
"Sayang...waktunya makan siang..." ucap mama sambil masuk ke dalam kamar Nindi begitu saja.
"Mah...Nindi masih kenyang...mama sama papa saja ya yang makan..." ucap gadis itu yang sedikit malas.
"Ayo lah sayang...nanti kamu sakit gimana?" tanya mama.
"Mah...mamah nggak lihat? mama pura-pura nggak lihat?" ucap Nindi dengan nada kesalnya.
"Lihat apa sayang?" tanya mamanya.
"Sekarang Nindi sudah seperti sekarat...mama dan papa puas?" ucap Nindi dengan mata menatap jendela luar kamarnya.
"Aku merindukan Arga ma...kalian bisa merasakan nggak? Nindi nggak punya pacar...sekalinya Arga berlaku baik dan sayang sama Nindi...papa dan mama malah melarang kami bertemu, hari-hari Nindi seperti hampa ma...tanpa jahilan, tanpa perhatian Arga...mama ngerti nggak?" ucap Nindi dengan isakannya, air matanya semakin deras membanjiri pipinya yang mulus. Lalu Anin tidak sanggup melihat puterinya seperti itu, ia segera keluar dari kamar Nindi, menutup pintunya rapat-rapat dan ikut menangis di sana.
"Sayang kau kenapa? apa anak kita melukaimu?" tanya Rendi yang tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya dan melihat istrinya menangis disana, tanpa pikir panjang Rendi pun memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Pah...saat aku menangis...kau selalu memelukku bukan?" tanya Anin pada suaminya.
"Tentu sayang...aku akan selalu memelukmu, jangankan saat kau menangis...sebelum kau menangis...aku akan menghiburmu agar kau tidak sampai menangis." Ucap jujur Rendi.
"Lihat...sekarang lihat putri kita seperti sekarat sekarang, dia butuh pelukan Arga...dia butuh jahilan lelaki itu...dia ingin dihibur Arga...dia...menyukainya pah.. apa kita tidak terlalu jahat dan picik pah menghakimi keduanya? memisahkan cinta mereka?" ucap Anin sambil membuka sedikit pintu agar suaminya melihat dan tahu sang putri sedang duduk di atas ranjang dengan kaki di tekuk ke atas, dan kepalanya menunduk menyentuh lututnya serta kedua tangan yang memeluknya erat, Nindi terlihat terisak-isak disana. Lalu Anin menutup pintunya kembali.
"Kau benar sayang...kita sangat egois...kita sama seperti semua orang yang menghakimi orang lain dengan penglihatannya sendiri tanpa tahu yang sebenarnya." Ucap Rendi saat itu yang baru menyadari sikap egoisnya.
"Jadi...sekarang buang ego papa untuk anak dan calon mantu kita ya pah..." ucap Anin dengan senangnya. Dan lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan. Namun rencana keduanya tidak diberitahukan pada sang putri.
Sore menjelang malam.
"Tok, tok, tok..." suara ketukan dari pintu luar apartemen Arga. Terlihat lelaki itu terbangun dari tidurnya, kepalanya berat...seharian dia belum makan apa apa sama sekali, dan setiap garinya hanya minuman beralkohol yang menemaninya. Ia terbangun...lalu berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Betapa terkejutnya ia saat di lihatnya sosok yang berdiri di luar pintu yang baru ia buka.
"Om Rendi."Gumam dalam hatinya.
__ADS_1
"Om...ada apa kemari...? Nindi tidak ada di sini...Nindi..." ucapan Arga terputus.
"Kami tidak saling bertemu setelah tempo hari om...saya...tidak tahu keberadaannya...kenapa dia om? ada apa dengannya?" ucap nerocos Arga tanpa sela dan terlihat kecemasannya.
"Nindi ada di rumah Ga...dia tidak apa-apa nak...om kesini untuk minta maaf...untuk tamparan om tempo hari...om tidak seharusnya demikian...om tersulut amarah Ga...maafkan om ya...Nindi lebih membutuhkanmu Arga...maukan kamu memaafkan om?" ucap maaf Rendi, karena ia baru tersadar dari kesalahannya. Dan seketika membuat Arga ternganga, seolah nyawanya telah melayang dan balik lagi ketubuhnya.
"Terimakasih om...maaf...Arga tinggal ke dapur ya om...om masuk ayo...silahkan." Ucap Arga sambil ngeloyor pergi begitu saja.
"Ga nggak usah repot-repot." Ucap Rendi.
"Ngak repot kok om...Arga mau makan...Arga lapar...seharian belum makan sudah seperti orang sekarat."
Tanpa sadar ucapan Arga yang menyadarkan Rendi betapa bodohnya ia sudah memisahkan dua insan yang saling mencintai.
"Yasudah...om pergi dulu ya...nanti di pesta om Bima...kamu datang kan?antarkan Nindi pulang ya kalau sudah usai." Ucap Rendi lalu ia berjalan pergi begitu saja, dengan perasaan lega dan bahagia.
__ADS_1
"Siap om..." kata Arga dengan mulut penuh makanan.