
"Oh non Nindi...tuan dan nyonya disana." Ucap pak supir sembari menunjukan keberadaan tuan dan nyonya nya di sebuah saung lesehan yang tidak jauh darinya.
Dan segera saja,Nindi menarik tangan sang suami untuk mendekat ke arah kakak iparnya berada.
"Hai kakak...kok kita ketemu disini? bukanya kakak tadi berangkat duluan ya?" Ucap Nindi saat sudah sampai di dekat kakak dan kakak iparnya, tak lupa ia pun menyapanya.
"Itu...kakak ipar kamu suka ke kamar kecil sekarang...sepanjang perjalanan aja udah enam kali dia ke kamar mandi." Ucap Aditya sembari mengelus punggung sang istri yang tengah tersungkur di pangkuanya, Ifa tengah teler saat itu.
"Kakak masak iya mabuk kendaraan darat sih kak?" Tanya Nindi pada Ifa, namun tak ada jawaban karena Ifa tengah teler, Ifa merasa pusing berkunang kunang dan perutnya tak nyaman, ingin buang air kecil juga ingin bung air besar, namun saat Aditya ingin membawanya ke dokter, ia lebih ketakutan lagi, hingga Aditya hanya bisa menjaga sang istri dan memberinya vitamin yang ia beli di apotik saja.
"Yaudah sayang...ayo ke saung lain...kita disini ntar malah gangguin kakak ipar." Ucap Arga yang di angguki sang istri, ia pun menuju ke saung lain yang kosong, keduanya menatap keindahan alam yang luar biasa, di sekelilingnya tampak sepanjang mata memandang terhampar danau yang begitu indah, meski letaknya tidak pas tepat di bawah saung nya, namun terlihat begitu dekat saat mata memandang.
__ADS_1
"Sayang...aku pingin tahu...Resort baru kamu itu kenapa di bangun di puncak? kenapa nggak di bangun di tepi pantai?" Tanya Nindi saat tatapan keduanya bertemu.
"Emmmb...karena kamu lebih suka puncak daripada di dekat pantai, benar kan?" Ucap Arga yang membuat Nindi mengangguk.
"lalu...kenapa kamu lebih suka puncak daripada pantai?" Tanya Arga balik.
"Disana sejuk...tiap mata memandang begitu indah, pikiran penat jadi adem, emosi meledak jadi sirna, dan yang lebih penting...tanpa penyejuk atau pendingin ruangan, disana sudah benar benar dingin, apa lagi waktu malam hari." Ucap Nindi dengan antusiasnya.
"I love you...." Ucap Nindi tiba tiba dengan manisnya, saat kedua pandanganya bertemu satu sama lainya, membuat Arga gelagapan seketika, entah mengapa, meskipun Nindi sudah menjadi miliknya, jantungnya masih berdetak tak karuan saat mendengar kata manis yang Nindi ucap barusan.
"Nggak di jawab? beneran?" Ucap Nindi lagi yang ternyata sedang menunggu jawaban dari suami tampan di sampingnya.
__ADS_1
Hingga membuat Arga tersadar dan seketika menarik lengan Nindi dan meraupnya kedalam pelukanya.
"Harusnya kau sudah tahu jawabanya sebelum bertanya sayang...dan harusnya pun kau tahu meskipun tanpa kujawab sayang..." Ucap Arga dengan pelukan hangatnya, dan Nindi hanya mengangguk saja.
"I love you too." Bisik lirih Arga tepat di telinga Nindi, ia merasa kurang afdol tanpa membalasnya, meski kenyataanya rasa cintanya lebih besar dari yang Nindi rasakan.
"Sayang udah...itu ada orang..." Ucap nindi meronta melepaskan pelukan sng suami, saat ia melihat seorang datang membawakan makanan yang sudah Arga pesan sebelumnya.
"Sayang kamu sudah pesan emangnya?" Ucap Nindi yang merasa ia belum memesan apa apa.
"Iya udah dong sayang...kamu nggak tahu sih aku main mata tadi sama chef nya..." Ucap Arga yang menggoda sang istri.
__ADS_1
"Apa!! kok bisa aku nggak tahu sih!? nggak usah bilang kalau cuma mau buat aku cemburu sayang...nggak semudah itu!" Ucap Nindi lagi yang membuat Arga kembli terdiam,karena Nindi terlalu cuek padanya.