Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Memantapkan pilihanya


__ADS_3

Di tengah tengah pesta, Nampak Nindi yang masih berdansa dengan papanya, Sedangkan mama Anin yang terlihat mengawasi dari kejauhan, Nampak


Arga yang juga masih mengajak sang bunda untuk berdansa denganya. Terlihat pula Ifa dan sang suami yang masih pula menikmati acara yang mereka ikuti, Meriah dan penuh kebahagiaan.


"Sayang...nggak capek? udahan yuk..." Ucap Aditya yang terlihat tengah merasa sedikit kegerahan disana, Karena pelukan sang istri yang menempel erat di dadanya, Tanganya masih mengalung di lehernya.


"Bby...aku masih suka disini..." Ucap Ifa dengan bisikan yang mengena tepat di telinga sang suami, Dan nampak Aditya merasa tergoda olehnya.


"Bisakah aku membawamu pergi sekarang sayang?" Ucap Aditya yang makin menarik pinggang sang istri agar menempel padanya.


"Dugh," Sikutan Arga yang mengena pada punggung Aditya, Sontak membuatnya menoleh ke arah Arga.


"Aku yang nikah...kenapa kakak yang jadi pusat perhatian sih?" Dengus Arga lirih namun di dengar oleh Aditya.


"Kamu kira aku seneng gitu?" Ucap balasan Aditya sambil menoleh mendekatkan kepalanya ke arah Arga yang sengaja berjajar tepat di sebelahnya.

__ADS_1


Sedangkan Nindi dan papanya masih asyik menikmati alunan nada nada lembut yang mengalun mengiringi pesta dansa, Bagi Rendi, Mungkin pesta itu hanya untuk sekali seumur hidup puterinya, Dan Rendi tidak ingin melewatkanya.


"Sayang...apa kamu senang?" Tanya papa pada Nindi di sela sela dansa.


"Tentu pah...Nindi senang...bahagia bahkan...nggak nyangka...pesta pernikahan Nindi se meriah ini, Nggak kebayang juga jodoh Nindi adalah Arga pah..." Ucap Nindi dengan senyum yang menghiasi bibirnya, Dan Rendi pun mengerti, Bahwa ia harus lega membiarkan puterinya hidup bahagia dengan lelaki pilihanya, Terlebih lagi lelaki itu adalah Arga sanjaya, Lelaki yang bukan sembarangan.


"Ingatlah sayang...kamu sudah menjadi seorang istri...fokus saja sama suami dan rumah tanggamu...seperti mama, Papa setiap pulang kantor...yang papa cari mesti mamamu duluan, Lihat dia duduk manis menyambut papa pulang, Hati papa sangat bahagia, Mungkin semua suami di dunia menyukainya, Termasuk suamimu, Dan papa harap...kamu bisa bijak...jangan terlalu egois dan ingin menang sendiri sayang...tapi berbagilah...dan jangan sampai menyimpan suatu masalah sendiri, Atau menyimpan rahasia dari suamimu, Sekecil apapun itu. Mengerti?" Ucap papa yang membuat Nindi mengangguk dengan mata yang berkaca kaca, Selama ini papanya selalu menjadi pahlawan yang selalu bisa ia andalkan di sekolah, Sampai kuliah dan hingga ia dewasa, Tapi baru kali itu Nindi merasa papanya benar benar turut menyemangatinya dengan nyata.


Hingga...."Pah...Arga mau dansa sama Nindi," Ucap Arga yang menyadarkan keduanya dari sendu yang terjadi barusan.


"Papa bilang apa? kenapa kamu bisa tersentuh sayang?" Tanya Arga dengan penasaranya, Karena tadi ia sempat melihat keduanya berbincang bincang hangat.


"Mau tahu aja sih..." Ucap balasan Nindi sembari menyunggingkan senyumnya.


"Apa...jangan jangan papa bilang secepatnya bikinin teman main Evan ya sayang?" Ucap Arga yang hanya menebak nebak saja.

__ADS_1


"Haiz...apaan sih ga...nggak...papa nggak bilang gitu...papa cuma ngasih tahu aja kalau aku harus selalu bersikap manis sama kamu." Ucap Nindi dengan wajah merona malu nya, Karena selama ini ia sadar, Bahwa bersikap manis dengan Arga itu adalah hal yang langka ia lakukan.


"Kan...papa aja tahu sayang..." Ucap Arga yang membenarkan ucapan sang istri barusan.


"Jadi...setelah acara lusa usai...apakah aku akan di rumah saja ga? aku nggak kerja? lalu...darimana aku dapat uang?" Ucap Nindi yang memang sudah terbiasa mencari uang sendiri tanpa menggunakan uang yang mama papanya berikan, Ia sudah terbiasa menyimpan pemberian orang tuanya dan memakai uang hasil jerihpayahnya sendiri, Baginya lebih nikmat.


Hingga perkataan Nindi membuat Arga tersentak, Pasalnya sudah tiga hari menjadi istrinya, Namun ia belum juga memberi ATM tanpa batas limit nya pada sang istri.


Atau...kartu Amex Black Card miliknya. Arga punya dua di dalam dompetnya, Dan karena kata kata sang istri, Pasti nanti ia akan memberikanya satu untuk istrinya. Kartu yang hanya beberapa orang kaya raya yang punya.


"Sayang...kau sekarang istriku...sudah menjadi tanggung jawabku...dan yang pasti...mau kamu kerja atau nggak...aku pasti nafkahin kamu lah..." Ucap Arga dengan pelukan hangatnya, Hingga barulah ia dan Nindi menjadi pusat perhatian kala itu.


"Hemmmz...lalu...kamu lebih senang aku kerja nggak?" Tanya Nindi lagi yang ingin kepastian.


"Kalau aku...lebih senang saat kamu santai...saat aku ajak makan siang...kamu sudah nggak repot...kamu nggak kecapekan...dan itu harusnya kamu di rumah saja sayang...

__ADS_1


tapi...kalau kamu ngotot dan ingin kerja...mana bisa aku nggak kasih izin," Ucap Arga dengan seriusnya, Dan Nindi kemudian tersadar, Apa yang papanya katakan tadi ternyata benar adanya, Hingga ia sudah memantapkan pilihanya.


__ADS_2