
Angin sepoi berhembus halus...menerjang kulit nan samar terasa, Di tambah suasana malam yang kian hangat di temani hingar bingar keceriaan pesta pernikahan.
Di sudut tempat dalam acara, Nampak dua sejoli sedang memegang piring dengan makanan yang nampaknya baru saja habis. Keduanya terlihat sangat ceria hingga mengalahkan yang punya acara pesona yang terpancar dari wajah keduanya. Nindi dan Arga. Namun...bertolak belakang dari mereka, Saat melihat ke sudut lain.
Dimana dua sejoli yang duduk berjajar namun terpisah satu bangku yang di atasnya ada sebuah tas tangan.
Siapa lagi jika bukan Aditya dan juga ifa. Bak suami istri yang tengah perang dingin namun terlihat senyum saat orang lain menyapanya, Begitu berbeda dari pasangan yang satunya. "Apa kau mau pingsan lagi hah? jika kau tidak mau memakanya kenapa kau mengambilnya?" Ucap Aditya yang tegas namun sedikit kasar ifa dengar.
"Sa...saya...tadi ambil sedikit bos...tapi bos tambahi...jadi saya nggak bisa nelan lagi bos...saya sudah kenyang..."
Ucap ifa menyanggah petkataan Aditya barusan.
"Aku tambahin karena aku nggak mau gendong kamu lagi saat kamu pingsan gara gara kurang makan!" Dengus Aditya yang memang merasa ia benar.
"Tapi bos...perutku sudah tidak muat lagi..." Ucap ifa sambil menyodorkan piring yang ada di tanganya dan masih terlihat banyak makanan disana.
Hingga suasana canggung itu kembali muncul lagi, Dimana Aditya begitu gemas hingga ingin menyuapi ifa.
Di pojok meja nan jauh, Terlihat Rendi dan Anin sedang memperhatikan kedekatan putrinya dan Arga, Dimana keduanya sudah saling lengket satu sama lain, Meski Rendi dan Anin melihat ada beberapa gadis yang sedang menggosipkannya, Namun Anin percaya pada pilihan putrinya.
"Pah...lihat tuh mereka...sampai kapan pacaran terus?" Ucap Anin sambil melitik ke arah suaminya, Namun Anin begitu terkejut ketika ia dapati sang suami malah menatap ke arah lain. Rendi menatap ke arah pasangan Aditya dan juga ifa. Terlihat ia begitu serius menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Pah...aku lagi bahas Arga sama Nindi...kok papa malah lihat ke arah lain sih?" Gerutu Anin saat ia sadari sang suami tidak mendengarkan kata katanya.
"Sayang lihatlah itu...Aditya Wibawa...kau tahu sayang...ia adalah salah seorang pesaing kuat yang belakangan ini terkenal di antara para klien, Aku penasaran...seperti apa orangnya...tapi ternyata melihat wanita yang menemaninya adalah sosok yang sederhana seperti itu...berarti ia juga adalah lelaki yang penyayang tidak se menakutkan perkataan orang dan rumor yang beredar." Ucap Rendi sambil memeluk pundak sang istri, Dan Anin malah tidak mengerti sama sekali apa yang tengah di katakan sang suami.
"Pah...papa ngomong apa sih pah?" Tanya Anin sambil mencoba menatap ke arah yang suaminya sedang pandang.
"Oooh...itu...teman Nindi ya pah? kenapa? anaknya baik kok..." Ucap Anin yang membuat suaminya tercengang tiba tiba.
"Sayang...kamu jangan main main...itu kamu lihat orangbitu? yang di sampingnya ada wanita berhijap santun? itu bukan sayang yang kamu maksud?" Tanya Rendi yang begitu penasaranya.
"Iya...yang itu pah...di ponsel Nindi juga aku liat videonya kok sama Arga, Yura, dan juga Satria...makanya aku tahu pah...dan lagi...kami pas belanja juga pernah bertemu kok...Nindi terlihat akrab sama dia." Ucap Anin yang apa adanya dan memang seperti itu yang ia tahu.
"Sayang...putri kita luar biasa ya kan?" Ucap Rendi tiba tiba sambil mengajak sang istri berjalan untuk berpamitan pada yang punya acara. Dan Anin tidak mengerti apa yang di maksud suaminya itu. Baginya putrinya dari dulu memang selalu hebat.
Arga segera melepas genggaman tanganya dari jemari Nindi, Dimana ia melihat om Rendi dan tante Anin datang mendekat ke arahnya.
"Om...tante..."Sapa Arga saat keduanya sudah berada di dekatnya.
"Ga...Nindi...papa sama mama mau pulang ke kamar hotel dulu...kalian nikmati pestanya...setelah selesai langsung balik ya..." Ucap Rendi pada putrinya dan juga Arga, Dimana ia memilih pulang terlebih dahulu sebelum acara selesai karena kesehatan istrinya yang sedang berbadan dua, Meski baru memasuki usia kehamilan empat bulan habis dan hampir lima bulan. Rendi selalu menjaga kesehatan istrinya dan calon buah hatinya itu, Tepat pukul sembilan istrinya harus sudah istirahat dan tidak lebih, Lebihpun tidak banyak.
"Iya pah...biar nanti Arga yang anterin ya pah..." Ucap Nindi dan Arga yang memberi salam pada om Rendi dan tante Anin sebelum keduanya pergi meninggalkan tempatnya.
__ADS_1
"Lega....!" Satu kata yang Arga rasakan saat itu. Dimana saat saat bertemu dengan om Rendi akhir akhir itu menjadi sangat canggung setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Dimana saat Nindi menginap di rumahnya dan ia lupa tidak sadarkan diri makanya tidak memulangkan Nindi. Mulai saat itu Arga begitu canggung di buatnya, Namun Nindi tidak bisa melihatnya, Maupun tante Anin.
Terlihat Aditya memberi isyarat pada Arga untuk mengikutinya menuju ke pelataran tepi pantai, Dan dengan segera Arga pun mengikuti instruksinya, Ia pun turut mengajak Nindi untuk ikut bersamanya. Nindi pun menurut saja ajakan sang kekasih dan ikut serta berjalan menuju ke pelataran tepi pantai.
" Hai..." Sapa Arga saat ia sudah berada di sisi Aditya.
"Kenapa kamu ngajak pacar kamu sih ga??" Tanya Aditya begitu saja dengan sedikit berbisik. Saat Arga baru saja tiba dengan menggandeng tangan Nindi disana.
"Kenapa kak memangnya? lalu ifa mana kak?" Tanya Arga saat ia melihat kakaknya itu ternyata disana seorang diri.
"Dia tadi pamit ke toilet ga...aku pingin ngomong berdua sama kamu ga..."Ucap Aditya dengan seriusnya. Dan dengan nada yang masih berbisik bisik.
"Tanya apaan kak?" Tanya Arga dengan nada ikut berbisik pula.
"Kamu sudah makan belum?" Tanya Aditya mencoba memastikan apakah perasaanya itu sama khawatirnya saat melihat ifa hanya makan sedikit, Apa lagi saat mengetahui ifa belum makan.
"Kak serius...nyuruh aku kesini hanya mau nanyain itu? jelas lah aku udah makan tadi sama Nindi...akh...udah deh...aku mau mojok sama Nindi...tadi udah pamit juga sama Audry dan papanya sebelum mereka di serbu pengunjung pesta yang lain." Ucap Arga sambil berlalu pergi meninggalkan Aditya yang masih kebingunganya.
"Aku yakin...Arga nggak makan seminggu juga aku nggak khawatir...**** nya kenapa aku malah tanya hal itu padanya sih? dan kenapa jika ifa yang nggak makan aku ingin memaksanya makan...aku gemas aaakh...aku ini kenapa jadi mikirin kayak gitu sih..." Gerutu Aditya saat ia sadari perasaanya ada yang salah...ada yang berbeda yang ia rasakan saat menyangkut ifa.
"Aku yakin ada yang salah dengan otakku!" Ucap Aditya lagi yang meyakinkan dirinya bahwa bukan perasaanya yang berbeda tapi otaknya.
__ADS_1