Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
NIAT TERSELIBUNG


__ADS_3

Menjelang siang itu.


"Triiiing," tiba-tiba terdengar suara ponsel Arga berbunyi, seketika ia pun melihat pada layar ponselnya dan membuka pesan di dalamnya. Perlahan ia membacanya.


"Bos... bisa bertemu sebentar di luar kantor?pesan yang Arga baca.


"Oke, kirim alamatnya." Balas Arga seketika. Lalu lelaki itu pun beranjak pergi dari tempat duduk di kantornya, ia bergegas keluar menyambar jas dan memakainya terburu-buru sambil berjalan cepat. Terlihat ia mengambil telphon genggamnya dari saku jas dan segera menelphon supirnya.


"Siapkan mobil sekarang!" ucap Arga pada supir yang baru saja mengangkat panggilannya itu.


"Baik pak." Ucap si supir. Lalu Arga memutus panggilannya.


"Lhoh, Ga...tunggu, tunggu....!" kata Nindi sambil berteriak saat berpapasan di depan kantor dengan lelaki itu. Namun Arga tidak melihatnya apa lagi mendengarnya, karena terburu-buru pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu pun melaju begitu saja.

__ADS_1


"Ini kan belum waktunya makan siang Ga...? kamu keluar terburu-buru mau kemana sih?" ucap dalam hati Nindi yang memang datang sebelum waktu makan siang. Karena mamanya sudah membuatkan makan siang untuk lelaki itu. Dan lagi...tiga hari itu Arga hanya mengirim pesan saja tanpa berkunjung ke rumah karena sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang pasti...Nindi begitu merindukannya.


"Aaah...ya sudah deh, aku makan sendiri aja nih bekal dari pada di pulangin ke mama..." ucap Nindi sambil berjalan menuju ke taman terdekat dan duduk bersila diatas rerumputa dibawah pohon rindang.


Nindi sesekali melirik seorang laki-laki yang lumayan tampan namun terkesan dingin. Nampak sesekali laki-laki itu melirik ke arahnya.


"Hey...nggak usah curi-curi pandang...! bilang aja kalau aku cantik?" ucap Nindi dengan pede nya saat laki-laki itu menoleh ke arahnya.


"Kamu ini sepertinya anak orang kaya...! masak makanan begini aja nggak bisa beli?" ucap Nindi lagi dengan ketusnya.


"Bukan nggak bisa beli! tapi...nggak ada yang masakin masakan rumahan seperti itu." Ucap laki-laki itu sambil menunjuk makanan yang Ada di tangan Nindi itu.


"Kamu mau? nih kalau mau..." ucap Nindi sambil mengisyaratkan makanan yang masih separuh lebih itu pada laki-laki yang kini berjalan mendekat ke arahnya, karena seharusnya itu juga untuk porsi dua orang.

__ADS_1


"Mungkin sekarang Arga sedang makan dengan klien nya. Sadi pada ke buang kan mending ada yang nampung." Ucap dalam hati Nindi.


"Eh...kamu belikan minum dong...aku teh tarik ya...!" ucap Nindi seketika saat laki-laki itu sudah duduk di sampingnya. Lalu tanpa kata, laki-laki itu menggerakkan jari telunjuknya saja ketika melihat seseorang yang sudah muncul berlari mendekat kearah keduanya. Dan seketika ia melaksanakan apa yang di perintah laki-laki yang duduk bersila di samping Nindi.


"Wiiih...orang kaya nih?" canda Nindi begitu saja, namun hanya di balas tatapan tajam dan senyum datar di bibir laki-laki itu.


"Kenalin...Nindi..." ucap Nindi sambil mengulurkan tangannya.


"Sudah tahu!" balas laki-laki berwajah dingin dan datar itu.


"Tahu? tahu dari mana? kamu siapa emangnya? teman papa aku? nggak mungkin...kamu masih muda banget. Seperti usia mu di bawahku ya?" nerocos canda Nindi begitu saja. Nindi tidak tahu sebelumnya laki-laki itu sudah mengamati dan menyelidiki asal usul Nindi, karena Nindi adalah kunci kelemahan Arga Sanjaya. Dan lagi...ia adalah putri tunggal keluarga Wijaya.


"Aditya Wibawa." Ucap laki-laki itu singkat dengan senyum sinisnya. Namun entah mengapa Nindi tidak takut sama sekali. Dan keduanya menikmati makanan mereka siang itu.

__ADS_1


__ADS_2