Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
SETENGAH GALAU.


__ADS_3

Arga seketika beranjak berdiri dari tempat duduk nya, ia akan melangkah dari tempat nya namun tiba-tiba om Rendi menghentikannya.


"Ga...biar om aja...kamu tunggu situ aja...temani bunda mu dan tante." Ucap om Rendi yang entah mengapa membuat hati Arga sedikit kecewa. Lalu Arga pun duduk di kursinya kembali dengan berat hati, dan Rendi berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar putrinya.


"Tok, tok, tok..." Rendi mengetuk daun pintu dari luar kamar Nindi.


"Nindi...ayo turun! bundanya Arga sudah tiba nak..." ucap Rendi sedikit berteriak.


"Iish...papa...Nindi masih ngantuk...mata Nindi nggak bisa di buka ini...ugh...papa..." dengus Nindi yang belum sadar bundanya Arga serta arga sudah tiba.


"Sayang...ayo turun!" ucap papa lagi dari luar pintu kamar Nindi.


"Iya papa...Nindi bangun pah...sebentar lagi Nindi turun..." ucap Nindi yang masih sedikit ngantuk saat itu. Lalu Rendi yang sudah mendengar jawaban sang putri pun segera pergi, ia berjalan turun dari atas. Menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

__ADS_1


"Mah...Nindi bentar lagi turun katanya...emmz...mah...aku tinggal bentar nggak apa-apa kan? ada tamu di luar...kalian lanjut ngobrolnya ya...aku tinggal dulu ya..." ucap Rendi pada istrinya dan kedua tamunya disana, sambil berlalu pergi. Sedangkan Anin dan bunda Arga yang makin asyik bercerita kesana-kemari satu sama lain.


Lima belas menit sudah Rendi belum masuk ke dalam rumah. Nindi juga belum keluar,


dan Anin sudah merasa waktunya sarapan sudah hampir habis.


"Arga...tante minta tolong ajak Nindi turun ya...biar om Rendi menyelesaikan urusannya di teras luar dulu." Ucap Nindi tiba-tiba yang membuat mata Arga berbinar senang, karena dari tadi hatinya sudah galau.


"Jeng...Arga sudah tahu kamar Nindi?" tanya bunda Arga keheranan.


"Sudah mbak...Arga sering kesini kok...tapi baru sekali ia masuk kamar Nindi, kenapa mbak?" tanya Anin balik.


"Jeng...aku seneng lo kalau kita jadi besanan...aku juga sudah tahu Nindi dari sejak kecil...semuanya aku suka jeng...gimana jeng kalau kita nikahkan saja mereka? toh mereka juga sedang menjalin hubungan kan sekarang bagaimana kalau kita resmikan saja satu sama lainnya?"

__ADS_1


ucap bunda Arga seketika. Karena memang bunda khawatir Arga yang terkenal mantan playboy itu kumat lagi atau belum insyaf.


"Mbak...biar anak-anak saja yang menentukannya mbak...kita orang tua hanya bisa melihat perkembangannya saja...kalau kita paksa takutnya anak-anak belum siap kan malah membuat mereka tertekan mbak...dan lagi Arga selama ini selalu jujur kok mbak dengan kami...dan kami juga percaya pada Arga serta Nindi." Ucap Anin menengahi.


"Yasudah jeng...nggak apa-apa...semoga saja secepat nya ada kabar baik dari mereka ya jeng..." ucap bunda pada Anin.


Langkah Arga terhenti tepat di depan pintu kamar Nindi. Ia terpaku disana, entah kenapa ia sangat merindukan kekasihnya itu, padahal baru dini hari tadi terakhir ia mendengar suara cerewet Nindi.


Arga terbiasa tidak tidur hanya untuk bekerja lembur atau pun menonton siaran pertandingan sepak bola, namun Nindi...ia sama sekali tidak pernah tidur kelewat pukul sebelas malam.


"Tok, tok, tok..." suara Arga mengetuk pintu dari luar kamar Nindi.


"Masuk...mah...masuk..." ucap Nindi yang sangat yakin itu mama nya...karena biasanya kalau papa nya sudah sekali membangunkannya, pasti mama nya yang akan turun tangan.

__ADS_1


__ADS_2