Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
PERASAAN YANG TERLAMBAT


__ADS_3

"Sudah nangisnya? apa yang kamu tangisi sebenarnya? karena kamu malu?mereka tidak mengenali wajahmu!


dan mungkin ketika mereka melihatmu lagi...mereka sudah tidak mengenalimu atau ingat tentang kelakuanmu, mungkin cuma papamu yang mengenali...dan nggak mungkin papamu bicara pada mereka tentangmu bukan?" ucap Arga yang langsung menusuk.hati Nindi dan seketika gadis itu terduduk lalu mengusap air matanya, kemudian Arga ikut duduk disamping Nindi di sofa yang gadis itu duduki. Nindi baru sadar apa yang sudah ia lakukan saat itu sangat kelewatan. Dan.ia baru sadar, sejahilnya Arga, lelaki itu tidak mempermalukannya didepan umum.


"Yang harusnya menangis itu ya aku Nindi...mereka mengenalku...CEO muda brengsek...mungkin seperti itu pikiran mereka...dan yang mereka kenal juga hanya aku..kenapa kamu yang nangis kan aneh?" ucap Arga lagi agar Nindi tidak menangis.


"Lalu...kenapa kamu tidak marah padaku? kenapa.kamu sesantai ini?" tanya Nindu pada lelaki itu.


"Karena masalah harus ditanggapi dengan kepala dingin." Ucap Arga disana.


"Sekarang yang jadi masalahnya itu...papa dan mamamu...bagaimana aku menjelaskan pada mereka? kau harus tanggung jawab padaku Nindi...ini demi nama baikku...kau sudah merusaknya...menodai citraku...di hadapan mama papamu...dan semua klien ku Nindi...haruskah aku ikut menangis Nindi?" tanya Arga dengan nada seriusnya yang membuat Nindi semakin terhanyut, Nindi sadar itu memang kesalahannya.


"Arga..." panggil Nindi yang membuat Arga terkaget-kaget karena itu adalah yang pertama kalinya Nindi menyebut dan memanggil namanya.


"Maafkan aku Ga...aku cuma ingin main-main saja...aku kira nggak akan sampai terjadi sejauh ini...kamu sih...ngerjain aku mulu..." ucap Nindi dengan nada santainya.


"Nindi...pernah nggak sih...kamu anggap aku serius? kamu selalu anggap aku bercanda dan dengan konyolnya aku tidak pernah merasa menyedihkan, dan bagimu aku hanya sebagai lelucon semata." Ucap Arga dengan nada menyedihkannya.


"Ga...bukan begitu maksudku Ga...aku nggak ada maksud mempermainkanmu Ga...aku hanya..." ucap Nindi yang terpotong karena Arga berdiri dari duduknya dan berlalu begitu saja dari hadapannya.

__ADS_1


"Aku hanya belum menyadari perasaanku Ga...aku tidak tahu...rasa ini muncul sejak kapan? dan aku menyadarinya sudah terlambat." Ucap dalam hati Nindi.


"Ayo aku antar kau pulang...maaf sudah menyusahkanmu selama ini." Ucap Arga sambil menyambar jaketnya dan Nindi langsung beranjak berdiri tanpa suara mengambil pakaiannya dan berjalan mengikuti Arga yang ada di depannya.


Selama perjalanan keduanya terdiam tanpa suara...tanpa sepatah katapun...dan hanya hening.


Sampai mobil memasuki kawasan pelataran keluarga Wijaya. Entah mengapa Nindi begitu sedih saat ini.


Arga membukakan pintu mobil untuk Nindi saat mobil sudah berhenti tepat di depan pintu utama.


"Mama...papa..." sapa Nindi pada kedua orang tuanya yang sudah ada di ruang tamu.


"Tapi pah...Nindi...." ucap Nindi yang belum tuntas sudah di potong papanya.


"Papa bilang masuk ya masuk..." teriak Rendi pada puterinya.


"Pah...sudah...aku ajak Nindi masuk kamar ya.." ucap Anin pada suaminya, lalu berjalan menggiring Nindi masuk ke dalam kamarnya. Sesekali gadis itu menileh menatap.kearah Arga yang terlihat lelaki itu tidak melihat kearahnya, Arga hanya menunduk didepan papanya.


"Om...maafkan Arga om..." ucap Arga.

__ADS_1


"Plaaaaak...." suara tangan Rendi menampar pipi Arga dengan sangat kencang. Dan seketika Nindi ingin berlari menuju Arga yang samar ia lihat dan dengar tamparan papanya mendarat di pipi laki-laki yang tidak bersalah itu.


"Nindi mama bilang masuk..." ucap Anin pada puterinya.


"Tapi ma...semua salah Nindi...Arga nggak salah apa-apa ma...kami juga nggak ngelakuin apa-apa...sungguh..."


ucap Nindi dengan linangan air matanya yang begitu deras membasahi pipi. Lalu berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Lalu mamanya kembali turun saat ia tidak di perbolehkan Nindi masuk.


Dilantai bawah.


"Om...maaf...Arga nggak ada niat buat malu om...sungguh om...semua ini tidak seperti yang om lihat...sungguh."


Ucap Arga dengan kepala yang menunduk dan ia sadar akan kesalahannya, yaitu...mengejar Nindi.


"Arga...om sudah terlanjur percaya padamu...tapi apa...? semua ini apa? apa kata orang-orang tadi pada putri om...mereka menjudge...menghakimi puteri om tanpa om bisa membelanya, bayangkan itu." Ucap Rendi dengan nada marahnya.


"Baiklah om...maaf yang bisa Arga ucapkan, karena alibi apapun yang Arga berikan...tidak bisa mengembalikan kepercayaan om dan tante. Mulai saat ini...Arga tidak akan mengganggu keluarga om lagi, terimakasih atas kepercayaannya selama ini. Arga mohon diri." Pamit Arga sambil berjalan pergi dengan benerapa tetes air mata dan dada yang seakam terkoyak.


"Sakit." Satu kata yang mewakili.

__ADS_1


__ADS_2