
Sudah sehari terlewati saat Arga hanya memberi kabar satu pesan suara dan juga dua pesan singkat, Meski demikian Nindi begitu lega mendengar kabar dari kekasihnya tersebut.
Tepat sehari sebelum pelaksanaan pernikahan Aditya, Dimana Arga juga tak kunjung memberi kabar pada kakaknya tersebut.
Hingga tepat setelah makan malam, Aditya mencoba memghubungi Arga, Sudah ke sekian kalinya hanya operator yang menjawab panggilanya.
"Tuh anak kenapa lagi sih? awas saja kalau ntar pas acara pernikahan aku nggak datang...aku nggak akan beri ampun...!" Dengus kesal Aditya yang ada di samping ifa, Sontak membuat ifa tersenyum geli mendengarnya, Karena baginya jarang jarang Aditya terlihat seperti itu.
Ifa tahu...sebenarnya saat itu Aditya bukan menggerutu kesal atau marah...melainkan khawatir setelah dua hari Arga tanpa kabar. Dan memang begitu kenyataanya...Aditya begitu menyayangi adik tirinya tersebut. Adik yang tumbuh dewasa bersama sama denganya. Meski Arga satu tingkat lebih tinggi di atasnya, Namun Aditya bisa memaklumi akan hal itu...tak bisa Aditya ungkiri bahwa Arga memang terkenal si jenius sejak dari keduanya bertemu.
Sampai Aditya mencoba menelephone lagi, Akhirnya tersambung juga.
"Halo kak...ada apa? aku lagi makan malam dan jalan jalan sama bunda nih...kakak telephone aku banyak banget kak? ada apa?" Tanya Arga saat ia sudah menerima panggilan dari kakaknya.
"Yaudah...aku kira ada apa kok tumben nggak kasih kabar sama sekali...nggak lupa kan kalau besok hari pernikahan aku?" Tanya Aditya yang membuat Aditya mendapatkan ide cara untuk menjahili kakaknya.
"Aduuuh kakak...gimana sih...Arga lupa nih...besok Arga ada janji sama klien kak...waaaah...kayaknya nggak bakal ada pendamping yang ngedampinggin kakak..." Ucap Arga dengan nada suara yang bergetar khas orang yang sedang benar benar bersedih.
__ADS_1
"Awas aja ga kalau kau nggak datang...nggak kasian Nindi jadi saksi sendirian apa? ouh...kau minta aku nggak restuin kamu sama Nindi apa gimana ini ga? kakak nggak mau tahu besok pukul sembilan kamu harus sudah siap di tempat."
Ucap Aditya yang sudah tidak bisa di tawar tawar lagi.
"Iya iya...kakak...Arga usahain pokoknya...apa sih yang nggak buat kaka! eh tapi gimama kak awak media?"
Tanya Arga yang sedikit khawatir , Dimana telah tersebar rumor yang menyatakan keduanya telah perang dingin secara diam diam.
"Tenang aja ga...kalau perlu aku beli kantor majalahnya yang berani nerbitin artikel yang menyinggung kita." Ucap Aditya dengan mantapnya. Dan Arga hanya mendengus mengakui kekuatan kakaknya dan keteguhan kata katanya.
Apa yang ia ucapkan sebagian besar selalu terlaksana.
Berbeda di sudut pojok kursi terlihat ifa tengah duduk masih setia menemani calon suaminya itu yang baru saja menelephone Arga. Keduanya terlihat adem ayem damai meski besok pagi keduanya harus melangsungkan pernikahanya.
"Apa kata Arga bby?" Tanya Ifa seketika saat Aditya menyudahi panggilanya dan menoleh menatap kearahnya dengan menyunggingkan senyum.
"Arga....hemmmmz...anak itu...sukanya jahil terus sayang meski dalam keadaan serius." Ucap Aditya menjawab pertanyaan calon istrinya.
__ADS_1
Lalu Aditya mulai beringsut mendekat ke arah ifa yang sudah duduk di sudut paling ujung dan pojok sofa. Ifa pun hanya bisa meneguk ludahnya dengan tatapan tidak mengertinya, Namun ifa hanya diam saja dengan senyum tersungging di bibirnya, Jikapun Aditya mau ngapa ngapain mana mungkin ia mau menunggu selama ini, Pasti dari dulu dulupun ia bisa, Namun buktinya sampai sekarang masih dalam batas wajar.
"Apa ada yang bisa aku bantu bby?" Tanya ifa sambil mengalihkan pandangan Aditya yang terasa menusuk ke dalam hatinya.
"Sayang...jawab jujur...apakah kau tidak ingin seperti pasangan lain berfoto sebelum pernikahan dan sebagainya?" Tanya Aditya yang benar benar ingin tahu, Karena pernikahan keduanya terkesan dadakan dan tergesa gesa. Namun ifa hanya membalasnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Aku sudah bahagia seperti ini bby...aku nggak akan menyesali apa yang jadi pilihanku. Atau...mungkin kamu pingin pesta lajang ya sebelum pernikahan...?" Tanya Ifa dengan senyum kecut yang ia paksakan, Ia begitu khawatir kata katanya menyadarkan Aditya yang mungkin lupa dengan budaya luar Negeri, Dimana dahulu pernah Aditya tempati di negara tetangga. Namun lagi lagi Aditya membalasnya dengan senyum lagi.
"Sayang...kamu sepertinya belum mengenal calon suamimu ini, Mereka datang hanya saat ada maunya saja...kenapa aku harus repot repot memghabiskan waktu berhargaku dengan mereka jika disini ada calon istriku yang begitu cantik rupawan dan nggak ngebosenin." Ucap Gombalan Aditya begitu saja. Hingga dalam hati ifa begitu sangat lega dan bahagia. Senyumnya jelas tergambar di bibirnya.
" Sayang...udah malam...cepet istirahat biar besok tidak kesiangan akad nikahanya sayang..." Ucap Aditya dengan nada lembutnya, Dimana ia harus memastikanya lagi bahwa semua keluarga ifa akan menghadiri pernikahanya besok, Ia membutuhkan paman ifa yang akan menggantikan ayah ifa sebagai walinya.
Dengan patuh ifa pun menuruti kata kata Aditya dan segera saja masuk ke dalam kamarnya. Dimana Aditya langsung seketika memastikanya lagi lewat panggilan telephone pada paman ifa. Setelah semua dirasanya cukup lancar...dan sudah lega hatinya, Ia mulai masuk ke dalam kamar yang berada di sebelah kamar ifa.
Ia merebahkan tubuhnya disana, Entah mengapa matanya tidak bisa menutup, Ia sudah membayangkan bagaimana besok dirinya akan bersanding dengan ifa di pelaminan.
Meski yang menghadiri hanya ratusan orang saja, Baginya sudah cukup untuk membuktikan bahwa ifa adalah miliknya.
__ADS_1
Hingga Akhirnya ia terlelap dengan bayangan bahagia yang rasanya sudah ia rasakan meski kenyataanya masih esok hari.