baca. Seketika Nindi terlihat celingukan menatap ke sekelilingnya, Dimana ia merasa Arga tahu apa yang tengah ia ucapkan barusan saja, Arga seperti bisa membaca pikiranya.


"Apa Arga memasang CCTV di sini? di kamar ini? mengapa dia tahu apa yang aku ucapkan?" Ucap Nindi dalam hatinya.


"Tenang sayang...aku nggak memasang CCTV di kamar kamu...cepat istirahat...sudah malam..." Ucap Arga lagi di dalam pesan yang baru ia kirin dan baru Nindi buka, Karena ponselnya masih berada di tanganya. Hingga dengan segera Nindi membuka pesanya dan membacanya.


"Kamu dukun ya?" Ucap balasan pesan yang Nindi kirim untuk Arga,Dimana Arga seperti bisa membaca isi hatinya saja. Dan seketika di baca oleh Arga yang masih di dalam mobilnya dan sedang perjalanan menuju ke apartemenya. Tawanya pecah saat membaca pesan balasan dari kekasihnya tersebut. Dimana ia saat itu hanya mengira ngira saja bahwa Nindi akan berpikir demikian.

__ADS_1


Hingga mobil yang di kendarainya sudah sampai tempat yang ia tuju, Ia kemudian turun dari mobilnya, Arga masih terlihat tertawa saat mengenang balasan pesan singkat dari kekasihnya tersebut.


"Nindi...Nindi...mana ada gadis yang se berani kamu...yang ada semua gadis di depanku akan memujiku...bahkan berusaha menyanjungku...nah kamu...malah ngatain kekasihmu ini dukun...akh...sayang...baru sebentar saja aku sudah merindukanmu." Ucap Arga sembari berjalan menuju apartemenya.


__ADS_2