
Terlihat Nindi mondar mandir di ruang keluarga, Lalu naik turun anak tangga, Hingga beberapa kali, Sedangkan di meja makan terlihat Anin dan Rendi yang akan menikmati makan malamnya.
"Sayang....tuh anak kenapa lagi sih? bukanya gosipnya udah nggak ada ya di peredaran? Kok mondar mandir kaya setrikaan?" Tanya Rendi pada istrinya, Dan anin hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak tahu menahu apa yang sedang di pikirkan putrinya tersebut.
"Sayang sini...ayo kita makan malam bersama...!" Ucap Anin saat Nindi lagi lagi turun dari tangga.
"Mah...aku masih nungguin telephone Arga ni mah...pah...dia tadi ngajak makan malam bersama...eh nggak taunya aku telephone nggak di angkat...aku kirim pesan nggak di balas juga!" Ucapnya dengan wajah yang sedikit lesu disana. Dimana kenyataanya Arga tengah tertidur dengan ponsel yang ia matikan.
Padahal niatnya malam ini ia ingin sekali secepatnya menyerahkan cincin yang beberapa hari kemarin sudah ia janjikan pada Nindi, Saking capeknya Arga hari itu.
"Mah...pah...kalau Nindi minta izin mau ke apartemen Arga boleh nggak? Arga nggak pernah begini mah...pah...Nindi jadi khawatir...!" Ucap Nindi dengan nada cemasnya, Ia benar benar sangat khawatir saat Arga tidak ada kabarnya meski ia tidak berada di duar kota.
"Kamu itu anak gadis sayang...masak iya nyamperin cowok sih? apa kata orang coba?" Ucap Rendi yang memang demikian kenyataanya.
"Akh...ya sudah...Nindi malam ini nggak makan malam aja kalau gitu!" Ucap Nindi dengan sedikit kesal lalu pergi menaiki anak tangga dan berlari lecil menuju ke kamarnya.
"Blam!" Suara pintu kamar yang terdengar ia banting.
"Papa sama mama nggak ngerti perasaan Nindi...kayak mereka nggak pernah muda aja...!" Dengus kesal Nindi sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan dan menenggelamkan wajahnya ke atas bantal empuknya.
Hanya berselang setengah jam lebih saat mobil Arga tiba di kediaman Rendi Wijaya, Arga keluar dari dalam mobilnya setelah pak supir membukakan pintu mobilnya.
Arga terlihat lesu kala itu, Makanya ia meminta jasa supir pribadinya untuk mengantarnya.
"Ting tong!" Suara bel dari luar pintu kediaman Rendi Wijaya terdengar sangat nyaring. Membuat asisten rumah tangga Rendi bergegas menuju ke arah pintu dan membukanya.
"Bi...Nindinya ada?" Tanya Arga seketika sebelum bibi menyapanya dan mempersilakanya masuk ke dalam.
"Silakan masuk tuan Arga...non Nindi ada di kamarnya..."
Ucap asisten rumah tangga Arga yang mempersilakan tamunya untuk masuk. Arga pun lalu duduk di sofa ruang tamu, Menunggu kelanjutan apa yang akan ia hadapi.
"Siapa bi?" Tanya Anin yang masih menikmati makan malamnya.
"Itu nyonya...tuan Arga...beliau mencari non Nindi nyonya..."
__ADS_1
Ucap bibi sambil menunggu perintah apa yang akan di berikan oleh nyonya nya tersebut.
"Pah...ada Arga tuh..." Ucap Anin sambil menatap ke arah suaminya yang sedang menikmati makan malamnya.
"Suruh sini aja bi...biar sekalian ikut makan malam kita..."
Ucap Rendi yang memberi perintah pada asisten rumah tangganya. Dan dengan segera si bibi melaksanakan apa perintah tuanya.
"Om...tante...selamat malam...maaf Arga ganggu om dan tante lagi..." Ucap sapa Arga setelah ia sampai di dekat kedua orang tua kekasihnya.
"Ga...nggak apa kok...kan kamu calon mantunya om dan tante...panggil aja mama papa kaya Nindi aja ga...sering sering kesini juga nggak apa apa!" Ucap Anin dengan nada ramahnya.
"Tuh ga...Nindi dari tadi nyariin kamu...sampai ngambek nggak mau makan malam tuh...samperin gih sana...!" Ucap Rendi dengan nada datarnya, Namun masih terlihat ramah pada Arga.
"Arga ke atas dulu ya om...tante...eh...mah...pah...!"
Ucap Arga sembari bergegas pergi menaiki anak tangga setelah mendapat anggukan dari keduanya.
"Tok tok tok!" Suara ketokan dari luar kamar Nindi, Dan Nindi hanya menoleh sesaat lalu menutupi wajahnya dengan selimut. Kini tubuhnya berbalut selimut tebalnya.
Karena sepi sunyi dan tidak ada sahutan sama sekali, Arga pun memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar kekasihnya itu. Dilihatinya seonggok selimut tebal telah menutupi tubuh kekasihnya disana.
"Apakah sekuat ini kekasihku kalau lagi rindu?" Tanya Arga sambil berlalu duduk begitu saja di samping kekasihnya, Di tepian ranjang Nindi. Sontak membuat Nindi seketika membuja selimutnya dan menatap ke arah sosok yang remang remang ia lihat di sampingnya, Sosok kekasih yang sudah ia hafal meski di jarak seratus meter darinya.
Tatapan keduanya bertemu sesaat, Saling memandang dan sedetik kemudian Nindi berhambur ke pelukan Arga, Keduanya berpelukan seakan besok tidak akan bertemu lagi.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu bisa se manja ini?" Tanya Arga dengan kedua tangan memeluk hangat tubuh Nindi.
Nindi masih terdiam dan tidak membalas ucapan kekasihnya itu.
"Tunggu!...kenapa aku yang capek tapi badan kamu yang panas gini sayang?" Ucap Arga seketika dengan kedua telapak tangan sudah menempel di kedua pipi Nindi, Dan satu punggung tanganya beralih ke kening kekasihnya itu.
"Ayo...sekarang baring...aku akan panggil dokter kemari..."
Ucap Arga dengan tangan sudah memindahkan tubuh Nindi ke tempat tidur, Manarik selimutnya sampai menutupi dadanya,
__ADS_1
"Ga...mau kemana? jangan tinggal kemana mana ga...jangan pulang....!" Ucap Nindi dengan tangan yang sudah menarik jemari Arga, Agar tidak pergi keluar dari kamarnya.
"Aku nggak ke mana mana sayang...aku mau bilang mama sama papa kalau kamu lagi deman kaya gini...sebentar aja kok sayang...tungguin ya...!" Ucap Arga sambil mengembalikan tangan Nindi ke atas selimutnya.
Lalu Arga pun bergegas keluar dan menuju ke arah Anin dan Rendi yang masih berada di meja makan.
"mah...pah...Nindi demam...Arga panggilkan dokter ya...!" Ucap Arga sambil merogoh ponselnya dari dalam saku dan akan langsung menghubungi dokter pribadinya.
"Biar papa aja yang hubungin Dokter pribadi...nanti kalau kamu yang manggil bisa bisa malah heboh lagi ga...!"
Ucap Rendi sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya, Dimana ponselnya berada di atas laci kecil samping tempat tidurnya.
"mah...biasanya kalau Nindi lagi sakit makananya biasanya apa mah?" Tanya Arga dengan menyelidik ingin tahu.
Dan Anin baru ingat ketika Nindi bersikap sangat manja jika ia merasa sakit.
"Biar mama buatin minuman hangat Nindi...kamu temani dia aja di kamar...jangan biarin dia sendirian...manjanya udah nggak ketulungan ga kalau udah sakit gitu!" Ucap Anin dengan kenyataanya. Dan Arga pun mengangguk mengiyakan ucapan calon mertuanya itu dan beranjak kembali ke kamar Nindi.
Disana sudah terlihat Nindi meringkuk dengan nafas yang lebih cepat, Keringatnya bercucuran tubuhnya panas, Sontak membuat Arga menghampiri kekasihnya itu lalu membuka selimutnya, Memeluknya erat, Namun sepertinya Nindi sudah tidak meresponya. Seketika saja ia langsung membopong tubuh kekasihnya itu membawanya turun menuju ke mobilnya yang ada di tempat parkir luar.
"Looooh....looooh....itu mau di bawa kemana ga?"
Teriak Anin yang sedikit meninggikan suaranya,
Namun sepertinya Arga sudah tidak menggubrisnya lagi.
Sampai Rendi sedikit berlari menuju Arga dan Nindi yang belum keluar dari rumahnya. Di susul Anin dari belakangnya. Menyodorkan minuman hangat untuk Nindi.
Dengan susah payah Nindi pun meraih gelasnya dan mencoba meminumnya. Arga pun menurunkan tubuh Nindi lalu mendudukanya ke kursi ruang makan.
"Kuat ya Arga pah! Hebat dia...!aaakh...Nindi begitu beruntung..." Ucap Anin ditambah senyum kecil di bibirnya.
"Mama nggak liat Nindi pucat gini mah? Arga mau antar ke rumah sakit mah pah...!" Ucap Arga sambil menunggui Nindi menghabiskan minuman yang di berikan mamanya.
"Arga....Arga....Nindi hanya mau datang bulan saja...kenapa kamu se heboh itu....udah ajak masuk kamar lagi, Biar istirahat dia...udah mama buatin jamu rempah rempah itu tadi." Ucap Anin yang membuat bengong Rendi dan juga Arga.
__ADS_1
"Lah ngapain papa ngikut Arga manggil dokter segala coba." Dengus Rendi yang sudah ngikut khawatir Arga.
"Aaakh...aku lupa jika saat ini aku sedang tidak fit," Ucap Arga dari dalam hatinya. Tubuhnya langsung lemas ikut terduduk di sebelah kursi Nindi.