Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Tiba tiba tidak bisa merubah kata iya menjadi tidak


__ADS_3

Tepat pukul delapan pagi saat Nindi sampai di apartemen Arga, "Masuk gih...anggap rumah sendiri ya sayang..."


Ucap Arga sambil mempersilakan kekasihnya untuk masuk.


"Astaga!!"Ucap Arga dengan kagetnya saat di dalam apartemenya sudah berada Aditya tengah duduk di sofa ruang tamu dengan kepala mendongak menyender ke sandaran sofa.


"Udah...anggep dia nggak ada sayang...ayo..." Ucap Arga sambil menggandeng tangan Nindi untuk masuk, Karena Nindi sempat mematung menghentikan langkahnya sejenak saat ia melihat Aditya di dalam apartemen Arga. Ia pun sedikit terkejut. Dengan langkah sedikit ia seret akhirnya Nindi pun turut masuk mengikuti dorongan Arga, Ia duduk di sofa dekat Aditya. Dan Aditya tidak menggubrisnya sama sekali. Apalagi menoleh ke arahnya.


"Kakak katanya mau fitting baju pengantin? kok masih disini?" Tanya Arga sambil berjalan menuju ke arah lemari pendingin dan mengambilkan dua botol jus kemasan untuknya dan untuk kekasihnya. Arga mengulurkanya pada Nindi lalu duduk tepat di sampingnya.


"Haaah...appa!! Aditya akan menikah? dengan ifa? kok bisa secepat itu? ifa kok mau sih?" Ucap nerocos Nindi tiba tiba saking kagetnya, Hingga Arga mengangkat satu jari telunjuknya dan menempelkanya ke depan bibirnya, Isyarat Nindi diam disana, Dan Nindi pun akhinya mau diam.


"Ga...ifa mulai lagi...dia nggak mau aku jemput...dan ia maunya nanti sore aja fittingnya, katanya sibuk pagi ini, Dan lagi...ini tanggal merah harusnya semua karyawan libur bukan? nih butik napa buka sih? pengen aku gusur aja ga!" Dengus kesal Aditya, Dimana ia bermaksud fitting khusus pagi ini dan setelah itu ia bisa jalan jalan dengan ifa, Namun ifa menolaknya dan punya rencana tersendiri, Rencana yang membatasi interaksinya dengan Aditya. Disitulah letak puncak kekesalan Aditya namun tidak bisa ia ungkapkan, Ia hanya bisa pasrah saja dan menerimanya begitu saja, Dan Aditya baru tersadar bahwa ia bukanlah dirinya sendiri saat itu.


"Aditya penurut...." Ucap dalam hati Aditya, Entah mengapa ia tidak mampu menolak keinginan yang calon istrinya itu inginkan. Padahal masih jadi calon istri, Belum jadi istri, Namun Aditya tidak bisa mengubah kata kata iya nya menjadi tidak.


"Kan...Aditya mulai kumat lagi...kenapa kalau curhat selalu kemari...? dadakan, Yang lebih ngeselin...ngagetin lagi!" Ucap Arga dalam hatinya lalu menarik tangan Nindi mengajaknya ke kamarnya dan meninggalkan Aditya yang terlihat masih kesal di sana.


"Udah sayang...kamu di sini aja...bisa bisa kamu kena semprot Aditya ntar kalau kamu kelamaan di dekatnya." Ucap Arga sambil menutup pintu kamarnya setelah keduanya masuk ke dalam.


"Truuus...mau ngapain? kenapa berduaan disini? ketiganya setan lo ga...kamu nggak takut? ngeri tahu!" Ucap Nindi sambil melihat lihat isi kamar kekasihnya tersebut, Dimana disana terdapat rak buku panjang dari sudut ke sudut dan bertingkat tinggi, Terdapat banyak buku yang tertata rapi.

__ADS_1


Dimana sebelumnya ia tidak melihatnya.


"Enaknya ngapain ya? tuh setanya udah di ruang tamu...nggak bakalan ngikut masuk kok sayang...mau sekalian di kunci pintunya?" Canda Arga sambil mendekat perlahan ke arah Nindi dan mendesaknya sampai punggung Nindi membentur ringan rak buku di belakangnya.


"Aduh...nih cowok...lama lama kenapa jadi tengil begini sih..." Ucap Nindi dalam hatinya, Dan Nindi tidak tahu maksud Arga hanya untuk menggodanya saja.


"Ah ga...ini rak buku kenapa menuhin kamar kamu? kenapa nggak di ruang kerja aja?" Ucap Nindi yang mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya itu yang tubuhnya sudah semakin mendekat dan mendesaknya, Hingga kedua tangan Nindi menghadangnya, Sedikit mendorong dada Arga.


"Ah...ini...soalnya setiap aku mau tidur kurang afdol kalau aku nggak baca...jadi aku males aja jalan keluar kamar...makanya aku taruh sini aja." Ucap Arga sambil tanganya mengulur yang membuat Nindi salah sangka padanya, Nindi mengira Arga akan meraih tengkuknya dan menariknya untuk menciumnya, Sampai ia sudah memejamkan matanya lagi.


"Nih...kamu baca buku ini sambil nungguin aku selesai mandi!" Ucap Arga setelah beberapa saat ia menatap wajah cantik Nindi yang tanpa polesan apapun di depanya tengah memejamkan mata, Dan tanganya mengulur mengambil buku yang ada di atas Nindi.


"Aku nggak mau baca...mata aku sakit!" Ucap ketus Nindi sambil mendorong dada Arga agar menjauh darinya.


"Lagi lagi setan sudah mempengaruhi otaku!" Ucap Nindi sambil berlalu dari depan Arga dan menuju ke sofa samping jendela besar yang membentang di sana.


"Kamu marah karena nggak aku cium?" Ucap Arga sambil memeluk Nindi dari belakang dengan kedua tanganya.


"Nggak! kamu nggak usah mikir kejauhan!" Ucap Nindi dengan ketusnya. Namun Arga nggak mau melepaskan kesempatan langka tersebut begitu saja,


Arga mengambil dagu Nindi hingga menghadap ke arahnya, Dan tanpa aba aba Arga pun menciumnya, Untuk beberapa saat, Namun Nindi hanya terdiam dan tanpa membalasnya, Membuat Arga menyudahinya.

__ADS_1


"Aaah...sepertinya disini cuma para lelaki saja yang ngebet pengen nikah", Ucap Arga sambil berlalu pergi menuju kamar mandinya, Tak lupa ia membawa serta pakaian gantinya. Dan Nindi masih terdiam sampai Arga benar benar masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat sudah Nindi menikmati nonton tv nya sebelum ponselnya berbunyi,


Segera saja ia menatap layar ponselnya, Disana tertera Mama yang tengah mencoba menghubunginya.


Secepatnya ia pun langsung mengangkat panggilan mamanya tersebut.


"Halo ma...ada apa?" Tanya Nindi seketika saat ponselnya tersambung pada mamanya, Dan terlihat Arga yang baru keluar dari kamar mandi, Wangi mint bercampur menthol jadi satu dan begitu segar di cium hidungnya.


Arga kemudian duduk di sampingnya dengan handuk yang masih mengalung di lehernya.


Dengan isyarat mata ia bertanya siapakah yang tengah menghubungi Nindi tersebut. Dan Nindi pun dengan isyaratnya pula memberi tahu bahwa itu adalah mamanya, Dan dengan jari telunjuk yang menempel di bibirnya, Agar Arga diam mendengarkan saja.


"Sayang kamu pagi pagi langsung keluar minta antar supir ke taman ngapain sih?" Tanya Anin pada puterinya, Ia begitu penasaran di buatnya, Karena ia melihat piama yang masih melekat di tubuh Nindi, Nindi berlarian sambil berteriak memanggil pak supir untuk mengantarnya.


Tergesa gesa dan terlihat masih berantakan.


"Aaah...ini mah...Arga ngeprank Nindi critanya...emang Arga nyebelin mah...nih ntar Nindi mau di anterin Arga kok bentar lagi..." Ucap Nindi dengan senyum kecut menatap ke arah Arga dan kedua jari yang terangkat membentuk huruf V. Dan dengan gemas Arga menatapnya, Dengan mata menyipit tajam ke arah Nindi.


"Awas kau, Aku balas ntar!" Ucap Arga dengan gerutu gemasnya.

__ADS_1


__ADS_2