
"kruyuuuk kruyuuuk...."tiba tiba terdengar suara perut ifa yang berbunyi,dari pagi ia menunggui ibu nya di rumah sakit sampai saat ini ia belum memasukkan sedikitpun makanan ke dalam perutnya.
"suara apa itu?kamu lapar?"tanya Aditya dengan nada sedikit dingin pada ifa.
"nggak apa apa kok pak..."jawab ifa sambil kedua tangannya menekan ke arah perutnya.
Dan Aditya pun tidak mempedulikannya,ia lebih memikirkan...gimana malam ini ia bisa pergi dari tempat yang kini ia pijaki.
"aaakh...disini pengap...kipas kamu nggak ada yang lain apa?"tanya Aditya sambil menunjuk kipas angis yang berputar di samping kursi ifa,
"ada pak...di dalam kamar ibu saya..."ucap ifa sambil tertunduk,tanpa sadar...air matanya jatuh lagi,padahal saat ini kedua matanya serasa hampir buta karena menangis tanpa henti.
"hey...kau bisa nggak jangan nangis kayak gitu?wajah kamu tuh udah jelek...jangan kamu buat makin jelek tahu!!"ucap ketus Aditya lalu beranjak dari duduknya dan berdiri,ia kemudian berjalan menuju ke luar,ke teras luar.Dimana suasanya begitu sepi dan hening.
"nih kampung perasaan sepi kayak kuburan...apa emang suasana kampung semua gini?"ucap Adiya sambil bersedekap di depan pintu rumah ifa.
"kenapa kalau kamu tahu aku jelek...masih saja menyiksaku?masih saja melanjutkan lelucon yang bagiku penjara yang menyiksa.
Orang macam apa kau Aditya?aku membencimu...Ibu...bisa bisanya kau percayakan putrimu pada orang macam dia?"
dengus tangis ifa yang sesekali tangannya menepis lelehan air mata yang jatuh di pipinya.
"mari pak..."sapa seorang penjual nasi goreng keliling yang tengah mendorong gerobak kelilingnya lewat di jalan depan rumah ifa.
"gadis itu doyan nggak ya makanan kayak gitu?aaakh...penting makanan...dia belum makan seharian,nggak penting doyan apa nggak nya...beli dulu aja deh..."ucapnya sambil turun dari teras dan sedikit berlari mengejar penjual nasi goreng keliling yang sudah hampir lewat beberapa rumah dari rumah ifa.
"hey...sini..."ucap aditya sambil tangannya mengisyaratkan untuk si penjual datang mendekat ke arahnya,dengan segera...penjual nasi goreng itu pun berbalik haluan dan mendekat ke arah orang yang memanggilnya.
"ya tuan..."ucap si penjual lalu berhenti tepat di depan Aditya.
__ADS_1
"kamu jualan apa?"tanya Aditya sambil celingukan melihat lihat.
"ada nasi goreng,mie goreng,mie kuah...tuan...anda mau pesan yang apa?"
tanya si penjual pada Aditya.
"nasi gorengnya satu...mie gorengnya satu...mie kuah nya juga satu,semua macem satu satu!"ucap Aditya pada si penjual,karena Aditya tidak tahu yang mana yang akan di pilih oleh ifa nanti.
"baik tuan..."ucap si penjual lalu terlihat sudah mulai sibuk menyiapkan pesanan yang aditya minta.Aditya pun terlihat menunggui dengan sabar,meski kakinya sesekali ia tabok tabok...karena banyak nyamuk yang mengincarnya.
"tuan pacarnya mbak ifa ya?tunggu di dalam saja tuan...nanti saya antarkan masuk ke dalam...jika sudah jadi pesanannya."ucap si penjual yang satu pesanan sudah jadi.
"nggak aku mau nungguin aja sekalian."ucap Aditya yang tidak menolak atau mengiyakan partanyaan si penjual.
"mbak ifa itu bunga desa tuan...banyak yang suka...banyak yang ngantri...termasuk anak pak kades...tapi...sepertinya gantengan tuan deh kemana mana,mbak ifa pinter milih..."
"kamu pikir...aku sudi dengan cewek kampungan itu...haaah...males deh ngladenin nih orang...dimana mana orang miskin bisanya hanya menjilat saja!"dengus kesal Aditya di dalam hatinya.
"pak maaf...baru nemu berkasnya yang anda minta bawa kemari...maaf pak..."ucap asisten pribadi Aditya yang baru turun dari mobil yang berhenti tepat di samping Aditya.
"sepertinya...aku terlalu lembek padamu...tuh tungguin...kalo sudah bawa masuk!"perintah Aditya pada asistennya dan mengambil paksa berkas yang ia minta lalu berjalan pergi meninggalkan asistennya dan si penjual.
Aditya masuk kedalam rumah,dimana ifa terlihat duduk menunduk dengan kepala bertumpu pada lutut kedua kakinya yang ditekuk.dengan Kedua tangannya memeluk erat dan mengeratkan kedua lututnya.
"nggak ada gunanya kamu bersedih nangis terus meratapi kepergian ibu mu...mau sampai kapan?"ucap Aditya yang baru masuk ke dalam rumah dan mendapati ifa yang masih terduduk di tempatnya semula.
"pak...anda sepertinya sudah lama ya tanpa seorang ibu...hingga tidak mengerti...bagaimana rasanya terputus paksa ikatan seorang anak pada ibunya,yang biasanya saling menguatkan satu sama lain."
ucap ifa dengan beraninya,ia tidak takut sama sekali pada Aditya,ia tidak peduli reaksi apa yang akan di lakukan oleh atasannya tersebut.Aditya mematung dengan mata berkaca kaca di depan ifa.
__ADS_1
"kau tahu...aku tidak punya ibu...sejak umur delapan tahun...ayahku sudah mati,ibuku pergi meninggalkan aku sendirian mengemis di jalanan,dan mungkin sekarang dia sudah mati aku tidak peduli...jadi...jika kau terputus dengan ibu mu di usiamu saat ini...itu lebih dari cukup berlebih kau membuat kenangan dengannya...apa yang kau tangisi?kau kurang lama di temaninya?jangan sok menghakimi orang lain jika kau tidak tahu!"
ucap Aditya yang di tujukan pada ifa dan kemudian berbalik berjalan keluar menuju teras lalu terduduk disana.
"brengsek...siaaal...!!"umpatnya berkali kali.
"tuan ini pesanannya..."ucap asisten Aditya sambil membawa tiga bungkus macam makanan yang tadi Aditya pesan.
"berikan pada dia."ucapnya sambil tangannya menunjuk ifa yang ada di dalam rumah tanpa menoleh dan tetap fokus pada berkas di tangannya,namun pikirannya benar benar sedang kacau saat ini.Dengan patuh si asisten pun masuk dan memberikan bungkusan bungkusan itu ke atas meja depan
ifa duduk.
"non...ini tadi pak Aditya pesan makanan di penjual keliling depan rumah non sebelum saya datang...silahkan non makan...kalau tidak...pasti saya yang akan kena marah."
ucap si asisten dengan nada memohonnya.
"baiklah pak saya akan makan...terimkasih..."ucap ifa sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur,ia mengambil tiga piring dan tiga sendok sama dengan jumlah bungkusan makanan yang ia terima.
Ifa kemudian membuka bungkusan bungkusan itu dan meletakkan ke atas piring yang ia bawa,ia memilih mie kuah yang terlihat baru matang,lalu ia membawa mie goreng dan mie kuahnya ke teras depan dimana Aditya menyendiri,ia tahu sejak dari rumah sakit sampai saat ini Aditya pasti juga belum makan apa apa.
"pak...temani saya makan ya...saya nggak bisa nelan kalau nggak ada teman makan..."ucap ifa sambil memberikan mie goreng di tangannya ke pada Aditya.
"suruh temani asistenku saja sana..."ucap ketus Aditya pada ifa.
"Asisten bapak sudah makan nasi goreng tuh di dapur..."ucap ifa sambil duduk di dudukan pembatas teras depan Aditya tepat,ia meletakkan mie kuah miliknya di sampingnya duduk,lalu mengambil satu suapan dan tanpa aba aba menyuapkan langsung ke mulut Aditya,Aditya yang memang merasa lapar...menerima saja perlakuan ifa.
"enak?mau aku lanjutin?"tanya ifa pada Aditya,ifa sadar...Aditya meski berhati dingin...namun ia sebenarnya orang yang berhati hangat,ia terkesan ketus pada semua orang...untuk menyembunyikan kesedihan dan kepahitan hidupnya.Hingga keduanya makan bersama sama malam itu,
"nih...mie punyaku juga enak loh..."ucap ifa sambil menyuapkan mie miliknya pada mulut Aditya,dan Aditya pun menerimanya meski ia tahu...sendok itu bekas masuk mulut ifa.
__ADS_1